Iklan
Australia

Saking Tebalnya, Asap Karhutla Australia Kini Mengelilingi Bumi

"Rangkaian asap panjang adalah pemandangan tidak biasa bagiku," kata ilmuwan NASA pada VICE News.

oleh Alex Lubben
15 Januari 2020, 6:50am

Kepulan asap yang membumbung tinggi dari tumpukan kayu besar yang terbakar di sebuah pabrik di Eden, Australia pada 11 Januari 2020. (AP Photo/Rick Rycroft)

Kebakaran hutan hebat yang melanda Australia sejak September lalu menghasilkan asap yang telah melayang sejauh belasan ribu kilometer melalui Samudra Pasifik menuju Amerika Selatan. Asapnya kini sudah kembali ke Australia.

130 lebih kasus kebakaran di Australia menghanguskan 3.000 rumah dan menewaskan sedikitnya 25 orang. Pekan lalu, api yang berkobar di dua titik bersatu menciptakan “megablaze” di perbatasan dua negara bagian terpadat, New South Wales dan Victoria.

“Rangkaian asap panjang adalah pemandangan tidak biasa bagiku,” ujar ilmuwan atmosfer NASA, Colin Seftor. “Baru kali ini saya melihatnya.” Asap biasanya akan tersebar saat dibawa angin, tetapi kali ini sangat padat dan tidak putus."

Asap menurunkan kualitas udara secara signifikan di Australia dan Selandia Baru, serta membuat langit Argentina dan Chili menjadi lebih gelap. Warga Amerika Selatan bahkan bisa mencium bau asap, meski tidak membuat udaranya tak aman dihirup. Sembari asap berkeliling dunia melalui atmosfer atas, saksi mata bisa melihat semburat merah saat matahari terbenam.

Saking hebatnya kebakaran di sana, asapnya sampai membentuk awan raksasa bernama pyrocumulonimbus yang dapat mengangkat partikel asap kecil hingga ke lapisan stratosfer. Dari situ, asap kebakaran bisa terbang mengelilingi dunia. Pyrocumulonimbus juga menghasilkan badai petir tanpa hujan yang memperparah kebakaran.

“Menurut perkiraan kami, badai pyrocumulonimbus ini menjadi yang paling ekstrem di Australia,” ungkap ahli meteorologi Michael Fromm dari Laboratorium Penelitian Angkatan Laut.

Kebakaran hutan Australia telah menggosongkan 10,3 juta hektar lahan hingga Jumat pekan lalu. Jika dibandingkan dengan kebakaran hutan California pada 2018—salah satu musim kebakaran terburuk di negara bagian tersebut—kobaran api saat itu hanya melalap 800.000 hektar lahan. Lebih dari 1,25 miliar hewan mati, dan kualitas udaranya sangat buruk di sejumlah daerah metropolitan yang paling padat penduduknya.

Tak hanya itu, asap dari Australia telah menggelapkan gletser di Selandia Baru, sehingga dapat mempercepat pelelehannya.

Masuknya asap ke atmosfer dapat memiliki efek jangka pendek pada iklim dunia. Ketika Gunung Tambora meletus pada 1815, asapnya membuat Eropa dan Amerika mengalami “musim dingin vulkanik”. Salju turun di New York pada Mei. Cuaca suram di Swiss menginspirasi Mary Shelley untuk menulis cerita klasik “Frankenstein”.

Para ilmuwan memprediksi kebakarannya takkan menimbulkan efek pendinginan dramatis. Akan tetapi, bisa saja memiliki efek pendinginan jangka pendek di sejumlah daerah yang dilewati. Penelitian terbaru justru menunjukkan asap kebakaran memiliki efek pemanasan.

“Saya menebak akan ada semacam pendinginan,” tutur Seftor. “Ada minat yang kuat untuk mempelajari kemungkinan yang bisa terjadi karena peristiwa ini sangat tidak biasa.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Tagged:
nasa
Perubahan Iklim
Bencana Alam
Kebakaran Hutan
Kebakaran Hutan Australia
Asap Kebakaran Hutan