Inilah Alasan Kita Masih Terobsesi Sama Musik Favorit Saat Remaja Dulu
Lead image via YouTube
Selera Musik

Inilah Alasan Kita Masih Terobsesi Sama Musik Favorit Saat Remaja Dulu

Selera musik kita konon terbentuk sejak remaja. Kami meminta penjelasannya dari pakar yang meneliti selera tersebut.
17 Agustus 2018, 10:00amUpdated on 17 Agustus 2018, 9:35am

Coba cek musik apa saja yang kamu dengarkan akhir-akhir ini. Kalau aku: My Chemical Romance, Linkin Park, Sum 41 dan The Used. Oke, mengapa musik yang kudengarkan sangat emo dan ‘ angsty’? Semua band tadi ngehits di era 2000-an, ketika aku masih remaja. Lalu, apa hubungannya ini semua dengan selera musik kita?

Februari lalu, aku membaca artikel New York Times yang berjudul The Songs That Bind. Sosok penulisnya, Seth Stephens-Davidowitz, mengumpulkan data yang menggambarkan perbedaan selera musik antar generasi. Dia menulis artikel ini karena sempat beradu pendapat dengan adiknya soal lagu “Born to Run” ciptaan Bruce Springsteen.

Setelah menganalisis tren Spotify, Seth menyadari popularitas lagu-lagu tertentu ada kaitannya dengan kelompok usia pendengar saat mereka pertama kali mendengarkannya. Misalnya, “Creep” dari Radiohead, sangat populer di kalangan pria yang sekarang sudah di atas 30 tahun.

“Laki-laki mulai mengembangkan selera musiknya sejak 13-16 tahun, sedangkan perempuan sejak 11-14 tahun,” tulisnya. Itu artinya, orang dewasa tidak begitu sering mendengarkan musik baru. Sekarang aku paham kenapa teman-temanku, yang bisa dibilang sudah dewasa, masih ngefans dengan Gerard Way.

Selera kita tetap sama, meskipun kita sempat mencoba punya selera baru saat berusia 20-an. “Laki-laki dan perempuan berusaha menemukan selera musik baru saat usianya mulai memasuki 20-an,” terang Stephens-Davidowitz. Hmm, masuk akal.

Berkat tulisannya, aku jadi tahu kenapa sahabatku masih belum bisa menerima kenyataan Gerard Way yang sudah berhenti berteman dengan Bert McCracken. Akan tetapi, data ini tidak menjelaskan alasan sebenarnya. Usiaku sekarang sudah 25 tahun, dan aku masih semangat mencoba hal baru. Tapi, kenapa selera musikku tidak berubah sama sekali? Penasaran, aku mencari tahu alasannya dari Dr Stephanie Burnett Heyes, dosen psikologi dan peneliti pascadoktoral British Academy di University of Birmingham.

Noisey: Hai, Stephanie! Mengapa orang dewasa masih suka mendengarkan musik favoritnya dulu?
Stephanie Burnett Heyes: Masa remaja kita “sensitif sosial” atau sangat bergantung pada orang lain. Kita juga mudah menerima hal baru. Karena itulah, apa yang kita lakukan dulu cenderung lebih melekat dalam benak. Meskipun kami sulit mengumpulkan bukti ilmiahnya, tapi kami sering mengacu gagasan itu selama beberapa tahun belakangan. Kami masih mendalaminya.

Selain itu, ada kaitannya dengan otak dan “aktivitas fungsionalnya.” Hal ini saling berhubungan dengan efek sosial tadi. Ketika anak remaja memproses kegiatan yang ada balasannya, mereka akan lebih responsif daripada orang yang lebih tua atau muda darinya. Alasannya karena mereka mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukan.

Berarti semakin kita menyukai sesuatu, kemungkinan besar kita akan menyukainya di kemudian hari?
Tidak selamanya begitu, tapi ini bisa saja terjadi karena ada gabungan dari faktor-faktor tersebut.

Mengapa selera musik laki-laki berkembang lebih lambat daripada perempuan?
Ada hubungannya dengan pubertas. Perkembangan anak laki-laki lebih lambat daripada perempuan. Selain tubuh dan alat reproduksi, hormon pubertas juga memengaruhi otak kita. Cara kamu memahami dan berinteraksi dengan orang lain juga berubah. Itu hipotesisnya. Saya tertarik untuk mengamati apakah orang yang telat puber menyukai musik yang mereka dengar saat 16 atau 14 tahun.

Kenapa awal umur 20-an sepertinya krusial dalam perkembangan selera musik kita?Saya belum yakin apakah kuliah, mulai hidup mandiri dan status sosial-ekonomi seseorang membuat lonjakannya beragam. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka tinggal di tempat baru, bertemu orang baru dan menemukan hal-hal baru. Atau bisa juga ada hubungannya dengan mekanisme otak lainnya. Kami perlu mengumpulkan lebih banyak data soal ini.

Bagaimana dengan selera kita yang lain? Misalnya film atau fashion…
Tidak seperti fashion, kita merasa lebih terhubung dengan musik. Kalau sikap dan keyakinan mungkin bisa. Preferensi ideologis bisa saja terbentuk sejak kita masih remaja, karena pada saat itu kita lebih terbuka terhadap beragam jenis keyakinan.

Saya banyak belajar dari obrolan ini. Terima kasih, Stephanie!

Jangan lupa follow Daisy di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey