Iklan
K-Pop

Fandom di Indonesia, Jangan Abai Sama Kasus Pelecehan Seksual Bintang K-Pop Dong

Kalian bisa mendorong perubahan lho, minimal mulai ikut mengampanyekan #MeToo ke oppa masing-masing jika ada yang tersandung skandal pelecehan seksual.

oleh Haemotion .
01 Maret 2018, 9:24am

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman.

Di Korea Selatan, gaung gerakan #MeToo beberapa bulan terakhir sedang kencang-kencangnya. Kendati pencetusan tagar itu dimulai sejak Oktober tahun lalu—kemudian ramai di berbagai negara untuk menyebarluaskan protes korban pelecehan seksual yang dibungkam paksa—perempuan Korsel kini menemukan momentum ikut bersuara. Pemicunya adalah kesaksian jaksa perempuan bernama Seo Ji-hyun yang berani mengungkap blak-blakan pelecehan yang ia alami sebagai yunior di institusi hukum Negeri Ginseng itu pada 2010. Pelakunya adalah jaksa senior. Sejak mengalami pelecehan delapan tahun lalu, Seo bukannya diam saja. Dia sempat mengadu ke biro kepegawaian, namun sang atasan malah memberinya sanksi administrasi dan memindah Seo ke tempat dinas lebih jauh. Berkat gerakan #MeToo, kasu Seo kembali disorot. Kini kesaksian Seo menyeret banyak pejabat tinggi Korsel dan mendorong reformasi lingkungan kerja agar lebih ramah perempuan. Kepolisian Nasional Korea Selatan bahkan menindaklanjuti 19 laporan pelecehan seksual lainnya, sejak pengalaman Seo heboh di media massa.

Keadilan tampaknya akan segera diperoleh Seo dan korban-korban pelecehan seksual lain, tapi barangkali bukan untuk mereka yang bersinggungan dengan dunia K-pop. Lho kenapa? Negeri Korea yang biasa menyajikan kita semua drama percintaan romantis di mana karakter perempuan selalu dimanjakan, ternyata memiliki sisi kelam yang rutin membuat perempuan menjadi korban tak berdaya. Dalam dunia K-pop, tekanan terhadap perempuan bahkan jauh lebih berat, lantaran seringkali sesama perempuan enggan mendukung. Selama menjadi penggemar budaya pop Korea (baik musik maupun dramanya) belasan tahun, kasus pelecehan seksual di industri perfilman atau musik pop Korea menurut saya berulang kali muncul. Sayang, kabar macam itu kerap diabaikan oleh anggota fandom, termasuk dari Indonesia.

Hal itu terjadi tampaknya karena budaya para penggemar idola dari Korea terbawa sampai ke Indonesia, yakni budaya siap bela Oppa sampai titik darah penghabisan. Duh!

Saya langsung teringat kejadian dua pekan lalu, ketika satu kawan berprofesi sebagai bankir dari bank pelat merah di Jakarta tiba-tiba mengirim pesan whatsapp. Intinya dia gembira karena rating drama aktor kesayangannya tembus 20 persen.

Sebut saja kawan saya Tiana*. Dia tergila-gila sama aktor Lee Jin Wook. Rupanya drama yang ia maksud adalag “Return”, yang sempat tersangkut masalah karena ditinggalkan si aktris pemeran wanita utama, Go Hyun-joong, di tengah proses produksi. Hengkangnya aktris senior ini dikabarkan karena cek-cok dengan staf dan sutradara. Pemicu Hyun-joong hengkang intinya masih tak jelas sampai sekarang.

Tapi, saya sedikit banyak tahu tentang Lee Jin Wook. Ia pernah dilaporkan melakukan pelecehan seksual oleh satu perempuan pada 2016 lalu. Hampir setahun bergulir, laporan si perempuan dipatahkan oleh pengadilan. Setelahnya, giliran Jin Wook melaporkan perempuan tadi atas tindak pidana tuduhan palsu.

Awal Februari lalu, pengadilan di Seoul menyatakan penuduh Lee Jin Wook bersalah memberi tuduhan palsu. Majelis hakim berpendapat bila perempuan itu seharusnya, "menggunakan akal sehat untuk membedakan apakah dia terlibat hubungan seksual yang sekadar tidak diinginkan dari upaya pemerkosaan memakai taktik opresif."

Sontak komunitas penggemar K-Pop terbelah merespons kabar tadi. Putusan hakim dianggap lemah dan justru menyalahkan perempuan. Saya iseng bertanya pada kawan saya kenapa masih suka dengan Lee Jin Wook yang punya rekam jejak kasus seksual. Melebihi si hakim perkara yang terlihat tidak konsisten dengan putusannya, kawan saya justru dengan lantang menjawab bahwa Lee Jin Wook tetap pria bersih.

Wow.

Saya tidak melihat semangat #MeToo muncul di dunia fandom K-pop, seperti saat produser Hollywood, Harvey Weinstein, dikecam habis-habisan karena terbukti sering melecehkan perempuan di sekelilingnya. Bahkan, di Korsel sendiri, tagar #MeToo baru mulai sering bermunculan di linimasa akhir Januari lalu.

Lebih sedihnya, Lee Jin Wook bukan satu-satunya pesohor yang tersangkut dugaan pelecehan seksual. Sederet nama tenar lain bisa disebut memiliki kasus serupa. Mayoritas berakhir sumir dan tak jarang malah berbalik menyudutkan korban lantaran para penggemar—yang juga perempuan—ikut menyudutkan mereka yang berani bersuara.

Sebut saja Kim Hyun Joong (salah satu pemeran drama Boys Before Flower), kasus Park Si Hoo pada 2013, Onew dari boyband SHINee (sampai sekarang kasusnya masih berlangsung), dan skandal paling fenomenal adalah Park Yoo-chun dari boyband JYJ yang merupakan salah satu grup papan atas di Korea.

Park Yoo-chun, yang pernah bergabung dalam boyband TVXQ, sering dianggap berperan besar mengkampanyekan K-pop ke seluruh dunia. Sayangnya, dia sekaligus memegang rekor sebagai artis Korsel dengan keterlibatan dalam kasus pelecehan seksual terbanyak sampai saat ini.

Yoochun, panggilannya, dilaporkan dalam 5 kasus dugaan pelecehan dan kekerasan seksual sekaligus. Kasusnya sendiri mulai sejak 2016. Kelima perempuan yang menjadi korbhan mengaku dipaksa berhubungan seksual dengan Yoochun di kamar mandi sebuah tempat hiburan malam.

Dalam perjalanannya, setiap kasus melibatkan Yoochun memiliki akhir yang beda. Ada yang membatalkan laporannya, ada yang diketahui melakukan pemerasan terhadap Yoochun, dan ada yang kasusnya bergulir hingga ke Mahkamah Agung.

Tahap demi tahap dilalui, salah satu korban yang bernama Ms. Song terakhir bahkan sampai menangis di pengadilan karena merasa tidak ada orang percaya kisahnya. Bahkan banyak penggemar Yoochun menuding dia hanya ingin memeras sang artis saja.

Tangis Ms. Song menjadi-jadi ketika Yoochun di pengadilan tingkat pertama dinyatakan tidak bersalah, lalu malah balik menuntut para pelapornya atas kasus pencemaran nama baik. Jaksa menuntut Song melakukan pencemaran nama baik, hanya karena menurutnya mustahil seseorang melakukan hubungan seks dalam ukuran toilet sekecil itu.

“Pak Jaksa, apakah anda mau membunuh saya? Anda bahkan belum pernah melihat TKPnya, tapi anda mencoba menikam pisau ke dada saya,” kata Ms. Song saking putus asanya seperti dilaporkan Allkpop .

Akhir tahun lalu, Yoo-chun diputus Pengadilan Tinggi tidak bersalah, tetapi perempuan yang melaporkan juga diputus tidak terbukti melakukan kejahatan pencemaran nama baik. Hakim membuat putusan yang mengambang karena kurang bukti.

Reaksi fans atas kasus idolanya selalu terbagi di Korea, ada yang tetap mendukung ada pula yang menentang. Mereka yang mendukung biasanya beralasan belum ada putusan pengadilan yang tetap (padahal bisa kita lihat, putusan hukum di Korsel sering sumir dan bisa membahayakan si pelapor perempuan).

Dari sisi fans internasional, setidaknya ada titik cerah. Yakni sikap fanbase terbesar boyband JYJ yang mengecam keterlibatan Park Yoo-chun dalam bermacam kasus seksual. Begitu skandal Yoochun resmi bergulir di pengadilan, mereka memasang pengumuman di situsnya mencabut seluruh dukungan untuk sang idola. “Sungguh keliru jika kami sebagai penggemar masih mendukungnya,” begitu pernyataan di situs resmi mereka.

Basis penggemar di Indonesia, sayangnya, belum sesolid fandom JYJ internasional yang memiliki akun resmi dan berani mengambil sikap. Fanbase di sini sulit mengetahui mana yang resmi, mana yang hanya sekedar untuk berkumpul saja. Semua bisa mengklaim sebagai basis penggemar paling bisa dipercaya.

Saya coba mengkontak beberapa fanbase lokal, baik penggemar JYJ, Kim Hyun Joong, maupun Park Si Hoo. Tapi hanya satu yang membalas, yakni basis penggemar aktor Park Si Hoo melalui akun @sihooloversIna.

Aktor Park Si Hoo turut terbelit kasus seksual pada 2013 lalu, tapi saat ini dia dibebaskan dari segala tuduhan dan mulai berakting kembali. Saat ditanya mengenai tanggapannya terhadap kasus Park Si Hoo, jawaban mereka adalah sekadar menyayangkan.

“Skandal 2013 yang melibatkan Park Si Hoo, kami dan para fans sangat menyayangkan, sedih dan kecewa sehingga kami tidak ingin membahas masalah ini. Kami telah menjadi penggemar Park Si Hoo sebelum tahun 2013 dan sampai saat ini kami tetap mendukung Park Si Hoo untuk menjadi aktor dan personal yang lebih baik lagi dan akan terus mendukungnya.”

Jawaban serupa juga saya dapat dari kawan saya, sebut saja Herlina*, pegawai di sebuah perusahaan migas internasional, yang merupakan penggemar berat JYJ. Sewaktu kasus Yoochun pertama kali bergulir, ia sangat kecewa dan marah. Tapi kini, begitu Yoo-chun mulai terlibat pemotretan lagi, hati kawan saya lemah kembali dan mulai berburu fotonya. Ow..ow.

Sungguh saya berharap kasus Ms. Seo di atas bisa berakhir jelas dan mendapat perlindungan dari pemerintah. Semoga Ms Seo tidak bernasib serupa dengan perempuan para korban selebritis pria yang berbalik diserang.

Sungguh saya ingin kawan-kawan saya, sesama penggemar budaya pop Korea, tak hanya memikirkan nasib idolanya saja saat diserang kasus namun juga nasib sang perempuan yang menjadi korban, dan membutuhkan segunung keberanian melaporkannya.

Jika kalian lupa, ingatlah kembali kasus yang melanda aktris pendatang baru Jang Ja Yeon (di drama Boys Before Flowers dia berperan sebagai salah satu gadis kaya yang hobi mem-bully Geum Jan-di).

Ja-yeon ternyata dipaksa melayani para petinggi dunia hiburan oleh agensi dan manajemennya demi memuluskan karir. Tak kuat, Ja-yeon kemudian bunuh diri, sembari meninggalkan surat sebanyak tujuh halaman tentang apa yang terjadi di dunia pekerjaannya dan fakta tak ada pihak berani buka suara. Meski Jang menuliskan rinci siapa-siapa saja pelakunya, sekaligus di mana tempat kejahatan itu terjadi, tak satupun pelaku dijatuhi hukuman.

Ini sekali lagi, bukan hanya soal lemahnya hukum, tapi akibat minimnya suara sesama perempuan dalam mendukung wanita lainnya yang kemungkinan kuat menjadi korban pelecehan seksual.

Makanya, sebisa mungkin, ketika idola tampan kalian tersandung kasus dugaan pelecehan dan kekerasan seksual, yang harus mulai lebih sering kita gaungkan adalah #MeToo, Oppa! Kita harus ada di pihak si korban, agar tak ada Ja Yeon lainnya yang pergi meninggalkan dunia menyimpan duka begitu dalam.


*Beberapa nama narasumber diganti pseudonim untuk melindungi privasinya di dunia maya

Tagged:
indonesia
Skandal
fandom
Diskriminasi
Pelecehan Seksual
Bias Gender
#metoo
Penggemar K-Pop
Seo Ji Hyun
Lee Jin Wook
Penggemar