Foto via  Instagram

Meredefinisi Arti Kecantikan Lewat Make Up Ekstrem ala Aryuna Tardis

“Setiap tampilan mewakili cerita atau situasi yang saya alami,” kata Aryuna Tardis.

|
Mei 4 2018, 11:00siang

Foto via  Instagram

Aryuna Tardis adalah dewi kecantikan. Ia bilang begitu di Instagram-nya dan dia memiliki 68,5k pengikut untuk mengamini ucapannya itu. Saat kecil Aryuna selalu merasa terasing. Orang tuanya berasal dari Buryatiya—bagian Asia dari Rusia—tetapi mereka pindah ke bagian Eropa, tepatnya di Petropavlovsk Kamchatsky, ketika Aryuna masih kecil. Jadi dia tidak benar-benar terlihat seperti orang-orang di sekitarnya, yang membuatnya merasa sangat terisolasi. Karena dia tak ingin menyesuaikan diri dengan pakem, sebaliknya dia secara aktif menghancurkannya.

Pertama-tama, dia muncul dengan krim pekat berwarna putih, lalu mata hitam emo, diikuti oleh busi telinga, tato, tindikan dan dia mewarnai rambutnya dengan setiap warna pelangi. Dia tak sedang memodifikasi tubuh, dan sekarang menghabiskan waktunya bereksperimen dengan make-up.

Untuk Aryuna, soal tampilannya di Instagram, tidak ada tampilan terlalu besar atau terlalu tebal atau terlalu subversif. Makeup membuat empat mata? Tentu saja. Lady of the Lake versi glamor? Kenapa tidak! Bahkan, penampilannya sangat berani sampai-sampai brand kecantikan L'Oreal menobatkannya sebagai salah satu Colorista Ambassadors. Sebagai contoh supaya kita semua berhenti bermain sesuai aturan, di sini dia menawarkan pendapatnya tentang kecantikan.

“Memori kecantikan saya yang paling awal adalah saat ibu saya membelikan saya alas krim karena dia lelah saya selalu meminjam kosmetiknya. Saya menggunakan krim untuk membuat kulit saya terlihat sangat pucat. Ditambah pensil mata hitam, itu adalah makeup pertama yang saya gunakan.

Saya ingat pertama kali saya mewarnai rambut saya dengan warna merah. Itu sebabnya adalah video musik Paramore untuk Crushcrushcrush. Saya ingin terlihat seperti Hayley Williams. Saya hampir dikeluarkan dari sekolah karena rambut merah saya. Kepala sekolah saya mengatakan itu terlalu memprovokasi. Ironisnya cucunya dia sekarang malah follow saya.

Saya menghabiskan sebagian besar masa kecil saya di sekitar orang-orang yang tampak seperti orang Eropa, yang membuat saya merasa kesulitan membaur. Mata saya memiliki bentuk yang berbeda dengan mereka, pipi saya, wajah saya secara umum. Saya mencoba melarikan diri darinya, yang membawa saya ke jurnal modifikasi saya. Semuanya harus berubah. Saya mengekspresikan emosi, ketakutan, dan ketidakamanan saya melalui setiap tindikan atau tato. Perlahan-lahan saya mulai merasa lebih percaya diri dan bebas.

Saya belum bikin tato baru selama tiga tahun belakangan, dan saya belum merasa perlu. Saya tidak pernah melakukan apapun hanya karena trendi atau keren, melainkan itu adalah cara saya mengusir emosi yang menyakitkan. Saya hanya ingin mengekspresikan diri. Orang-orang mengirim pesan pada saya soal betapa kerennya saya, saya selalu mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama—ekspresikan dirimu dan jadilah dirimu yang sejati.

Saya memposting banyak tampilan berbeda di Instagram. Setiap tampilan mewakili cerita atau situasi yang saya lalui. Masing-masing memiliki nama, seperti karya seni lah, dan saya membagikannya di Twitter dan YouTube. Segala sesuatu dalam diri saya, seluruh dunia batin saya, tercermin melalui mereka. Biasanya setiap gambar didedikasikan untuk seseorang.

Saat ini, ada banyak orang yang mirip, yang amat disayangkan. Saya selalu menghargai individualitas dan keunikan. Keragaman sangat penting, kamu harus mampu merasa baik dengan diri sendiri tidak peduli siapa kamu atau seperti apa penampilanmu. Industri ini akhirnya mulai menerima orang-orang apa adanya—dan ini luar biasa. Semoga terus begini.”

Artikel ini mulai tayang di i-D UK.

More VICE
Vice Channels