The VICE Guide to Right Now

Hobi Bersepeda Kembali Diminati di berbagai Negara Saat Pandemi

Penjualan sepeda di seluruh dunia meningkat tajam belakangan ini. Apa sih alasannya?
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
17 Juni 2020, 10:27am
ilustrasi kaki menggenjot sepeda
Foto: Film Bros / Pexels

Pandemi corona memunculkan berbagai tren dan hobi baru. Di saat yang lain mendadak rajin masak dan bikin roti, orang-orang ini justru menyalurkan kreativitasnya. Ini enggak mengherankan sama sekali. Kebanyakan dari kita sudah hampir tiga bulan lebih enggak keluar rumah. Awalnya mungkin menyenangkan, tapi lama-lama akan jenuh juga. Enggak sedikit yang mencoba ini-itu untuk mengisi waktu, dan akhirnya banyak diikuti orang lain hingga menjadi tren. Seperti bersepeda, misalnya.

Akhir-akhir ini, aku semakin sering melihat teman satu kantor memposting InstaStory habis sepedaan. Aku awalnya enggak terlalu memikirkan ini, karena aku kira mereka kepengin olahraga doang. Aku mulai merasa ada yang aneh ketika ayahku beli sepeda baru, padahal sudah punya tiga sepeda di rumah. (Ayah hobi sepedaan dari sebelum pandemi.)

Rupanya nge-gowes memang sedang ngetren lagi. Kantor berita AP melaporkan penjualan sepeda di Amerika Serikat meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Ini merupakan lonjakan terbesar dalam 50 tahun terakhir. Kota Roma membuat jalur khusus sepeda untuk mengakomodasi peningkatan minat sambil tetap menghentikan operasi transportasi umum, sementara London berencana melarang mobil masuk ke beberapa rute pusat. Toko sepeda di Manila mengatakan permintaannya lebih tinggi daripada saat Natal. “Orang-orang lagi panik. Mereka beli sepeda kayak beli tisu toilet,” tutur Jay Townley, analis tren industri sepeda untuk AP.

Alasan orang membeli sepeda pun beragam. Beberapa membutuhkan alternatif transportasi umum. Mereka sebisa mungkin ingin menghindari kontak fisik dengan orang lain. Lalu ada juga yang sudah kangen olahraga, tapi belum bisa nge-gym. “Olahraga adalah bagian terpenting dalam hidupku,” kata warga Delhi Selatan bernama Sahil Sinha. “Beda rasanya kalau dilakukan di rumah. Makanya aku langsung mereparasi sepeda saat lockdown dilonggarkan. Efeknya enggak sama kayak nge-gym tentunya, tapi bersepeda adalah alternatif yang bagus. Pasanganku berencana beli sepeda supaya kami bisa gowes bareng.”

Beda halnya di India. Penjualan sepeda melonjak sebagian besar karena buruh migran ingin pulang ke kampung halaman masing-masing. Beberapa pekan lalu, anak perempuan 15 tahun di India menggenjot sepeda sejauh 1.200 kilometer untuk pulang ke Darbhanga, Bihar. Dia membonceng ayahnya. Ribuan buruh migran dikabarkan membeli atau menyewa sepeda untuk pulang setelah sebulan lebih menunggu transportasi tersedia kembali.

Penjualan sepeda di Punjab melonjak hampir 20 persen pada Mei ketika arus kepulangan pertama dimulai. Di Chennai, ratusan buruh memutuskan pulang naik sepeda karena pemerintah enggak ada niatan memberikan bantuan transportasi.

Namun, produsen sepeda kesulitan menyanggupi lonjakan permintaan tersebut. Produksinya terhambat masalah kekurangan tenaga kerja dan banyaknya pabrik yang tutup. Sebagai produsen sepeda terbesar di dunia, Tiongkok menunda ekspor ke seluruh dunia awal tahun ini akibat COVID-19. “Pabrik sepeda di Tiongkok kekurangan tenaga kerja dan komponen-komponen produksi,” Kevin Tsu, general manager Taioku Manufacturing Co., memberi tahu New York Times.

Produsen sepeda di India juga menghadapi kesulitan yang sama. “Mayoritas pekerja kami adalah buruh migran,” kata Vishal Mahindru, direktur penjualan dan pemasaran Vishal Cycles, kepada The Tribune. “Ini masalah yang sedang kami hadapi. Mereka pasti akan kembali, dan untuk sekarang ini, kami cuma bisa memanfaatkan sumber daya yang tersedia.”

Kalau kalian sendiri gimana? Kenapa jadi suka sepedaan?

Follow Satviki di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India