Distopia dan Utopia

Lestarinya Ide Membangun Kota Mandiri Untuk Kabur dari Kesumpekan Jakarta

Proyek macam Meikarta menawarkan alternatif yang berulang kali dieksploitasi pengembang. Mereka berjanji membahagiakan warga Jakarta yang bosan sama hiruk-pikuk ibu kota. Semanis apa janji itu sebenarnya?

oleh Sattwika Duhita
20 April 2018, 9:12am

Semua foto oleh Dicho Rivan.

VICE Indonesia merilis rangkaian cerita mengenai orang atau kelompok yang mencari surga di bumi, bersamaan dengan tayangnya VICE Magazine Edisi Dystopia and Utopia. Untuk artikel kali ini VICE mengangkat cerita tentang kota impian yang sedang dibangun, dengan agenda menjadi solusi tempat tinggal baru bagi penduduk Ibu Kota. Dalam artikel sebelumnya, kami mengangkat profil Komunitas Eden yang berusaha memperjuangkan kebebasan beragama jelang kiamat, ustaz yang percaya Indonesia menyimpan peninggalan Nabi Sulaiman, serta ambisi tinggal di pulau terpencil tanpa piranti modern.


Ketika mobil yang saya tumpangi memasuki gerbang kawasan kota impian itu, pepohonan terlihat belum lama dibabat. Sebagai ganti pohon, berdiri tiang-tiang besi kerangka bangunan. Mobil traktor lalu-lalang, keluar masuk area pembangunan, sibuk menggilas dan mengeduk tanah merah. Dari area 84,6 hektar yang rencananya hendak dibangun, baru satu bangunan tinggi yang sudah berdiri utuh. Sisanya masih berupa kerangka. Bahkan, beberapa area masih berupa tanah kosong.

Tak jauh dari area itu, terdapat sebuah danau buatan yang dihiasi patung-patung kartun Mickey tikus KW hingga jerapah. Air danau masih keruh. Walau belum cantik betul, beberapa warga sekitar tampak berfoto dengan latar belakang danau di atas jembatan yang melintasinya. Angin panas yang berembus kencang membawa serta debu dan kerikil tepat ke wajah.

Dengan gedung yang masih berupa kerangka, danau yang airnya masih keruh, serta suasana yang gersang, saya jadi bertanya... inikah masa depan cerah itu?

Sebelum berkendara nyaris tiga jam melewati tol, saya mengira akan mendapati kompleks hunian yang memberi janji kebebasan dari macet, polusi, dan infrastruktur yang buruk. Merujuk brosurnya, kita dijanjikan bakal hidup di sebuah wilayah serba canggih, dikelilingi kantor-kantor perusahaan teknologi kelas wahid.

Namanya Meikarta. Sebuah lokasi yang menjanjikan utopia 180 derajat dibanding Jakarta, bisa kalian tempuh dari jalan tol.

Punya rumah sendiri yang besar dan bagus di lolakasi macam itu kayak di game the Sims. Jelas itu layak jadi impian. Sayangnya, saya enggak setajir Bill Gates, dan enggak bisa pakai cheat untuk nambah duit seperti di the Sims. Maka, saat mendengar kabar kalau segera hadir sebuah kota mandiri murah di selatan Cikarang, Bekasi, saya dan segenap kaum kelas menengah ngehek Jabodetabek yang dibombardir iklan di segala media selama sebulan penuh mendadak geger.

Dalam jangka waktu lima tahun dari sekarang, pengembang Meikarta berjanji mendirikan hunian apartemen mewah nan terjangkau, diklaim sebagai kota mandiri merangkap pusat perekonomian se-Asia Tenggara dilengkapi teknologi mutakhir.

Sejujurnya, saya penasaran dengan konsep kota baru nan futuristik itu. Kalau boleh dibilang, proyek ini begitu ambisius, mulai dari segi konsep perkotaan, luas lahan, hingga ihwal perizinan. Saking ambisiusnya, izin belum semuanya kelar pun tower hunian tetap lanjut dibangun. Mantab!

Untuk menuntaskan rasa penasaran, saya bergegas menuju Meikarta marketing gallery yang berlokasi di pintu keluar tol Cibatu. Dari selatan Jakarta menuju ke Meikarta jalanan macet parah. Setibanya di galeri Meikarta, saya bertemu dengan pegawai bagian pemasaran, Rudi dan Wandi. Saya diajak menuju lobi besar, lengkap dengan ratusan deret sofa. Di salah satu sudut, terpampang papan digital bertuliskan, “ratusan ribu unit sudah terjual!

“Itu teh serius Mas sudah terjual ratusan ribu unit?” tanya saya.

“Benar, Ibu. Makanya ayo cepetan beli hehehe,” jawab Rudi.

Rudi bilang, Meikarta akan menjadi jawaban bagi saya, si kelas menengah yang ingin punya hunian pribadi dengan harga terjangkau. Ia mengklaim, di akhir 2017, penjualan hunian vertikal di proyek terbesar Lippo Group tersebut sudah dibeli nyaris 150 ribu calon penghuni.

Digarap dan diresmikan oleh Lippo Group pada Agustus 2017 lalu, kawasan Meikarta yang luasnya 500 hektar itu hadir dengan iming-iming solusi bagi para rakyat Jakarta yang sudah muak dengan banjir dan macet ibu kota. Dalam tayangan iklannya, Meikarta digambarkan terang benderang--mungkin Matahari bersinar tiap waktu di sana--lengkap gedung pencakar langit dan pusat kota bernuansa internasional.

“Nantinya, central park Meikarta ini akan terasa kayak di luar negeri. Kalau nuansa Jepang itu kayak kita di negara Jepang, nanti kalau Eropa ya nanti ini interiornya pun seperti di Eropa,” katanya.

Tak tanggung-tanggung, jargon “the future is here” disuarakan melalui beragam media promosi. Seluruh tawaran ini dengan ‘mudahnya’ memikat hati rakyat sekitar Bekasi dan Jakarta. Selain saya, ada Andrew Ryan yang begitu tertarik dengan Meikarta. Hanya saja, ia selangkah di depan; Andrew sudah membeli satu unit di Meikarta. Harga murah, ditambah dengan tawaran fasilitas serba ada menjadi alasannya memilih Meikarta. Tak hanya itu, Andrew juga melihat peluang berbisnis dengan cara menyewakan unitnya bagi mereka yang ingin tinggal di Cikarang.

“Gue bayar booking fee Rp2 juta, DP nyicil 6 kali sebesar Rp 900 ribuan abis itu lanjut Kredit Pemilikan Apartemen 15 tahun, Rp1,4 juta per bulan. Gue sewain ke orang buat bayar cicilannya,” kata Andrew saat dihubungi VICE. Dalam hitungannya, uang sewa Rp1,4 juta untuk fasilitas apartemen cukup mewah di bilangan Cikarang tersebut masih masuk akal dan sesuai dompet kelas menengah sekitar Jakarta-Bekasi-Cikarang bergaji RP5-7 juta per bulan.

Iming-iming tentang keindahan kota mandiri dihadirkan dalam 10 alasan mengapa memilih Meikarta yang tersurat dalam brosur promosinya, mulai dari harga terjangkau kualitas internasional, desain arsitektur standar internasional, manajemen standar internasional, terbebas dari kemacetan, lingkungan yang aman dan nyaman, kota baru dengan sejuta kesempatan, pusat area bisnis dan komersial, pusat pertumbuhan ekonomi se-Asia Tenggara, didukung dengan teknologi canggih dan modern, dan….dijuluki kota internasional yang menarik perhatian dunia.

Selain 10 janji manis itu, Meikarta juga menawarkan enam infrastruktur baru, yakni Pelabuhan Patimban, Bandara Internasional Kertajati, kereta cepat Jakarta-Bandung, LRT Cawang - Bekasi Timur - Stasiun Cikarang, belum termasuk monorail yang menghubungkan enam kawasan industri, plus jalan layang Jakarta-Cikampek.

Manis betul bukan semua janji ini? Jika memang benar terwujud, Meikarta kayaknya bisa menjadi kota mandiri yang digilai oleh segenap rakyat Indonesia. Niscaya roda perekonomian Tanah Air ini akan merebak ke tanah perjanjian Meikarta di selatan Cikarang. Praise the Lord!

Namun, jangan senang dulu. Pasalnya, Meikarta masih tersandung kelindan masalah—tidak cuma tentang perizinan—terkait konsep kota dan segenap ekosistemnya. Pakar tata kota Nirwono Yoga menyebutkan, Meikarta menurut Badan Pertanahan Nasional bahkan belum masuk dalam rencana tata ruang di Kabupaten Bekasi.

“Ini menjadi contoh yang kurang bagus. Dalam ilmu tata kota, sebagus apapun desain kalau sejak awal rencana tata ruangnya aja belum ada izinnya, tapi kita sudah langsung melakukan pembangunan, maka sulit menjadi contoh yang bagus. Sejak awal kok rencana tata ruang sudah tidak dipatuhi,” ungkap Nirwono.

Kami berusaha menghubungi Direktur Komunikasi PT Lippo Karawaci Tbk Danang Kemayan Jati sepanjang 17-19 April 2018 untuk menanyakan tanggapan Lippo atas hal ini, namun telepon maupun pertanyaan yang kami kirim via whatsapp tak berbalas meski sempat direspon. Sementara saat dikontak rumah.com, CEO Lippo James Riady membantah pihaknya belum menyesuaikan tata ruang. "Lippo Cikarang sudah berada di sana sejak 28 tahun lalu dan sudah berkembang 4 sampai 5 ribu hektare," ujarnya.

Masalah lain, menurut Nirwono, justru muncul ketika Meikarta menawarkan kemudahan bagi para penghuninya untuk menggapai Jakarta dengan lebih cepat. Kemudahan akses ini dihadirkan dalam akses LRT hingga jalan layang Jakarta-Cikampek. Dengan demikian, Meikarta tak ubahnya kota-kota satelit lain yang stagnan dan akhirnya gagal mencapai impiannya menjadi kota mandiri sebab masih bergantung pada kota pusat Jakarta.

“Hubungan kita ini semakin menjauh dari pusat kota, tetapi sebenarnya mereka sangat tergantung dari kota pusatnya. Kalau sampai sekarang seperti itu Meikarta hanya mengulangi kesalahan dari kota baru yang ingin menjadi kota mandiri. Bumi Serpong Damai kan tadinya kota mandiri, tetapi faktanya sebagian besar orang BSD kerja ke Jakarta,” kata Nirwono.

Hal lain yang disoroti oleh Nirwono adalah ‘ketidakpekaan’ pengembang terhadap budaya masyarakat Indonesia yang merasa lebih nyaman dan tenang bila tinggal di rumah tapak tanah. Di sisi lain, upaya rekayasa sosial untuk merekonstruksi budaya masyarakat Indonesia di hunian tapak tanah menuju hunian vertikal masih minim.

“Tidak ada social engineering dari masyarakat maupun pengembang untuk mengedukasi masyarakat bahwa karena keterbatasan lahan, maka kita harus mulai terbiasa tinggal di hunian vertikal. Semua tiba-tiba dipaksa pindah ke hunian vertikal. Padahal itu kan ada budaya yang berubah. Itu yang sama sekali belum tersentuh, seolah-olah kita sudah siap tinggal di hunian vertikal,” lanjut Nirwono.

Sudah cukup pelik? Tunggu, kita baru bicara dari sisi akses, infrastruktur, dan budaya. Bagaimana dengan klaim Meikarta menjadi pusat perekonomian se-Asia Tenggara?

Menilik brosur promosinya, Meikarta pede menjadi pusat perekonomian sebab wilayahnya “dikelilingi berbagai kawasan industri dan perusahaan multinasional yang termasuk dalam daftar Fortune 500 Companies. Namun sayangnya, Lagi-lagi, klaim ini bisa-bisa hanya janji manis belaka jika Meikarta gagal memindahkan ‘kota pusat’ yang semula di Jakarta ke kawasan mandirinya.

“Sistem kita masih sentral ke Jakarta; kantor pusat masih di Jakarta, urusan rapat aja masih harus ke Jakarta. Kalau untuk seperti itu, nanti kita akan mengulangi kesalahan yang sama. Yang harus diperjelas sekarang pusat perekonomian Meikarta itu dalam bentuk apa? Itu kotanya Meikarta, atau industri di sekitarnya,” lanjut Nirwono.

Tak hanya tentang industri yang mengelilingi, sebuah kota mandiri dapat menjadi pusat perekonomian jika kawasannya turut difungsikan sebagai ‘pusat pemerintahan’. Pertanyaannya, bisakah beberapa bangunan pemerintahan atau perusahaan berlokasi di wilayah Meikarta? Jika tidak, Nirwono merasa arus penghuni, lagi-lagi, akan ke Jakarta. "[Adanya gedung pemerintah dan perusahaan] diperlukan untuk membangkitkan pusat perekonomiannya tadi,” tandasnya.

Toh, janji manis Meikarta kadung memikat konsumen. Selain Andrew, siang itu saya bertemu Angga, calon pembeli lain.

Dia sempat gundah saat dengar berita tentang perizinan Meikarta yang masih bermasalah. “Awalnya mikir karena denger gosip ini itu,” katanya.

Nama besar pengembang Lippo, menurutnya, membuatnya optimis proyek ini akan menguntungkannya, lepas kemungkinan utopia sebagai kota modern sekian tahun lagi bakal terwujud atau tidak, di atas lahan Meikarta. "Faktor yang membuat saya yakin kalau investor meikarta tidak hanya Lippo tunggal," kata Angga.

Saat berkunjung langsung ke kawasan Meikarta yang masih berupa lahan kosong, Angga semakin mantab membeli unit di sana. Bagi Angga, jaminan itu berupa pondasi riil utopia bernama Meikarta, yang sedang dikebut buruh siang-malam. "Pas saya lihat langsung, saya jadi tertarik. Karena Meikarta benar-benar ada."

Bersama 150 ribu pembeli unit apartemen di Meikarta lainnya, Andrew dan Angga adalah sebagian kecil penghuni Ibu Kota segera ingin pindah ke utopia.