VIDEO GAME

Gamer Tunanetra Memperjuangkan Kesetaraan Akses Main Game

Steve Saylor berharap suatu saat nanti penyandang disabilitas juga bisa bermain game dengan nyaman.
05 Juni 2020, 10:27am
Steve Saylor
Steve Saylor mengelola kanal YouTube Blind Gamer.

YouTuber Steve Saylor sering membuat video ulasan, reaksi dan kesan awal video game. Pembawaan Steve riang, sama seperti YouTuber game lainnya. Dia suka melontarkan kata-kata hiperbola, menunjukkan ekspresi lucu, dan membuat suara aneh. Videonya yang paling populer mungkin ketika dia main game Spiderman atau Minecraft. Bedanya, Steve adalah disabilitas netra.

“Sewaktu mulai [jadi YouTuber], saya kira kebutaan adalah satu-satunya yang membedakan saya dari gamer lain,” kata Steve. “Awalnya, konten saya cuma menunjukkan betapa buruknya saya bermain game. Itulah bagian terlucunya. Tapi, saya diundang ke acara konferensi Ubisoft pada 2017. Saya menghadiri panel yang pembicaranya saling berbagi pengalaman. Dari situ saya sadar, bukan saya yang payah, melainkan gamenya.”

Dengan kanal Blind Gamer, Steve memperlihatkan penonton rasanya menjadi penyandang disabilitas netra dengan cara yang menghibur dan mendidik. Dia menggunakan video game sebagai titik tolak dalam menanyakan bagaimana masyarakat membicarakan disabilitas dan ableism secara keseluruhan. Misalnya, kenapa mode mudah disebut “consolation prize” dalam komunitas gamer? Siapa saja yang bisa berpartisipasi dalam komunitas ini? Langkah apa saja yang bisa diambil pengembang mainstream agar game mereka lebih gampang diakses?

Pengaturan dasar seperti caption, ukuran font, dan deskripsi audio sebenarnya sangat membantu pemain yang menyandang disabilitas netra. Akan tetapi, pengembang sering mengabaikan ini. Bagi Steve, pengaturan itu bisa berarti perbedaan antara pengalaman menyenangkan dan tidak. Dalam ulasan aksesibilitas Gears Tactics, dia mengapresiasi mode buta warna dan fitur “let the game read to me”. Berbeda halnya ketika dia mengulas Doom Eternal. Steve kecewa dengan fitur aksesibilitas yang terasa setengah jadi. Dia berharap pengalaman pribadinya bisa menyadarkan kreator bahwa game mereka dinikmati berbagai kalangan.

“Para pencipta game dan konsol di masa lalu tidak mempertimbangkan disabilitas karena isunya belum seterkenal sekarang. Saya tidak akan menyalahkan pengembang jika begitu keadaannya. Mereka mungkin tidak punya kenalan penyandang disabilitas, atau bahkan bukan seorang penyandang. Namun, seiring dengan tumbuhnya komunitas penyandang disabilitas yang juga ingin bermain game, pengembang seharusnya tergerak untuk mewujudkan hal itu. Semakin keras suaranya, maka semakin banyak pula orang yang memperhatikan isunya.”

Kanal YouTube Steve berusaha membantah mitos umum terkait kebutaan. Contohnya: buta bukan berarti tidak bisa melihat sama sekali.

Steve mengidap Nystagmus. Matanya bisa bergerak sendiri, sehingga sulit untuk fokus. Dia bisa hidup mandiri berkat kacamatanya. Orang-orang sering bertanya seberapa parah kondisinya. Pertanyaan ini sangat sulit, karena Steve tidak punya bahan acuan untuk menunjukkan seperti apa penglihatannya. Dia hidup seperti itu sejak dulu.

Itulah sebabnya Steve membuat video What I See When I'm Playing Video Games. Dalam video berdurasi tujuh menit itu, Steve menggunakan Fortnite untuk memperkirakan tingkat penglihatannya jika dibandingkan dengan orang normal. Penonton diajak menyaksikan keseharian Steve. Dengan begini, orang-orang bisa lebih memahami gangguan penglihatan secara keseluruhan.

“Penonton memuji video itu. Saya tidak menduga reaksinya akan seperti ini. Saya cuma ingin menjawab pertanyaan yang sering saya terima,” tuturnya. “Saya harap orang-orang dapat memahaminya.”

Di luar pekerjaan sehari-harinya, semangat dan energi Steve dicurahkan sepenuhnya untuk video game dan Blind Gamer. Kanal YouTube ini menjadi tempat menyalurkan pendapat dan membahas masalah yang sering kali tidak diperhatikan tetapi memengaruhi sebagian besar populasi. Menurut AbleGamers Foundation, jumlah gamer yang menyandang disabilitas di Amerika Serikat mencapai 33 juta orang. Steve berharap perjuangannya membuahkan hasil, dan dapat mewujudkan pengalaman yang lebih baik untuk mereka semua.

Follow Graham Isador di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada