Iklan
Generasi Z

Alasan Generasi Z Indonesia Paling Fanatik Beragama Dibanding Negara Lain

Riset Varkey Foundation menyatakan 93 persen anak muda Indonesia yang usianya 17-23 tahun menganggap agama faktor penting dalam kehidupan. Rohis dan kritik terhadap globalisasi jadi beberapa pemicunya.

oleh Sattwika Duhita
30 Mei 2018, 8:09am

Kolase foto oleh Dicho Rivan. Sumber via unsplash.

Sebanyak 93 persen anak muda generasi Z di Indonesia melihat agama sebagai faktor utama dalam kebahagiaan. Setidaknya itulah yang ditemukan oleh lembaga survei internasional Varkey Foundation. Diujikan pada 20 ribu anak muda yang lahir di rentang tahun 1995-2001 dari 20 negara, diketahui Indonesia menduduki peringkat paling tinggi dalam jajak pendapat ini yang menjadikan agama sebagai kunci kebahagiaan hidup.

Agama memang dipandang sebagai salah satu pegangan penting di bangsa ini. Tak jarang hukum dan norma agama menjadi landasan untuk mengatur keseharian masyarakat dalam kehidupan sosial. Saking pentingnya sampai-sampai beberapa daerah menyelaraskan hukum formal dengan hukum syariat Islam, seperti yang terjadi di Aceh. Dalam penegakannya, anak muda pun turut andil melalui berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan setempat.

Kecintaan anak muda terhadap agama juga didorong oleh program kerohanian, seperti rohani Islam (rohis) yang banyak digalakkan di berbagai sekolah, terutama sekolah negeri. Amalia Renjana, siswa SMA 2 Depok bercerita, rohis menjadi salah satu unit kegiatan yang banyak diminati dan dianggap sebagai salah satu kegiatan ‘hits’ anak muda saat ini. “Banyak yang ikut rohis untuk mendalami agama. Biasa kakak mentornya dari alumni. Kalau ikut rohis biasanya dianggap wow dan keren,” kata Renjana.

Tak jauh berbeda dengan yang digalakkan di generasi sebelumnya, rohis saat ini hadir sebagai wadah bagi para pelajar untuk mempelajari Islam secara lebih mendalam. Dengan kegiatan berupa forum diskusi, studi Islam, dakwah, hingga silaturahmi, program rohis kian menguatkan citra Islam dalam diri pelajar.

Tidak hanya melalui program rohani dan keterlibatan dalam menegakkan hukum agama, ‘tren’ generasi Z yang kian cinta pada agama turut terlihat dalam maraknya akun-akun dakwah yang ditujukan untuk anak muda ‘berhijrah’ ke ajaran agama. Di Instagram, misalnya, akun @pemudahijrah sudah diikuti oleh 1,4 juta pengikut. Unggahannya pun sangat ‘kekinian’; mengajak para pengikutnya melalui kajian-kajian bertopik keanakmudaan, seperti target hidup, mencari kawan hijrah seperjuangan, hingga yang dianggap paling penting: J-O-D-O-H.

Peneliti Ma’arif Institute Aidul Fitriyana—akrab dipanggil Pipit—melihat adanya kecenderungan anak yang kini memandang agama sebagai jalan hidup. Munculnya anggapan ini didorong oleh adanya globalisasi yang memicu pertukaran budaya juga ketimpangan ekonomi. Hal ini kemudian jadi salah satu alasan bagi para pemuda untuk menjadikan agama sebagai jawaban. Hal ini juga tergambar dari temuan PPIM UIN Jakarta 2017 yang menyebutkan setidaknya 48 persen siswa dan mahasiswa merasa non-Muslim lebih diuntungkan dibanding orang Muslim secara ekonomi.

“Dilihat lebih jauh, ini adalah kritik terhadap globalisasi dan liberalisasi pasar yang dipandang gagal mewujudkan keadilan di tingkat global. Lantas, kegagalan ini diterjemahkan oleh kelompok agama ‘garis keras’ bahwa agama menjadi solusi atas ketidakadilan yang ada,” jelas Pipit.


Tonton dokumenter VICE mengenai anak muda Aceh yang berjuang mewujudkan mimpi jadi pesepakbola profesional di Indonesia:


Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kampanye anak muda yang diimbau untuk tidak terseret dalam paham yang dianggap sebagai ‘liberalisme’ dan diajak untuk semakin mendekat kepada agama agar terhindar dari bahaya laten liberalisme yang menjauhkan surga di kehidupan akhir. Tak hanya itu, pesan-pesan untuk menolak pasar bebas juga sibuk digencarkan dan mengimbau anak muda untuk berpartisipasi pada ekonomi syariah.

Sedang di sisi lain, Pipit melihat teknologi informasi adalah salah satu kanal penyebar ajaran agama dan menjadi faktor yang mendorong menguatnya ‘cinta agama’ dalam diri anak muda.

Lahir di era internet, generasi Z lebih mudah akrab dengan teknologi. Karenanya, generasi Z kerap kali digadang-gadang lebih individual, memiliki pikiran yang lebih terbuka, serta lebih ramah teknologi. Keingintahuan yang tinggi lantas mendorong generasi Z untuk lebih banyak berselancar di internet--gudang seluruh informasi--guna menemukan jawaban dan informasi yang ingin ia ketahui.

Maka, anak-anak muda dalam generasi ini banyak mendapatkan ilmu agama dari dakwah maupun pesan-pesan yang beredar melalui internet. Sayangnya, narasi yang beredar di dunia maya tentang Islam adalah narasi yang cenderung keras dan radikal. Hal ini banyak ditunjukkan oleh begitu maraknya konten yang menyebarkan materi radikal dan mendorong lebih banyak lagi aksi ‘jihad’ dengan kekerasan.

“Teknologi informasi menjadi perbedaan mendasar antara generasi Z dan generasi sebelumnya,” kata Pipit. Begitu dekat dengan kecepatan dan tidak banyak berbicara proses, generasi Z lebih cenderung mengutamakan pembelajaran serba instan--semua dakwah dan ilmu bermodal Youtube dan media sosial. “Di satu sisi mereka sangat kritis karena infomasi melimpah. Namun di sisi lain, ketika bicara keagamaan, pikiran kritis itu menjadi hilang. Karena menganggap agama sebagai final,” tambahnya.

Selain itu, terdapat pula kecenderungan sikap beragama generasi Z yang berbeda jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini secara signifikan terlihat dari cara mempelajari agama itu sendiri. Di generasi sebelumnya, Pipit menuturkan pelajaran agama banyak diberikan dan merujuk pada ustaz yang diempukan. Ustaz juga menjadi gate keeper bagi ilmu agama yang disebarkan agar tidak menyimpang dari nilai agama itu sendiri.

Namun, dialog ini tampaknya tak banyak dilakukan oleh generasi Z. Kecepatan internet yang masif dan kekayaan informasi yang dihadirkan begitu melenakan. Pipit melihat generasi Z terjebak dalam jawaban instan yang dihadirkan oleh internet dan media sosial yang bersarang di dalamnya.

“Kalau sekarang, mereka apa-apa langsung tanya internet,” lanjutnya.

Tentu tidak ada yang salah menjadi anak muda yang cinta agama. Lahir dan hidup di Indonesia, anak muda negeri ini tentunya begitu terbiasa dengan agama sebagai landasan hukum dan bersikap dalam masyarakat. Namun, perlu menjadi perhatian khusus ketika nilai agama yang dicintai nyatanya memicu kebencian dan tidak lagi dipertanyakan kesahihannya, semisal melalui diskusi dan dialog dengan para pemuka agama yang mumpuni. Pipit menyarankan anak muda memperbanyak membaca dan merenungi pemikiran para ulama yang sahih ilmunya. Jangan hanya bertumpu pada satu ulama yang belum jelas juntrungannya, kabur karena didakwa atas satu kasus, lalu sudah satu tahun tak pulang-ke Tanah Air sampai sekarang.