Iklan
News

Mereka yang Berduka dan Menanti Kepastian Selama Evakuasi Lion Air JT 610

Sarjana yang belum lama diwisuda, ibu rumah tangga, hingga suami yang dalam perjalanan pulang menemui istrinya. Usai keajaiban pupus, keluarga korban hanya bisa berharap yang terkasih segera ditemukan.

oleh VICE Staff
30 Oktober 2018, 11:35am

Salah satu keluarga korban jatuhnya Lion Air JT 610 menangis di halaman Posko Ante-Mortem RS Polri, Kramat Jati. Foto oleh Reuters

Pesawat Boeing 737 MAX milik maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 padat penumpang ketika tragedi nahas kemarin terjadi. Total ada 180 tempat duduk dalam pesawat, semua nyaris terisi. Secara keseluruhan ada 178 penumpang dewasa, satu anak, dua bayi, enam awak, dan dua pilot yang terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Sedianya, pesawat akan mendarat di Pangkal Pinang pada pukul 7.20 WIB. Hanya berselang sekian menit sejak lepas landas, pesawat kehilangan kontak dan menghujam perairan Tanjung Belis. Tak satupun penumpang selamat. Ada dua puluh orang pegawai Kementerian Keuangan, sepuluh lainnya adalah staf Badan Pemeriksa Keuangan. Nyaris seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengirim 24 kantung mayat, dan jumlahnya akan terus bertambah, ke Rumah Sakit Polri Jakarta Timur. Tatkala awak VICE sampai di lokasi, tempat itu dipenuhi kerabat korban. Duka jelas tergambar dalam raut wajah mereka. Berikut adalah sejumlah korban yang resmi diketahui identitasnya.

Janry Efriyanto, 28 Tahun

1540891194986-Janry-Efriyanto
Janry Efriyanto dalam foto yang disimpan tantenya. Foto oleh Daniel Darmawan

Jan baru saja lulus dari sebuah universitas di Palembang, Sumatra Selatan. Jan adalah karyawan Bank Negara Indonesia. Kerabat Jan masih menunggu hasil pemeriksaan DNA saat diwawancarai awak VICE.

"Orang tuanya, yang tinggal di Jambi, memberi tahu saudaraku di Surabaya kalau pesawatnya jatuh," kata Melissa, tante Jan. "Aku baca di grup WhatsApp. Pada 2014, aku dan anakku juga mengalami insiden Lion Air. Setelah delay selama 10 jam, mereka tetap ingin menerbangkan kapalnya. Aku trauma."

"Perasaanku sudah enggak enak sebelum insiden itu terjadi," kata Melissa. "Aku nangis dan berdoa sampai aku pingsan."

Bhavye Suneja, 31 Tahun

Suneja adalah salah satu pilot di kapal. Dia adalah warganegara India yang sudah berencana kembali ke New Delhi minggu depan, tempat tinggal orang tuanya.

“Dia suruh aku siap-siap untuk pesta.” ucap Manvi Dua, teman dan mantan rekan kerja Bhavye kepada The Indian Express. “Seharusnya dia pulang ke Delhi November 5. Aku enggak bisa percaya.”

Selain orang tuanya, Bhavye memiliki istri, Garima Sethi. Pasangan ini menikah melalui perjodohan. "Karena mereka saling mencintai, menghormati, dan memahami satu sama lain, pasti sulit dipercaya kalau pernikahan mereka awalnya bukan karena cinta," ujar Navin Banswal, teman Suneja, kepada The Indian Express.

Merry Yuliana, 23 Tahun

1540891099873-Pak-Darman
Kakek Merry Yuliana, Darman, menampilkan foto mendiang cucunya lewat ponsel. Foto oleh Daniel Darmawan

Merry adalah satu dari keenam pramugari di pesawat. Dia berdarah Minang. "Sudah empat tahun dia bekerja di Lion Air," kata Darman, kakek Merry. "Dia hobi berenang."

"Kami terakhir kali ngobrol semalam sebelum penerbangan," tutur ibunya.

Ervina Jayanti, 38 Tahun

Ervina adalah ibu rumah tangga yang tinggal di Bangka. Adiknya Junaidi, menceritakan betapa Ervina lemah lembut dan sangat disukai banyak orang. Dia suka memasak untuk teman-teman dan keluarganya.

"Kami sudah dua minggu enggak ketemu," kata Junaidi. "Dia ke Jakarta untuk menghadiri acara, tapi saya belum dengar kabarnya sama sekali sejak penerbangan itu."

Harwinoko, 40 Tahun

Harwinoko adalah salah satu pegawai Badan Pemeriksa Keuangan. Laki-laki kelahiran Wonosobo ini adalah sarjana akuntansi lulusan Universitas Negeri Malang.

"Kami teman dekat yang datang ke sini mewakili istrinya," kata Widyanti. "Kami satu kampus dulu di Malang. Dia biasanya cepat balas chat, tapi kami tidak bisa menghubunginya sama sekali."

Murdiman, 40 Tahun

Murdiman adalah anggota DPRD Bangka Belitung. Zulfahmi Al Faraby, putranya yang masih 19 tahun, memberi tahu ABC kalau ayahnya tidak pernah mau terbang dengan Lion Air, tapi kali ini dia terpaksa karena buru-buru ingin merayakan ulang tahun istrinya.

Daniel Darmawan berkontribusi untuk liputan ini.