Opini

Kira-Kira Inilah Penyebab Banyak Orang Indonesia Tak Percaya Pemanasan Global

Padahal dampaknya sering kita rasakan: udah susah menebak musim hujan sampai gagal panen. Apa perlu perubahan iklim dicampur pelajaran agama biar lebih dipercaya masyarakat ya?

oleh Adi Renaldi
13 Mei 2019, 8:55am

Kalau terus denial sama perubahan iklim, jangan kaget bila puluhan tahun lagi banyak penduduk Indonesia perlu mencari air ke sumur seperti dialami warga di Maros. Foto oleh Ahmed Tawil/Reuters

Ketika sebuah jajak pendapat menyimpulkan banyak responden asal Indonesia tak percaya perubahan iklim adalah akibat ulah manusia. Bahkan jumlahnya dibandingkan 23 negara lain sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari Amerika Serikat dan Arab Saudi. Melihat kesimpulan survei tersebut, seharusnya kita tak perlu terkejut.

Sebagai negara yang akrab banget sama dampak perubahan iklim, penduduk Indonesia—termasuk pemerintahnya—relatif tak punya kesiapan sama sekali menghadapinya. Perubahan iklim? Pemanasan global? Emisi karbon? Apa pula itu. Pernah mendengar istilah-istilah itu diajarkan di sekolah, saat kalian SMP atau SMA?

Isu besar yang disorot media lebih sering soal ucapan ngawur politikus atau debat agama, dibanding persoalan lingkungan. Berita soal perlunya mendorong DPR dan pemerintah serius mengurangi emisi karbon, bukan angle yang 'menjual' untuk menarik pageviews. Terus aja membahas agama. Sebab agama adalah isu terpenting bagi mayoritas penduduk Indonesia. Isu lain ke laut aja. Sikap politikus terhadap isu perubahan iklim sama menyedihkannya. Baik Joko Widodo ataupun Prabowo Subianto, calon presiden pemilu 2014 dan 2019, sama-sama menganggap remeh isu lingkungan.

Tak harus pergi ke Antartika buat melihat efek pemanasan global. Di Indonesia sejak 2009, petani sudah kesulitan mengandalkan ramalan cuaca, lantaran rutinnya anomali masa tanam. Ujung-ujungnya gagal panen menjadi fenomena yang sering terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Belum ada studi menyeluruh yang dapat menghitung kerugian akibat gagal panen di seluruh Indonesia. Namun, merujuk laporan Tempo, kerugian akibat satu kali gagal panen padi di seluruh Jawa Timur saja mencapai Rp3 triliun pada 2011.

Kegagalan panen itu cuma satu dari sekian banyak konsekuensi. Maklum, Indonesia adalah salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Dalam laporan versi World Resources Institute (WRI) 2014, Indonesia menduduki peringkat 6 dengan menyumbang 2,583 miliar ton emisi karbon ke udara.

Itu cuma segelintir bukti perubahan iklim yang dengan mudah ditemukan di internet atau bahkan di sekitar kita. Tapi ironisnya tak sedikit orang Indonesia yang justru tak percaya bahwa perubahan iklim itu sesuatu yang nyata.

Jajak pendapat lembaga riset dan analisis YouGov-Cambridge Globalism Project menyatakan 18 persen orang Indonesia yang mereka survei tidak percaya bila tindakan manusia adalah biang keladi perubahan iklim. Survei tersebut melibatkan 25.000 orang dari berbagai negara di Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika. Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah orang yang tak percaya perubahan iklim terbanyak. Posisi kedua diduduki Arab Saudi, diikuti Amerika Serikat.

Intinya, Indonesia punya masalah besar. Anak cucu terancam jadi gelandangan di dunia post-apokaliptik akibat maraknya bencana tapi kita tak percaya semua itu akan terjadi. Kira-kira, apa sih penyebab banyak orang Indonesia enggak percaya kalau manusia lah salah satu penyebab utama perubahan iklim?

Sosiolog kehutanan Niken Sakuntaladewi, yang bekerja untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan sebetulnya masyarakat mengalami langsung dampak perubahan iklim. Namun umumnya mereka tak memahami konsep perubahan iklim tersebut atau pemanasan global.

"Masyarakat mengalami kesulitan, bahkan tidak mampu lagi memprediksi kapan akan terjadi musim hujan, musim kemarau, atau pasang besar. Serta berapa lama musim tersebut akan berlangsung," kata Niken kepada VICE. Menurut Niken, perubahan iklim juga turut mempengaruhi pola perilaku masyarakat di daerah. Sebenarnya, asal ada sosialisasi massif bahwa apa yang mereka hadapi itu perubahan iklim, pasti masyarakat akan cepat mendukung inisiatif untuk menghambatnya.

Manajer kampanye iklim dari Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi), Yuyun Harmono mengatakan survei dari YouGov tersebut menjadi indikator meningkatnya skeptisisme dari kelompok climate change denial di Indonesia. Penyebabnya adalah minimnya pendidikan seputar isu lingkungan di sekolah, kata Yuyun.

Ironisnya, kata Yuyun, mereka percaya pemanasan global terjadi, namun manusia bukanlah penyebabnya. Padahal secara saintifik, ujar Yuyun, pertambahan suhu Bumi sudah meningkat 1 derajat celcius jika dibandingkan masa pra-Revolusi Industri.

"Survei tersebut merupakan temuan menarik. Sudah ada bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan secara sains, tapi persoalannya apakah kita mau percaya sains atau dogma bahwa ini adalah takdir yang harus dihadapi Bumi?"


Tonton kuliah umum VICE soal revolusi industri berikutnya serta dampaknya pada lingkungan planet kita:


Anak muda juga harus diajak memahami konsekuensi perubahan iklim. SMP atau SMA di Indonesia tampaknya perlu mewajibkan mereka nonton dokumenter terbaru Our Planet yang tayang di Netflix. Di situ digambarkan dengan jelas, bagaimana ratusan (atau jutaan?) anjing laut harus berdesak-desakan ketika berjemur di sebuah bongkahan es yang menyempit.

Bongkahan tersebut adalah destinasi favorit anjing laut, yang diprediksi bakal hilang dalam beberapa tahun ke depan. Puluhan anjing laut yang tak kebagian tempat berjemur, harus berjuang mendaki bebatuan terjal. Tak sedikit anjing laut yang menjemput maut karena tergelincir atau jatuh dari tebing.

Juru kampanye iklim Greenpeace Indonesia Didit Haryo, punya pendapat senada soal minimnya peran sektor pendidikan menjelaskan isu perubahan iklim. Menurut Didit, isu lingkungan saat ini tenggelam dalam percakapan publik yang masih berkutat di isu agama. Sayangnya, dalam diskursus populisme agama, isu lingkungan justru malah dikesampingkan.

"Jika isu perubahan iklim ini direlasikan dengan trend keagaman yang semakin kuat di masyarakat kita, problem perubahan iklim hanya akan dipandang sebagai takdir yang telah digariskan," kata Didit.

Selain sudut pandang fatalistik di masyarakat terhadap isu lingkungan, persoalan perubahan iklim masih dianggap sulit untuk dicerna. Dan ini, menurut Didit, yang menjadi pekerjaan rumah agar kepedulian masyarakat bisa dibentuk.

Mungkin penolakan sebagian orang Indonesia terhadap penyebab perubahan iklim ada hubungannya dengan salah satu studi dari Universitas Exeter.

Dalam sebuah studi yang terbit di jurnal Global Environmental Challenge pada 2017, misalnya, menunjukkan bahwa responden lebih menyukai isu seperti rasialisme dan gender ketimbang lingkungan. Alasannya, isu lingkungan dianggap terlalu politis dan gampang dipolitisir.Begitulah. Pekerjaan rumah bagi mereka yang peduli lingkungan di Indonesia sangat banyak. Sayangnya, sentimen mayoritas belum menganggap penting isu macam ini.

Mungkin kita memang harus menunggu padi punah, agar manusia Indonesia bisa sadar dampak perubahan iklim itu nyata.