Iklan
Hak Konsumen

Pengguna Adobe Terancam Dipidanakan Jika Masih Pakai Versi Lama Photoshop

"Anda tak lagi diizinkan menggunakan perangkat lunak kami," begitu bunyi email Adobe.

oleh Karl Bode
17 Mei 2019, 10:01am

Foto ilustrasi dari Shutterstock.

Pekan ini, Adobe mulai mengirimkan surat pemberitahuan kepada sejumlah pengguna Lightroom Classic, Photoshop, Premiere, Animate, and Media Director. Isi surat itu menyatakan konsumen tidak lagi diizinkan menggunakan perangkat lunak yang mereka miliki. Adobe tak lagi mendukung versi lama Creative Cloud, sehingga mereka menyarankan agar konsumen juga berhenti menggunakannya.

"Kami telah menghentikan dukungan aplikasi Creative Cloud versi lama. Oleh karena itu, Anda tak lagi diizinkan menggunakannya berdasarkan ketentuan perjanjian kami," bunyi surel Adobe. “Anda berisiko dituntut atas pelanggaran oleh pihak ketiga.”

Para pengguna tentu saja kurang antusias menerima pengumuman mendadak itu.


Perusahaan tidak memberi alasan jelas mengapa mereka menghentikan penggunaannya, tetapi akun Twitter Adobe mengindikasikan ada masalah “litigasi yang sedang berlangsung.” AppleInsider, yang pertama kali melaporkan pengumuman itu, merujuk pada gugatan hak cipta yang diajukan Dolby Labs tahun lalu.

Adobe telah beralih dari model perangkat lunak standar ke sistem langganan berbasis cloud sejak 2013. Langkah kontroversial ini menghasilkan pendapatan yang jauh lebih tinggi karena biaya berlangganannya pun lebih mahal. Dolby menuduh Adobe telah melakukan pelanggaran hak cipta terkait biaya lisensi yang akan dibayar Adobe ke Dolby setelah diberlakukannya model baru ini.

Adobe melayangkan pernyataan kepada Motherboard yang mengonfirmasi keaslian surat itu. Akan tetapi, mereka tidak memberikan detail tambahan dari pemberitahuannya.

Hal ini menunjukkan betapa produk yang dibeli di zaman modern tak sepenuhnya kita miliki, dan kita tidak mungkin bisa menggunakannya apabila perangkatnya tak lagi berfungsi. Konsol game sekalipun dapat kehilangan fitur setelah firmwarenya diperbarui atau produknya tiba-tiba tidak tersedia. Masalah tersebut nyatanya semakin meningkat di era serba online seperti sekarang ini.

Dylan Gilbert, pakar hak cipta yang bekerja untuk Public Knowledge, mengatakan pengguna cenderung tak siap ambil jalur hukum karena perubahannya sangat tiba-tiba.

“Kecuali Adobe telah melanggar ketentuan perjanjian dengan penghentian dukungan mendadak bagi versi lamanya, itu berarti pengguna tak bisa apa-apa selain menanggungnya,” tutur Gilbert.

Gilbert berujar konsumen sekarang hidup di dunia di mana mereka tidak benar-benar memiliki apa pun yang ada hubungannya dengan perangkat lunak. Dewasa ini, pengguna dipaksa menyetujui perjanjian lisensi pengguna akhir (EULA). Dengan perjanjian tersebut, pemegang lisensi dapat mengubah ketentuan layanan tanpa pemberitahuan.

“Bahkan jika Adobe terbukti benar dalam kasus Dolby, mereka berwenang memaksa penggunanya meningkatkan ke versi lebih baru yang mahal. Ini menggambarkan betapa EULA berpengaruh dalam hidup pelanggan mereka walaupun wewenang itu tidak pada tempatnya,” terang Gilbert. “Kita seharusnya berhak memiliki apa yang telah kita beli.”

Aktivis, penulis, dan pakar hak cipta Cory Doctorow mengamini pendapat Gilbert. Lewat email kepada Motherboard, pemikiran semacam ini semakin meresap ke banyak sektor, termasuk media berbasis DRM, perangkat lunak sebagai layanan, dan game client-server.

Baik Doctorow maupun Gilbert memperhatikan perubahan ini bisa menjadi masalah bagi seniman dan kreator, yang tak mau data proyeknya hilang dengan mengganti ke versi baru yang mungkin berisi bug.

"Konsumen memang rentan terhadap risiko tak terduga ketik piranti yang dibeli hanya untuk disewa dan bukan dimiliki," kata Doctorow. "Hak-hak hukum konsumen ditentukan ‘kontrak’ pertama Anda pilih saat pertama kali menggunakan. Itu berarti Anda setuju tidak memiliki hak hukum apa pun."

Pakar hak cipta menduga pengaturan aneh ini tidak akan berubah dalam waktu dekat, sehingga pengguna harus ekstra hati-hati sebelum membeli suatu produk. Jangan sampai mereka terjebak perusahaan yang suka melakukan apa pun tanpa persetujuannya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard