Melawan Bosan

Tonton Serial Dokumenter Alam ‘Blue Planet II’ yang Indah dan Luar Biasa Membosankan

Cocok untuk ditonton sambil nyebat.
17 Juni 2018, 5:00am
Foto milik BBC 2011

Siapa sih rajanya pengisi suara? James Earl Jones? Bukan, dia mah mengidolakan Morgan Freeman. Lantas apakah Morgan mengidolakan seseorang? Kalau iya, sudah pasti jawabannya adalah Ahli Suara Alam: Sir David Attenborough.

Di acara premier serinya, Blue Planet II, yang terbaru dari franchise Planet Earth, dia berucap “lautan, yang terlihat tanpa batas, menimbulkan perasaan kagum dan penasaran, dan kadang rasa takut.” Ini akurat. Lautan yang ditampilkan Attenborough, dalam rentetan episode selama tujuh jam lamanya, memang benar menimbulkan semua perasaan tersebut dan penuh dengan binatang dan geografi yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Seekor belut menyelam ke dalam danau air asin beracun di dasar lautan dan tersetrum, berputar-putar dan berkelit-kelit penuh kejang luar biasa sebelum akhirnya terbebas dan berenang normal seakan-akan tidak ada yang terjadi.

Sekeluarga paus sperma melakukan perburuan cumi-cumi beberapa ratus meter di bawah sementara penonton mengikuti dari sudut pandang kamera yang entah bagaimana, telah dipasang ke para paus. Seekor gurita, sesaat sebelum dilahap seekor hiu, berhasil menyelipkan tentakelnya ke dalam insang hiu hingga dia tidak bisa bernafas dan harus melepaskan si gurita—kulitnya menyala dengan warna yang sangat terang seakan dia hendak masuk ke acara pesta rave.

Dan masih banyak lagi adegan-adegan yang membuat tulang kita bergidik dan otak kita terkaget-kaget, diambil dari koleksi footage dari seluruh dunia selama setengah dekade oleh Unit Sejarah Alami BBC. Semuanya disajikan untuk hiburan kita dalam bentuk proses makan-memakan binatang yang silih berganti setiap lima atau sepuluh menit. Luar biasa memukau. Sayangnya...

Sayangnya, dalam presentasi Blue Planet II, keindahan adalah satu-satunya hal yang bisa ditawarkan lautan. (Lautan kini sudah tidak banyak lagi dihuni ikan, seperti yang ditunjukkan seri ini.) Dan keindahan lama-lama bisa menjadi membosankan. Ada banyak sekali adegan indah dan makhluk luar biasa hingga kamu justru mulai ingin melihat sesuatu yang biasa saja, sekitar 15 hingga 20 menit masuk ke episode. Rasanya seperti masuk ke museum yang isinya adalah versi eksklusif Wanderer Above the Sea of Fog. Setelah beberapa saat, satu-satunya pikiran yang kamu punya adalah: Bagaimana bisa sesuatu sekeren ini juga membosankan?

Sebagian karena ini, ternyata setelah dilihat lebih teliti, banyak trik yang digunakan agak murahan, dan dicuri dari film blockbuster dan digunakan terus-menerus. Tampilkan binatang dalam gerak lambat, lempar musik score ala Hans Zimmer, dan gunakan efek foley penuh detail (bayangkan sosok orang yang merekam bunyi efek kentut dan mendesing untuk lumba-lumba). Kurang lebih begitu formulanya. Beberapa episode, terutama yang pertama, menjadi sekedar greatest-hits lautan penuh ikan, meloncat dalam waktu, ruang dan spesies hingga sulit bagi sutradara untuk menyajikan apapun selain adegan-adegan individual. Tidak heran para penonton kadang pikirannya ngelantur ketika sedang nonton.

Satu-satunya pengecualian adalah episode kedua Blue Planet II, tentang kedalaman laut. Episode tersebut sangat fokus, menyeramkan dan aneh hingga kamu tidak bisa beranjak. Lewat sebuah alat yang dipasang di bangkai paus mati seiring dia tenggelam dari permukaan laut menuju dasar laut, kita bisa menyaksikan bagaimana dalamnya laut. Episode ini sulit dihapus dari kepala.

Klise visual ditemani oleh klise linguistik. “Sang pemburu...telah menjadi...yang diburu,” ujar Attenborough. Di adegan lainnya, spesies jantan disebut “semuanya memiliki pikiran yang sama.” Yang paling parah, seekor ikan jantan yang berlomba untuk mendapatkan jodoh dideskripsikan sebagai “berada dalam posisi unggul.”

Namun ketika adegan-adegan mengagumkan mulai tampak, Attenborough mulai kehabisan kata kerja. Berbagai makhluk muncul di layar, dan alih-alih melakukan narasi menggunakan kalimat normal seperti “berikut adalah penguin kaisar,” dia hanya menyebutkan nama mereka, berhenti sejenak, dan menyebutkan jumlah mereka. “Paus bungkuk...200 ekor jumlahnya,” ujarnya. “Hiu karang abu-abu...ratusan jumlahnya.” Dua menit kemudian: “Ikan teri...berjuta-juta ekor.”

Di episode terakhir, yang berfokus di perusakan laut oleh manusia, tujuan dari seri Blue Planet II, yang sama dengan Planet Earths menjadi jelas: untuk membangun apresiasi untuk alam sehingga kita akan melindunginya dari kepunahan. Kamu bisa merasakan bahwa pencipta acara dan Attenborough melihat ini sebagai misi yang penting. Tidak ada yang salah dengan misi ini—ini adalah misi yang mulia. Namun berarti mungkin saja misi pencipta acara ini sesungguhnya mengalahkan representasi jujur dari alam yang mereka coba tampilkan.

Menurut saya, seharusnya mereka mengejar sudut yang berbeda, yang lebih segar dan orisinil dibanding sekedar mengatakan semuanya mengagumkan. Karena kagum adalah bentuk emosi dasar yang dikaitkan orang yang tidak punya hubungan dengan alam untuk alam. Bagi mereka yang intim dengan alam, ada banyak emosi yang bermunculan: kagum, jelas, tapi juga rasa sayang, bosan, takut, marah, dan kesal. Apabila dokumenter alam tidak hanya mengadopsi satu emosi ini, mungkin hasilnya akan lebih efektif mengundang penonton.

Dan contohnya bisa banyak ditemukan. Meerkat Manor, misalnya, menawarkan adegan yang lebih santai, tapi fokus di lokasi dan spesies yang sama dalam jangka waktu yang lama, dan akibatnya memberikan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam dan humor. Untuk perasaan-perasaan yang lebih negatif, kita bisa menengok penulis Amerika, Annie Dillard, yang karya-karyanya berisikan rasa marah dan horor terhadap alam.

Biarpun begitu, dibalik semua keterbatasannya, dokumenter Attenborough, memang menawarkan jeda dari banyak program sampah yang memenuhi televisi. Dan mungkin saja memang tidak ada cara yang lebih baik untuk memperkenalkan jutaan orang ke alam. Tapi tetap saja, berhubung Planet Earth dan Blue Planet adalah dua acara alam yang paling banyak ditonton orang, penting sekali bahwa dua acara ini ditampilkan dengan benar. Tapi ya hingga saat itu tiba, saya masih bosan.

Iklan