Pseudosains

Kami Bikin Poling, Hasilnya Kaum Antivaksin paling Dibenci Netizen Sepanjang 2010-an

Gelar tren "perawatan diri" di medsos paling menyebalkan jatuh pada golongan aktivis internet yang bikin polio, difteri, hingga campak mewabah lagi di berbagai negara.

oleh Rachel Miller Dan Katie Way
23 Desember 2019, 11:28am

Ilustrasi oleh Hunter French

Redaksi VICE menggelar polling iseng-iseng merayakan dekade 2010-an yang segera berlalu. Salah satu isu pengin kami jadikan topik poling adalah tren perawatan terburuk selama satu dekade terakhir. Seiring makin populernya media sosial, gampang sekali bagi orang mempromosikan berbagai produk kesehatan tanpa dasar ilmiah memadai. Mulai dari minyak-minyakan, diet, spiritualitas, hingga pola hidup tertentu.

Kalian bisa kebayang lah contohnya, berapa banyak orang jualan minyak yang diklaim berkhasiat di marketplace. Begitu pula anjuran diet tertentu yang ngetren di mana-mana. Nah, setelah melalui penyaringan sekian babak, kesimpulan polling kami yang diikuti netizen berbagai negara tidak terlalu mengejutkan. Kalau yang dicari adalah tren paling tolol, buruk, menyebalkan, dan semua atribut tak menyenangkan lain, maka juara selama 10 tahun terakhir adalah: kaum antivaksin.

Golongan penolak vaksin muncul di banyak negara, mereka meneror kaum ibu secara konstan di forum perawatan anak, dan rutin memakai internet (serta medsos) mempropagandakan pandangan sesatnya. Mereka berjasa mencampuradukkan sains dan agama (serta teori konspirasi), serta bertanggung jawab atas kembali mewabahnya campak, difteri, serta polio di beberapa negara (termasuk Indonesia). Sampai-sampai, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kaum antivaksin sebagai salah satu ancaman kesehatan global terbesar sepanjang 2019.

Mantab memang para pejuang antivaksin di Internet ini.

1576877957820-Wellness_Final_Full-Bracket
Ilustrasi oleh Hunter French

Saking besarnya voting yang memilih kaum antivaksin sebagai pendorong tren perawatan diri terburuk dalam satu dekade, maka polling kami praktis adalah upaya mencari peringat dua dan tiga. Kaum antivaksin tampaknya memang bakal menang sejak polling dibuka. Maka siapa runner up tren bodoh semacam itu?

Nah, penantang terkuat adalah aktivis diet keto. Meski begitu, diet keto mendapat perlawanan keras dari tren pemakaian essential oils, yang variasinya amat banyak di tiap negara. Intinya, minyak palugada buat mengobati semua penyakit (termasuk yang masuk kategori berat sekalipun). Mencuatnya keto dalam papan atas polling kami mungkin bikin aktivisnya di internet keki. Kok bisa diet tanpa makan nasi dan karbo lain (dan memperbanyak asupan protein hewani/nabati), dianggap tren perawatan diri yang buruk?

Begini, semua yang mempropagandakan diet keto sudah pasti tidak pernah berdasar penelitian ilmiah. Memang, pola konsumi keto terbukti bermanfaat buat penderita epilepsi. Namun, sebagian besar responden yang diteliti pakar justru mengalami risiko gangguan kesehatan—akibat ketidakseimbangan hormon sampai persoalan kekebalan tubuh—akibat makan protein doang tanpa asupan karbo. Gangguan pencernaan juga dialami para responden penelitian ilmiah soal diet keto.

Intinya, kalau bicara manfaat, keto tidak sepenuhnya buruk. Yang buruk adalah para propagandisnya. Mereka yang berbusa-busa menjajakan diet keto di medsos. Selama 10 tahun terakhir, pengkhotbah diet keto menguasai medsos, membuat klaim seakan-akan jenis diet lain hanya sampah dan semua orang sebaiknya merasakan keto. Intinya, pendukung keto hanya setingkat lebih menyebalkan dibandingkan kaum antivaksin.

Inilah Hasil Akhir Polling VICE

Jadi bagaimana nih, ketika di babak final Keto diadu lawan antivaksin. Benar-benar kemenangan telak bagi kaum antivaksin. Orang mungkin agak bisa memaafkan kelompok pro-diet keto. Mereka menyebalkan tapi tidak membawa mudharat bagi masyarakat. Sementara kaum antivaksin sudah menebar kebodohan, eh merugikan anak-anak pula. Kepercayaan mereka merugikan banyak orang. Udah gitu, tahu ga, ketika mereka semua koar-koar kalau suntik cacar bisa memicu autisme, sebenarnya kelompok antivaksin tuh ga paham apa itu autisme. Plus, percayalah, sebagian besar dari mereka tidak pernah belajar kedokteran atau punya rekam jejak bertahun-tahun meneliti penyakit serta vaksinasi. Ilmu mereka mayoritas dari internet, dioplos dengan candu konspirasi dan sedikit dogma agama. Runyam.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.