Imlek

Penyebab Sebagian Anak Muda Tionghoa Indonesia Malas Merayakan Imlek Meski Dapat Angpao

Siapa sangka, anak-anak muda ini bahkan tak lagi tertarik iming-iming angpao. Kami bertanya pada mereka, apa yang perlu dilakukan agar Imlek jadi lebih bermakna dan membahagiakan.

oleh Vania Evan
25 Januari 2020, 8:06am

Ilustrasi oleh Sadewa Kristianto.

Saat siapapun membahas imlek, pembicaraannya pasti tak jauh-jauh dari amplop merah atau yang sering disebut angpao. Faktor yang bikin semangat tentu isinya; lembaran-lembaran duit yang diidamkan semua orang (selama kalian masih belum menikah). Lumayan kan uangnya, jadi tambahan buat nutupin kebutuhan sehari-hari atau bahkan untuk beli barang-barang yang sebenernya enggak perlu-perlu banget tapi bikin kepikiran berhari-hari.

Melihat pesona uang yang tak kunjung luntur, tentu minim sekali alasan tidak bersemangat menyambut satu hari khusus ketika tradisi leluhur mengharuskan kegiatan bagi-bagi duit bagi sanak saudara. Tapi sepertinya teori ini harus terpatahkan melihat kenyataan bahwa sebagian anak-anak muda dari latar budaya Tionghoa di Indonesia enggak terlalu semangat menyambut imlek 2020. Setidaknya, itu yang kualami sendiri dan ditanggapi anggukan-anggukan setuju dari beberapa teman sebaya.

Padahal, anak-anak muda khususnya yang tergolong dalam generasi Z terbukti dari survei Korn Ferry Indonesia cenderung lebih ambisius dalam dunia kerja dibanding generasi milenial. Di baliknya tentu ada faktor keinginan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang selain untuk hal-hal lainnya seperti pembuktian diri dan penyaluran kemampuan.

Jika dipikir-pikir, konsep imlek sebagai satu hari yang memungkinkan dapat uang cuma-cuma tanpa harus kerja sampai lembur tentu menggiurkan. Terus kenapa kami-kami ini makin jarang yang membuat countdown menuju imlek seperti yang kita lakukan waktu masih kecil dulu?

Pertanyaan-pertanyaan lainnya pun turut mengikuti. Kegiatan berkumpul dengan sanak saudara dan keluarga besar saat imlek juga tetap tidak berhasil menjadikan imlek sebagai kata yang ditunggu-tunggu lagi di mata anak muda. Bukannya yang tergambar di film-film, orang Asia cenderung mengedepankan keluarga di atas segalanya ya? Kenapa realitanya berbanding terbalik?

Meski tidak bermaksud mewakili suara semua orang, VICE sempat ngobrol-ngobrol dengan anak muda berlatar belakang budaya Tionghoa, yang sepakat bahwa imlek kini sedikit banyak cuma tambahan tanggal merah di kalender. Kami minta mereka menjabarkan alasannya, serta berbagi pendapat soal apa yang bisa membuat perayaan Tahun Baru Cina jadi lebih bermakna dibanding cuma bagi-bagi uang.

Simak cuplikan obrolannya berikut:

Lusia Auliana Purnama, 21 tahun



VICE: Halo, kamu masih semangat gak sih menyambut imlek?
Enggak juga sih, not even for the money.

Apa alasannya? Bukannya bisa pakai uangnya untuk banyak hal yang kamu suka?
Iya sih dapet angpao, tapi ada juga emotional cost yang harus dikeluarin. Emotional cost yang paling berasa adalah gue enggak sepenuhnya nyaman dengan keluarga besar gue. Kalau cuma makan-makan sekeluarga inti, gue masih enggak kenapa-kenapa. Tapi semakin gue dewasa, gue makin enggak tahan berada bersama om gue, tante gue, saudara, ipar, you name it. Selain karena ada banyak hal yang mereka lakukan dan katakan yang gue enggak suka, tapi stereotype mulut keluarga besar yang suka nanya pertanyaan-pertanyaan bikin emosi itu bener banget sih. Mereka berekspektasi untuk gue jawab pertanyaan emreka cuma karena kita “keluarga”, padahal gue punya hak untuk enggak jawab kok. Jadi sebenernya enggak cuma imlek doang, tapi di acara-acara lain yang kumpul keluarga besar juga.

Ada gak sih pandangan tentang imlek yang berubah dibandingin sekarang, dan beberapa tahun lalu waktu masih kecil?
Dulu seneng banget karena dari kecil mindset gue adalah uang itu hal paling berharga di dunia. Kayak apa-apa kalau enggak ada uang susah kan. Kebawa pengaruh ajaran orangtua juga kayaknya. Jadi setiap imlek bisa dapet duit tambahan tuh senenggggggg banget meski enggak tau [uangnya] mau diapain. Misal dibelanjain merasa bersalah mampus, jadi disimpen aja deh. Paling yang ada perbedaan juga, cara gue sekeluarga ‘nyambut imlek sih. Tradisinya kan potong rambut setiap sebelum imlek karena katanya bisa buang sial, beli baju baru warna merah biar hoki.

Kalau sekarang ya udah berubah aja sih pandangannya. Money is no longer the most important thing in the world jadi berapa pun nominalnya gue udah enggak mikirin. Dapet syukur, enggak juga santuy. Gue bisa cari tempat lain.

Masalah potong rambut, itu kan masalah percaya atau enggak sebenernya. Hoki ya menurut gue cuma how the universe align aja. Lagian katanya positive mindset brings out positive outcome, kan? Bisa jadi [kepercayaan soal hoki] itu cuma dibuat biar orang termotivasi aja. Soal baju baru, boros enggak sih beli baju mahal-mahal pas imlek tapi ga bisa dipake lagi tahun depan karena perkara gengsi? Bukan prioritas buat gue.

Kalau gitu, hal-hal apa yang bisa membuat Imlek jadi menyenangkan buat kamu?
Kalau semua orang bisa belajar untuk ngerti that I don't own anybody explanation for the things that I do, that I'm proud of what my cousins are doing tapi gue enggak butuh dicocolin segala detil prestasi mereka, t hat money isn't the only key to happiness, that all the violence or anger that happens in the family seharusnya enggak ditangani dengan kita yang pura-pura enggak tau atau mewajarkan, dan sejuta hal lainnya. Banyak sih kalau disebutin satu-satu, tapi intinya ya udah kita kumpul dan bersenang-senang aja tanpa harus memaksa orang lain untuk melakukan hal-hal yang enggak bisa mereka nikmati.

Dio Septian, 21 tahun


VICE: Hai Dio! Imlek udah dekat, masih semangat enggak ‘nyambutnya?
Enggak terlalu sih.

Oh ya? Kenapa emangnya? Udah malas dapat angpaonya?
Bisa dibilang biasa aja, karena udah sangat repetitif. Dan mungkin karena kondisinya sekarang gue di Jakarta dan orangtua gue di Pontianak, jadi ga seru aja imlek tanpa mereka. Di Jakarta sendiri kan libur imlek cuma sehari, jadi buat gue kayak hari libur tambahan aja. Sedangkan di daerah asal gue di Pontianak, liburnya bisa seminggu. Jadi excited mikirin mau ngapain aja di liburan yang lumayan panjang itu.

Emang dari dulu enggak terlalu semangat menyambut imlek atau baru-baru ini aja?
Dulu keluarga gue lumayan ekstra sih. Kita pake baju merah sekeluarga, pasang aksesoris serba imlek di rumah. Nyokap juga selalu bikin kue-kue kering buat para tamu yang dateng ke rumah, dan beli banyak barang baru. Enggak cuma baju ya, sampe ke elektronik juga.

Kalau sekarang ya banyak berubah sih. Baju merah udah enggak penting (syukurlah! Gue ga suka merah). Aksesoris di rumah juga gak se- festive dulu. Singkatnya, cara kita ngerayain imlek udah ga seheboh dulu aja sih. Soal behaviour, yang berubah sekarang-sekarang ini itu, keluarga gue lebih suka pergi liburan pas imlek. Mungkin bisa dibilang menghindar juga sih, karena biasanya imlek tuh kita harus open house buat siapa aja yang mau dateng. Tapi kan it takes a lot of resource and energy, imlek yang harusnya jadi waktu untuk kumpul sama keluarga dan bisa santai-santai, malah jadi capek dan stress karena budaya open house udah kayak aturan enggak tertulis.

Kenapa open house bisa bikin kalian stres?
Karena banyak kelakuan tamu yang enggak bisa diprediksi sih. Kadang-kadang ada yang rese yang komentarin seisi rumah gue. Celetukan-celetukan kayak “Eh meja makan kalian udah jadul, kayaknya udah boleh ganti deh.” atau “Kemarin kita abis jalan-jalan ke Italia loh!” itu udah biasa banget. A lot of boasting and we’re kinda sick of it. Orang-orang pengen tau aja tentang hidup lo meski lo sebenernya enggak sekenal itu sama mereka.

Juga kita ngerasa ada keharusan untuk pake serba baru. Keluarga gue kebetulan ada yang ekstrim sampe beli mobil baru. I don’t know who started it all, tapi sekarang udah jadi tekanan sosial aja sih di kita. Kenapa juga semuanya harus baru di tahun baru?

Kalau gitu, ada bayangan kah Imlek yang menyenangkan setidaknya buat kalian sekeluarga itu yang kayak gimana?
Imlek yang ngerayain aja dengan orang-orang terdekat. Enggak harus sampe open house banget atau ke restoran-restoran mahal. Lebih ke menghabiskan waktu bareng, temu kangen, saling update tentang hidup masing-masing without any sort of judging and pressure. Mungkin dari gue juga bisa kali ya ngelakuin hal-hal yang seru yang jarang dilakuin bareng keluarga. Misal, nonton bioskop atau Netflix, masak bareng, atau jalan-jalan. Kan biasanya lebih sering sama temen-temen ya.

Christian Karnanda Yang, 22 tahun

VICE: Halo Christian! Imlek tuh jadi sesuatu yang kamu tunggu-tunggu gak sih?
Enggak sama sekali. Apalagi sekarang ya bisa dibilang gue udah gede, gue cuma menghargai imlek sebagai bagian dari warisan budaya sih. Tapi keluarga gue sendiri udah enggak ngerayain lagi sejak kira-kira lima tahun sekali.

Boleh ceritain gimana cara keluargamu biasanya merayakan imlek?
Biasanya kita cuma ngucapin gong xi fa cai ke kerabat dekat lewat telepon sih. Kita udah enggak dateng ke rumah keluarga atau kerabat. Paling cuma ada makan-makan keluarga abis itu pisah dan ngerjain urusan masing-masing. Soal angpao, orangtua gue masih kasih lewat amplop merah, tapi nenek, om, tante, dan sepupu sekarang udah kirim uangnya lewat transfer bank. Yup, we are culturally and technologically advanced like that (tertawa).

Bila udah enggak ada tradisi khusus yang dijalanin buat ngerayain imlek, jadi imlek tuh masih relevan ga sih di zaman modern sekarang ini?
Kalau ngomongin relevan, masih sih dalam batas tertentu. Gue sendiri mungkin udah gak ngerasain pengalaman budaya merayakan imlek secara utuh. Tapi dalam aspek yang lain, perayaan imlek terutama di Indonesia, kan bagian dari sejarah bangsa juga, gimana opresi ke kaum Chinese-Indonesians akhirnya berakhir setelah Orde Baru. Shoutout to Gus Dur for officially making it a national holiday and most importantly recognising my culture and millions of Chinese-Indonesians!

George Stanley, 21 tahun

VICE: Hai George! Gimana rasanya menyambut imlek tahun ini?
Selain karena angpao, hype-nya udah turun jauh sih.

Alasannya kenapa?
Ya emang sih dapet duit, tapi segala kebutuhan semakin naik harganya. Semakin tua juga semakin banyak kebutuhan kita, sedangkan uang yang didapet segitu-segitu aja.

Ada gak sih perbedaan rasanya nyambut imlek dulu sama sekarang?
Ada banget sih. Untuk siapin imlek kan perlu beli baju, potong rambut gitu-gitu ya. Harganya sekarang udah beda (tertawa). Sama paling jenis pertanyaan yang ditanyain orang sih. Dulu mungkin cuma ditanya umur dimana dan sekolah dimana. Sekarang pertanyaannya kebanyakan yang bikin males jawab sih, soal mau kerja dimana, udah punya pacar belum, kapan nikah. Itu mah bagian gue aja, lu gak usah ikut-ikutan.

Jadi semangat dapet duit dari angpao kalah sama horornya pertanyaan-pertanyaan itu?
Lumayan sih, alasa males bener-bener cuma karena pertanyaan-pertanyaan dan typical Asian families competition. Mungkin tanpa social pressure dari extended families dan gap antara keluarga-keluarga lain mungkin lebih enjoyable krena kan emang sebenernya lebih ke kumpul keluarga buat happy-happy aja.