Iklan
supranatural

Saya Ngobrol Bersama Arwah Mencari Tahu Apa Yang Terjadi Setelah Kita Mati

Dari penjelasan orang-orang yang sudah meninggal itu, seorang cenayang berbagi teori tentang apa yang terjadi setelah manusia dikuburkan.

oleh Jessica Lanyadoo
17 Desember 2018, 12:14pm

Foto ilustrasi kuburan dari akun Flickr Society of Swedish Literature 

Sebelumnya, aku mau bilang kalau aku enggak benar-benar tahu apa yang akan terjadi ketika kita meninggal. Akan tetapi, aku setikdanya punya gambaran sekarang karena sering ngobrol dengan orang yang sudah meninggal.

Begini, aku seorang cenayang. Aku bisa mendengar, melihat dan merasakan keberadaan makhluk halus. Pengalamannya enggak mengerikan, kok. Kalau dipikir-pikir lebih mirip film Ghost yang diperankan Whoopi Goldberg (ketika dia tidak menipu orang). Kalian mungkin menganggapnya aneh, tapi aku merasa biasa-biasa saja dengan semua ini.

Aku pernah ngomong dengan roh laki-laki yang mendatangiku untuk memberikan saran berpakaian kepada temanku Sahar. Dia diminta berbicara di acara memorial laki-laki tersebut di Oakland. Sahar membawa sepatu modis yang tidak nyaman dipakai. Roh tersebut ingin menegurnya untuk pakai sepatu biasa saja. (Lelaki itu sebenarnya sangat bijaksana, tapi masalah sepatu ini benar-benar mengusik Sahar karena dia sering ngomongin sepatu Sahar semasa hidupnya.)

Tak peduli apa kata orang lain, satu hal yang pasti adalah kita mati setelah meninggal. Siapa pun yang berpandangan berbeda pasti hidup dengan angkuh. Aku enggak bisa bilang aku paham, tapi aku sangat yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagiku, tidak ada yang namanya kematian. Maksudnya, iya kita mati. Tubuh berhenti berfungsi, dan jiwa meninggalkan tubuh kita. Aku menyadari itu. Namun, bagiku, bukan jiwa yang berada di dalam tubuh. Tubuh lah yang hidup di dalam jiwa kita. Jadi, jiwa kita akan tetap mengembara meskipun tubuh sudah selesai menjalankan tugasnya di dunia. Kita sangat mudah terjebak dalam pikiran manusiawi ketika memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi seperti yang dikatakan Gertrude Stein: “there is no there there.”

Sebagai cenayang, tugasku bukan melacak keberadaan makhluk halus untuk menanyakan apa yang mereka lakukan “di sana.” Aku hanya mengobrol dan membantu mereka. Aku juga sering menjadi perantara antara mereka dan orang yang masih hidup. Mereka sering menunjukkanku bagaimana rasanya ketika meninggal atau masa-masa bahagia mereka. Ngobrol dengan roh sama normalnya seperti kita berbincang dengan manusia biasa. Kadang santai, kadang serius juga. Rasanya kayak ngobrol dengan orang tanpa tubuh. Dengan kata lain, aku melihat dan mendengarkan mereka dengan seluruh diriku, bukan hanya mata dan telinga saja.


Tonton dokumenter VICE menyoroti kampung di Filipina yang warganya hidup dalam komplek kuburan besar, dan biasa tinggal bersama tulang belulang:


Waktu pertama kali menjadi cenayang, ada perempuan yang mendatangiku karena dia merasakan kehadiran arwah neneknya di rumah. Dia yakin kalau neneknya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Aku pergi ke rumah Thelma (nama asli disamarkan) dengan penuh semangat, dan memang merasakan kehadiran neneknya (sebut saja Louise) di sana.

Neneknya ngotot ingin menyampaikan pesan kepada cucunya, dan aku amat terkejut mendengarkan ucapannya. “Ambil uang suamimu sampai habis. Lakukan sekarang!” katanya. Aku awalnya enggak mau kasih tahu Thelma, karena dia sangat menyayangi neneknya dan berharap mendapat pesan menyentuh. Tapi, aku tidak berhak mengubah isi pesan yang kuterima, jadi aku memberi tahu Thelma apa adanya.

Dia langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya. Nenek Thelma ternyata terobsesi dengan uang, dan kakeknya menghabiskan uang tabungan mereka untuk berjudi. Louise tak pernah bisa melupakan ini bahkan setelah meninggal, maka dia mendatangi cucunya hanya untuk menyuruh Thelma mencuri uang suaminya. Dari sini, kita bisa melihat kalau nilai-nilai, gairah, dan segala hal yang melekat pada diri akan terus bersama kita ke manapun kita pergi.

Kalau selama hidup kamu brengsek, setelah mati pun, kamu tetap orang brengsek. Kalau kamu mati penuh rasa kesalahan, rasa itu akan mengikutimu. Seperti semua pengalaman transformatif, kematian bisa menjadi penebusan dosa atau penyembuhan, tapi ini bukan jaminan. Pikirkan setiap saat kamu merasa kamu bisa mencapai kedamaian, kebebasan, atau bahkan cuman istirahat, tapi kamu tidak bisa mengklaimnya. Mengambil inisiatif itu enggak gampang, dan kamu harus percaya kamu berhak menjalankan hidupmu dengan baik.

Istilah Surga dan Neraka sebagai lokasi fisik yang menawarkan kedamaian dan hukuman materiil hanya merupakan konsep yang mudah dipahami, tapi setahuku, tanpa bentuk fisik, ya enggak ada yang namanya tempat. Secara teknis, kita bukannya pergi kemana; dan tanpa patokan mengenai dimana, unsur kapan menjadi sebuah dimensi yang semakin susah diukur. Ini tidak romantis, tidak selalu menyenangkan atau buruk, pokoknya tidak gampang digambarkan. Seperti kehidupan. Karena itu memang bagian dari kehidupan, tapi pengalaman kehidupan yang berbeda. Hal ini susah dibicarakan karena sebagai makhluk fisik, kita hanya memiliki bahasa dan konteks pengertian kenyataan fisik. Bahasa adalah hal fisik, yang membuatnya susah untuk menghindari klise ketika membicarakan hal seperti ini. Kalau kamu bingung, ingat saja ini: Kita lebih dari sekedar tubuh kita.

Aku pernah ngobrol dengan banyak sekali orang yang sudah meninggal dan menyesal berkompromi tidak mengejar mimpi mereka demi menyenangkan orang lain, lalu kemudian menyesalinya. Yang kupelajari dari itu adalah bahwa kita harus berhenti mencoba menjadi orang lain. Jangan bego deh, lakukan apa yang seharusnya kamu ditakdirkan untuk lakukan.

Setelah sebuah roh menggugurkan tubuhnya, dia akan memasuki “fase kepompong,” dimana dia terinsulasi, terlindungi, dan aman. Ini sebuah fase yang mengizinkan kita untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan melepaskan kehidupan fisik yang baru kita tinggalkan.

Siklus ini rupanya lebih mudah bagi anak-anak, orang yang berdamai dengan spiritualitas kematian, dan mereka yang sudah tahu mereka akan meninggal. Karena tubuh itu tidak ada, maka waktu juga tidak ada, jadi seberapa lama sebuah roh menetap di fase ini tidak penting. Kamu akan menetap di situ selama kamu menetap di situ.

Untuk memahami konsep ‘tidak ada waktu,’ bayangkan seperti kamu memikirkan mimpi; kamu bisa ketiduran selama 15 menit dan pas kamu bangun, mungkin kamu merasa kamu sudah tidur berjam-jam. Atau mungkin kamu bisa tidur delapan jam penuh dan pas kamu bangun, kamu merasa hanya beberapa menit telah berlalu. Ketika kamu tidak berada dalam tubuhmu, waktu menjadi hal berbeda karena waktu adalah konsep duniawi. Tapi kamu enggak harus percaya juga dengan ucapanku; tanya saja kepada kumbang kecil.

Atau seekor anjing. Masa hidup mereka masing-masing sangat berbeda dengan satu sama lain dan dengan kita. Jadi tidak usah memikirkan seberapa lama sebuah roh bisa nongkrong di fase ini karena waktu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Berdasarkan pengalamanku, saat seseorang memasuki fase kepompong ini, mereka belum bisa berinteraksi, dan orang yang mereka cintai belum bisa merasakan kehadiran mereka. Seperti sebuah perawatan spa untuk roh dengan tulisan “jangan diganggu” di pintu. Roh tersebut bukannya tidak bisa dihubungi, tapi gak sopan kan gangguin orang.

Setelah sebuah roh meninggalkan fase kepompong, dia akan tetap resonan dengan kepribadiannya selama jangka waktu yang tidak diketahui. Orang yang sudah meninggal sering menunggu kehadiran orang-orang terdekat karena alasan cinta atau kesetiaan, tapi aku tidak dapat mengakses rencana perjalanan atau pengalaman mereka. Sebagai cenayang, aku merupakan saluran untuk pesan. Seperti radio batiniah. Tapi aku tahu bahwa pada titik waktu tertentu, sebuah roh akan menjadi penuh hingga memasuki keadaan lengkap, mulai meninggalkan kepribadian mereka, lalu dipenuhi dengan cahaya diri mereka yang hakiki, dan itu keren banget.

Berbicara dengan seseorang yang telah berhasil bertransformasi dari kepribadian mereka adalah hal yang indah; seakan-akan arwah itu menjauhi dan mendekatiku sekaligus. Aku tidak melihat cahaya seperti di film, di mana orang yang sudah meninggal berubah menjadi bola cahaya. Tapi energi yang kita wujudkan memang menyerupai cahaya dibanding bentuk lain. Indah bagiku mengetahui bahwa hidup itu sebenarnya tidak berakhir, tapi terus berubah bentuk selama perjalanan sesudah mati.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly