Wawancara Kerja

Pengalamanku Melamar jadi Pramusaji Hooters Pertama di Indonesia Dengan Penampilan Biasa-Biasa Saja

'Breastaurant' yang pramusajinya dituntut seksi dan cantik itu telah resmi buka di Jakarta. Walau sadar tak masuk kriteria, saya tetap mencoba mendaftar. Hasilnya saya tulis di sini.

oleh Daniella Syakhirina
04 April 2017, 8:03am

Foto utama oleh Premnath Kudva via Wikicommons.

Jarum jam menunjuk pukul 9 pagi. Saya bergegas menuju lokasi wawancara kerja yang—kalaupun diterima—sebenarnya malas saya datangi. Mau tahu posisinya? Menjadi salah satu pelayan cabang "breastaurant" Hooters pertama di Indonesia. Lantas, Kenapa saya ikut wawancara? Mungkin sekadar penasaran saja. Lagian yang penasaran tak cuma saya. Seisi Jakarta sudah ramai membicarakannya ketika tersiar kabar Hooters bakal buka cabang di Jakarta. Pertanyaan yang kerap muncul kemudian adalah memang Hooters bisa bertahan di sebuah kota yang makin tercekik konservatisme kayak gini? Menurut saya sih bisa. Bahkan rasanya engga ada yang mengejutkan. Jakarta kadung penuh spot-spot kontroversial yang bikin Hooters sekadar nampak seperti restoran cepat saji biasa. Tapi, entah apa alasannya, hal-hal yang berbau asing memang kerap memancing kecurigaan akhir-akhir ini. Hooters tak terkecuali. Website Hooters sempat tak bisa diakses karena diblok oleh layanan penyedia internet langganan saya.

Lantas, pertanyaan itu muncul lagi: beneran nih Hooters bakal tahan lama di Jakarta?

Tapi ada pertanyaan yang menurut saya sih lebih penting: apakah Hooters cuma kedai pengobral bokong dan payudara pegawainya? Bisakah kita bilang "Hooters Girl" adalah korban seksisme dan obyektifikasi, atau malah sebaliknya, perusahaan progresif bagi sekumpulan feminis yang menjadikan seksualitas sebagai senjata utamanya? Sayangnya tak ada pakar yang bisa menjawab pertanyaan ini secara memuaskan. Satu-satunya jalan yang tersisa: ikut melamar jadi Hooters Girl.

Layaknya seorang pelamar kerja yang baik, saya mencari deskripsi prasyarat Hooters Girls di laman Facebook mereka. Tak dinyana, syaratnya mudah sekali: pelamar posisi pelayan harus berusia 19 tahun ke atas, tinggi di atas 158 cm, dan lumayan fasih berbahasa Inggris. Umur saya sudah 26, tinggi 159 cm, dan bahasa Inggris saya lumayan lancar lah, apalagi kalau cuma untuk merayu bule-bule beli hot wing. Tapi, ada satu syarat yang lumayan berat: pelamar harus "cantik dan memiliki berat yang proporsional." Puji Tuhan! Saya punya tubuh yang bisa dibilang "lebih bahenol" dari kebayakan perempuan di Indonesia. Sekilas muncul kekhawatiran, jangan-jangan saya bakal diwawancarai oleh panel petinggi Hooters yang mengolok-ngolok betis saya yang tebel? Membayangkannya saja langsung bikin mules. Tapi masa bodo, saya tetap berangkat interview. Emang bakal seseram apa sih wawancaranya?

Akhirnya saya sampai di Kemang Square, Jakarta Selatan. Mall itu masih sunyi. Logo besar Hooters terpampang di luar bangunan mall. Saya mendadak gugup. Perut rasanya tak karu-karuan. Saya masuk lift dan menekan tombol lantai dua. Pintu terbuka, di depan saya ada ruangan berisi tumpukan kardus sepatu Nike. Semoga bener ini tempatnya, gumam saya dalam hati.

"Mbak hari ini ada interview kan?" tanya saya. "Walk-in interview Hooters?"

"Ada kok," seorang perempuan menjawab. "Mbak dapat infonya dari mana ya?"

"Facebook. Saya cari pakai google."

Perempuan itu lalu mengenalkan saya pada sesosok pria yang langsung bilang tak ada intervew hari itu.

"Maaf, manajer kami baru saja terbang ke Bangkok buat meeting," kata pria itu.

Kata pria itu, kompetisi menjadi pelayan Hooters Jakarta sangat ketat. Setidaknya ada 2.000 pelamar untuk 18 posisi pelayan Hooters. Sampai hari itu, 10 posisi sudah terisi. Hanya 8 tersisa. Seakan tahu jika saya mulai keder, pria itu lantas menyakinkan jika Hooters berusaha memperkerjakan berbagai macam perempuan. Beberapa pelamar berdarah Manado, kulit mereka lebih terang. Ada juga yang berasal dari etnis Asia timur. Sebagian lainnya berdarah Jawa, dengan kulit yang lebih gelap dan mata yang bulat. Kalau kamu berdarah apa, tanya pria itu. Awalnya dia pikir saya keturuan etnis Tionghoa atau setidaknya berdarah Manado.

Sejatinya, saya berdarah campuran. Tak mau pusing, saya jawab, "saya keturunan Sumatra."

Hooters Jakarta adalah cabang baru restoran waralaba ini di Asia, misalnya cabang Shanghai yang ada dalam foto ini. Foto oleh Daniel Ng via Flickr.

"Ini kamu beneran mau ngelamar jadi pelayan?" tanya seorang perempuan lain dari HRD sembari memandangi CV dan foto saya.

'Iya sih...pengen coba hal yang baru aja."

"Kalau dilihat dari background pendidikan kamu sih, kamu pasnya di bagian humas. Kita bakal butuh juga..tapi nanti sih." Lanjutnya. "Kalau mau ngelamar, boleh banget lho."

Saya penasaran dengan perempuan-perempuan lain yang melamar menjadi pelayan. Orang-orang seperti apa yang ingin bekerja di Hooters? Ada satu orang pelamar pernah kuliah di Australia dan tergila-gila dengan Hoosters, ujar lelaki yang mewawancari saya. Perempuan tersebut mencoba bekerja di banyak cabang Hooters di beberapa penjuru dunia. Banyak juga pelamar yang sudah meniti karir sebagai model. Sayangnya para model itu justru ditolak Hooters. Lelaki yang saya asumsikan orang HRD itu juga tak tahu alasannya. Perkara diterima atau tidak bukan urusannya. Semuanya diputuskan oleh bos-bos Hooters di Bangkok.

Yang jelas, Hooters hanya ingin mempekerjakan perempuan berlatar belakang pendidikan minimal D3. Kebanyakan pelamar mereka malangnya cuma lulus SMA. Banyak juga yang tak cakap bicara dalam bahasa Inggris, sebuah persyaratan umum bekerja di restoran waralaba asing yang terletak di daerah penuh ekspatriat macam Kemang. Pelamar yang diterima bakal dikirim ke Bangkok guna menjalani pelatihan selama empat minggu. Saya tak menyangka prosesnya seberat ini.

"Terus, interviewnya kayak gimana sih?" kata saya penasaran. Katanya, wawancara bakal berjalan selama satu jam. Saya cukup memakai seragam Hooters dan berpose seksi di kamar mandi. Ya anda tidak salah baca, kamar mandi!

"Kamu balik lagi ke sini Senin depan deh," kata lekaki itu. "Hari itu bakal ada wawancara bartender juga."

Hujan masih turun ketika saya tiba di Kemang Mall Senin sore. Saya malas membilas rambut saya dan muka sudah penuh minyak. Bodo amat. Badan saya masih basah gara-gara hujan. Dengan penampakan sekacau itu, saya woles saja masuk kantor Hooters. Lima lelaki tengah mengantri menunggu giliran diwawancara. Mungkin mereka melamar menjadi bartender, pikir saya. Pria dari HRD yang saya temui pekan sebelumnya melambai pada saya.

"Manajer kami masih belum pulang nih. Tapi tenang, kami bisa ambil foto kamu lalu dikirim ke Bangkok." Ujarnya.

"Hari ini ada yang ngelamar lagi engga mas?" tanya saya.

"Iya, ada sekitar lima orang tadi pagi. Kamu yang terakhir deh hari ini. Kami dapat 12 foto dan semuanya sudah dikirim ke Bangkok," jawab lelaki itu.

Dia lantas memperkenalkanku pada seorang perempuan bergaya tomboy. Perempuan ini akan mengambil foto saya setelah saya memakai seragam Hooters. Tak lama kemudian, perempuan tomboi itu menyerahkan sebuah kantong plastik, sepasang sepatu Nike Airs KW, serta meminta saya ganti baju di kamar mandi. Segera setelah saya siap, dia akan masuk kamar mandi dan mengambil beberapa foto.

Saya kembali melewati para pria yang hendak di wawancara. Salah satunya menghadang saya dan bertanya, "Mbak, kalau diterima di sini, kita bakal dikasih Nike Airs ya?"

"Hmm...engga tahu deh, kayaknya cuma pelayan deh yang dapat," jawab saya sambil terus berjalan ke kamar mandi.

Saya masuk kamar mandi. Di dalam kantong plastik, ada tiga pasang celana pendek oranye bermacam ukuran dari XXS sampai S serta dua buah kaos tak berlengan bertuliskan "Hootie the Owl" di bagian depan. Ukurannya? Sudah pasti super mungil: XXS dan XS. "Mantap, kayaknya badan gue engga sekecil ini deh," pikir saya.

Saya berusaha memilih kaos berukuran XS dan berusaha mengenakannya. Ya ampun sempitnya gak kira-kira. Kaos itu menekan keras payudara saya. setelah itu, saya mengambil salah satu celana pendek. Sejenak saya mengamatinya. Warna oranye sangat mencolok. Saya lantas memakai celana dengan ukuran paling besar (S) dan memandangi bokong saya di cermin. Mantab jiwa, saya bisa melihat sekelumit pangkal pantat saya di sana. Tahu pen test? Bokong saya pasti dapat nilai sempurna dalam tes itu dengan satu syarat: saya pakai celana pendek Hooters

Sepatu Nike Airs—meski cuma KW—terasa sangat ringan. Rasanya seperti memakai sepatu kertas atau malah—sesuai namanya—sepatu dari udara. Enteng abis!

Ada yang nyebelin ketika kualitas diri kita dinilai dari penampilan fisik doang. Sama kasusnya seperti di Tinder. Untung saja aplikasi kencan online tak punya fitur buat ngomong "sorry ya, elo bukan selera gue."

Saya kembali memandangi cermin, kini dengan seragam lengkap Hooters. Jadi begini rasanya jadi Hooters Girl? Entahlah, aneh rasanya, meski tak terlalu bikin saya merasa ambyar. Saya kembali melihat bayangan saya dan berpikir "Okelah, saya memang kelihatan sangat seksi pakai seragam ini. Tapi engga mungkin saya mau keluar kamar mandi dengan pakaian ini."

Beberapa menit kemudian, sang fotografer masuk ke dalam kamar mandi. Dia meminta menempatkan satu kaki depan dan menaruh kedua telapak tangan saya di pinggul. Mati-matian saya berusaha terlihat seksi dengan pose seperti itu, di depan mesin pengering tangan toilet mal. Total saya difoto tiga kali, dari depan, pinggir, dan belakang. Setelah pemotretan, saya segera mengganti baju dan kembali masuk ke kantor Hooters.

"Kami akan hubungi lagi dalam dua atau tiga hari," ujar lelaki yang mewawancarai saya. "Manajer kami akan memilih foto-foto pelamar yang kami kirim. Hari ini, ada 13 pelamar. Nah, manajer kami akan menempelkan foto ke dinding dan memilih yang mereka suka. Kalau cara milihnya sih saya engga tahu, mungkin suka-suka mereka saja."

Saya lantas bilang akan menghubunginya mungkin sehabis Magrib. Dia setuju. Pukul 7 malam, saya mengirim pesan whatsapp padanya. Jawabannya tak jauh-jauh dari dugaan saya. Manajer Hooters sudah melihat foto saya dan mereka menganggap saya tidak masuk kriteria sebagai pramusaji Hooters. Bagi saya, entah kenapa, penolakan ini kok lumayan nyelekit. Jelas, sedikitpun saya tak punya minat meniti karir sebagai pelayan Hooters (lagian, saya waktu itu sudah kerja di VICE). Namun, tetap saja ada yang nyebelin ketika kualitas diri kita dinilai dari penampilan fisik doang. Sama kasusnya seperti di Tinder. Untung saja aplikasi kencan online itu gak punya fitur buat ngomong "sorry ya, elo bukan selera gue."

Dari nada bicaranya, lelaki itu merasa tidak enak dan mengaku tak tahu apa-apa tentang proses pemilihan pramusaji. Engga penting juga sih. Lagipula, saya sumpah mati juga ogah kali wara-wiri di depan sekumpulan bule pakai seragam Hooters. Cuma ya itu, ditolak [Hooters] ternyata kok rasanya tetap sakit hati.

KZL.