Iklan
Menelusuri Kratom

Dilema Kratom: Berkah Buat Petani Indonesia, Diharamkan BNN dan Amerika

Indonesia merupakan eksportir kratom terbesar ke pasar mancanegara. Tanaman ini bisa jadi ramuan penenang herbal. Namun legalitasnya jadi sorotan, dianggap bikin kecanduan mirip mariyuana.

oleh Adi Renaldi
09 Juli 2019, 2:00am

Ilustrasi petani kratom [kiri] dari arsip dokumenter VICE; daun kratom yang telah diulah jadi bubuk [kanan] via akun Flickr

Sekilas tak ada yang istimewa dari tanaman kratom. Daunnya hijau muda berkelir merah. Tinggi pohonnya mencapai dua meter. Kratom masih keluarga kopi, termasuk tanaman tropis endemik yang cuma bisa ditemukan di Aceh, Kalimantan, Malaysia, Filipina, Thailand, serta Papua Nugini.

Belum ada catatan sejarah yang menunjukkan kapan kratom mulai dikonsumsi. Tapi manfaatnya sudah banyak dikenal orang sejak dulu. Daunnya bisa langsung dikunyah. Atau jika mau, ditumbuk hingga halus dan diseduh mirip teh. Rasanya satu-satunya hal yang buruk dari kratom. Pahit bukan kepalang.

Kratom, pendek kata, adalah daun ajaib. Ia konon punya efek menenangkan sekaligus pengurang rasa sakit. Khasiatnya dikenal sebagai obat herbal buat kelelahan, insomnia, dan anti-inflamasi. Konon pula, kratom bisa membantu mengurangi kecanduan narkoba.

Lima tahun terakhir, terlepas dari manfaatnya yang kesohor, kratom jadi perdebatan nyaris tak berujung. Di satu sisi, kratom adalah sandaran hidup bagi puluhan ribu petani di beberapa provinsi Pulau Kalimantan. Saat harga karet dan sawit turun, para petani itu berbondong-bondong berganti menanam kratom. Harga sekilo kratom lumayan mahal, satu kilonya mencapai Rp420 ribu. Maklum, permintaannya tinggi terutama di Amerika Serikat, sebagai pangsa pasar terbesar kratom.

Dari data Asosiasi Kratom Amerika Serikat, ada lima juta pengguna kratom saat ini. Sementara data dari Botanical Education Alliance mengungkap ada 10.000 vendor kratom di AS pada 2016. Nilai pasarnya mencapai US$1 miliar. Angka itu disinyalir bakal terus bertambah jika tak ada aral melintang.

Di Kalimantan Barat—salah satu provinsi penghasil kratom terbesar di Indonesia—puluhan ton kratom diekspor ke Amerika Serikat saban bulan. Tahun lalu, data Kantor Pos di Kota Pontianak mencatat 90 persen kiriman luar negeri adalah bubuk kratom. Tak cuma jadi andalan ekspor. Di hampir setiap warung kopi, seduhan kratom menjadi primadona dengan harga puluhan ribu rupiah.

Di sisi lain, pemerintah saat ini tengah mengkaji untuk mengharamkan kratom. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan kratom mengandung opioid, alkaloid mitraginin dan 7-hydroxymitragynine. Sederhananya, kratom divonis menyebabkan kecanduan.

"Penggunaan dalam jumlah kecil bersifat stimulan atau sama seperti kokain, tetapi penggunaan dosis besar bersifat opioid atau sama seperti morfin heroin," kata Sekretaris Utama BNN Adhi Prawoto dilansir Antara. "Ini lebih berbahaya jika dibandingkan dengan morfin, tanaman kratom sudah direkomendasikan oleh komite perubahan penggolongan narkotika dan psikotropika oleh Menteri Kesehatan sebagai golongan 1 narkotika."

Saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur larangan perederan kratom. Namun BNN sudah menerapkan sosialisasi dan imbauan agar petani mengganti kratom dengan tanaman komoditas lain dalam waktu lima tahun mendatang, sembari menunggu penetapan regulasi kratom.

Imbauan BNN untuk pelan-pelan menghentikan perederan kratom akhirnya berimbas ke bisnis ekspedisi. Pos Indonesia misalnya, sejak Oktober 2018, tak lagi melayani pengiriman kratom. Perusahaan logistik pelat merah tersebut kehilangan omzet Rp10 miliar per bulan.

Popularitas kratom di Amerika Serikat membuat badan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika (FDA) gusar. Lembaga itu mengklaim kratom menyebabkan 44 kematian akibat overdosis sepanjang 2017. Saat ini AS belum memiliki regulasi pasti soal kratom, namun FDA telah berulangkali melancarkan aksi dengan memberi surat peringatan kepada perusahaan importir, menyita, sampai menarik produk olahan kratom yang masuk ke negaranya.

Menurut C.M Haddow dari American Kratom Association, salah satu penyebab BNN terburu-buru menetapkan periode transisi selama lima tahun tersebut muncul karena desakan dari FDA. Haddow bilang, dikutip Inverse.com bahwa, “petinggi FDA mendesak Kementerian Kesehatan Indonesia untuk membantu pelarangan kratom.” FDA telah membantah klaim Haddow tersebut.


Tonton dokumenter VICE menyoroti pemakaian ketamine sebagai perawatan alternatif depresi:


Sejauh ini belum ada laporan atas kasus kematian karena kratom di Indonesia. Tapi yang jelas, kratom telah mampu menghidupi puluhan ribu petani dari Aceh hingga Kalimantan. Di Kabupaten Kapuas Hulu—salah satu daerah penghasil kratom terbesar di Kalimantan—taraf hidup warga meningkat, setelah harga komoditas andalan karet tak kunjung naik. Sementara karet tak memberikan kepastian, industri kratom menawarkan peluang. Karyawan bidang pengepakan bisa mengantongi gaji Rp1.2 juta per bulan.

Tak pelak, kebijakan pemerintah lewat BNN membuat pengusaha kratom ketar-ketir. Abdul Hamid, pengurus Asosiasi Pengusaha Kratom Indonesia, mengharap pemerintah memberi waktu 10 tahun, sembari dilakukan penelitian komprehensif yang bisa menentukan kandungan ataupun efek samping kratom. Imbas dari imbauan BNN tersebut, budidaya tanaman kratom menurun setahun terakhir. Pengusaha kini memilih mengurangi produksi, hingga ada kejelasan status hukum dari pemerintah.

"Bagaimana kita mau meningkatkan perekonomian masyarakat, apabila daun kratom harus dilarang. Maka dari itu, kami sebagai pengusaha akan terus berjuang bagaimana pemerintah mempertimbangkan supaya daun kratom tidak dilarang," kata Hamid kepada VICE.

Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan, dikutip awak media, mengatakan selama ini belum ada penelitian dan uji saintifik terhadap kratom, sehingga larangan terhadap produksi dan konsumsi kratom tak memiliki landasan sama sekali. Daniel juga mengatakan, larangan tersebut nantinya justru akan menyia-nyiakan komoditas negara.

"Pemerintah jangan main melarang tanpa melakukan penelitian profesional secara mendalam dan final, itu sama saja membuang harta bangsa sendiri, ujung-ujungnya nanti Indonesia hanya sebagai pengimpor produk jadi dari daun kratom ini," kata Daniel.

Efek kratom sepertinya tak cuma dirasakan di badan, buat kehidupan sehari-hari warga Kapuas Hulu seperti Hamid, kratom adalah berkah.

"Dulu tanaman karet yang memberikan rezeki ke warga. Sekarang kratom yang membuat warga lokal mampu membeli mobil dan motor serta membayar biaya sekolah anak," kata Hamid.

"Ini adalah pekerjaan terbaik di tempat kami."

Tagged:
indonesia
FDA
kratom
Berita
Kalimantan
Narkoba
Obat Herbal
Tanaman Bermanfaat