Quantcast
The VICE Guide to Right Now

Tak Ada Perjanjian Konkret Soal Nuklir Antara Trump dan Kim Jong-un Seusai Drama Singapura

Sebagian pengamat politik internasional malah depresi, karena isi dokumen yang diteken pemimpin AS-Korut tak beda jauh dari perjanjian 1993. Sama bae dong...

David Gilbert

Presiden AS Donald Trump dan Diktator Korea Utara Kim Jong-un mendantangani deklarasi bersama di Singapura. Foto oleh Kevin Lim/Strait Times/via Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Diktator Korea Utara Kim Jong-un menandatangani pernyataan bersama, Selasa (12/6), di Singapura. Dalam naskah tersebut, muncul pernyataan ambigu tentang komitmen Korut "menuju pelucutan nuklir secara menyeluruh di Semenanjung Korea."

Setelah drama pertemuan nyaris batal, salaman yang bersejarah, dan sorotan dunia terhadap hasil pembicaraan empat mata Trump dan Kim Jong-un, banyak pengamat politik sepakat: tidak ada hasil konkret dari negosiasi kedua negara.

Trump, menurut sebagian pengamat politik, justru memberi keleluasaan terlalu besar bagi Korut. Misalnya, dengan menjamin penghentian latihan perang antara AS dan Korea Selatan yang selama ini rutin digelar saban tahun. Menyetop latihan perang bersama dianggap Trump sebagai insentif agar Korut mau menghancurkan fasilitas penlitian dan pengembangan senjata hulu ledak nuklir.

Sesuai dengan poin ketiga naskah bersama tadi, "kedua negara sepakat menegaskan semangat Deklarasi Panmunjom pada 27 April 2018 yang mengamanatkan pelucutan nulir secara menyeluruh di Semenanjung Korea." Deklarasi yang dimaksud adalah perjanjian antara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in April lalu di zona demiliterisasi.

Masalahny, setelah dibaca-baca lagi, sama sekali tidak ada langkah konkret sesudah pertemuan di Pulau Sentosa, Singapura, yang bisa membuat AS yakin rezim diktator Korut menepati janjinya. Donald Trump mengelak dari pertanyaan wartawan soal langkah lanjutan, dengan menyatakan sekilas bahwa naskah yang ia teken sudah "sangat komprehensif."

Satu-satunya langkah konkret adalah pernyataan pendek dalam naskah tersebut, bahwa Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, akan "segera" menggelar pertemuan teknis lanjutan "bersama petinggi Korea Utara dalam waktu secepatnya."


Tonton dokumenter VICE mengenai nasib buruh migran Korut di Polandia yang diperas tenaganya untuk mendukung ambisi Kim Jong-un menguasai nuklir:


Tentu saja, sebagian besar pengamat menganggap Trump kembali dari Singapura dengan tangan hampa. "Sekali lihat saja semua pakar isu ini akan menyadari tidak ada detail rencana aksi ataupun perkembangan signifikan dibanding perjanjian yang pernah dibuat AS dan Korut di masa lalu," kata John Hemmings, Direktur Kajian Asia, dari Lembaga Think Thank Henry Jackson Society saat dihubungi VICE News.

“Sebaliknya, yang kita dapatkan hari ini hanya bahasa penuh bunga-bunga yang terlampau optimis, dan janji dari Korut kalau Pompeo bakal diajak bertemu di kemudian hari dengan pejabat Korut. Sudah itu saja."

Melihat naskah yang sedemikian ambigu bahasanya, Hemmings menduga kedua belah pihak sama-sama tidak siap dengan rencana konkret dalam waktu dekat untuk benar-benar melucuti senjata nuklir milik Pyongyang.

Robert Kelly, pakar Korut, bahkan menyebut isi pernyataan bersama Trump-Kim Jong-un "bikin depresi." Salah satu indikatornya, tidak ada penyebutan lokasi fasilitas nuklir Korut yang secara spesifik harus dihancurkan.

Lebih parah lagi, lebih dari tiga pakar politik internasional sekaligus pengamat Korut, yang menunjukkan kalau naskah perjanjian AS-Korut hari ini sama belaka seperti yang pernah dicapai dalam pertemuan bilateral kedua negara pada 1993. Seperti nampak dalam twit berikut:

Kesalahan fatal lain dari gaya diplomasi Trump, adalah gesturnya yang sangat bersahabat dengan Kim Jong-un selama pertemuan. Dengan sikap macam itu, apalagi tanpa ragu mengajak sang diktator bersalaman, Trump memberi pesan bahwa pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Korut punya legitimasi internasional.

Trump dalam jumpa pers sesudah pertemuan bilang akan mengundang Kim Jong-un datang ke Gedung Putih. Namun seperti yang sudah nampak dari kajian pakar, perdamaian dunia masih tanda tanya. Lebih-lebih, Amerika justru kini memberi ruang bagi Korut untuk bermanuver di pentas politik dunia—tanpa jaminan apapun untuk melepas ambisi mereka menguasai senjata nuklir.