Deretan Foto Tentang Kondisi Buruh yang Menyesakkan Hati

Pameran 'Labor & Materials' tak cuma menyigi kondisi kerja buruh masa kini, tapi juga secara tak langsung menyingkap ketergantungan kita akan komputer dan teknologi

|
09 Maret 2018, 5:11am

Zhang Huan,  To Raise the Water Level in a Fishpond, 1997. Milik seniman ybs.

Lewat segepok foto pekerja dari seluruh penjuru dunia, pemeran Labor & Materials menyigi evolusi pekerjaan dan industri di abad 21. Dengan segala macam karya seni yang dipajang, dari kolase hingga fotografi, pameran ini berupaya memeriksa bagaimana skala dan kecepatan perkembangan teknologi memengaruhi produksi barang dan jasa. Tujuannya menyibak ketidakadilan yang dialami para buruh di seluruh dunia terutama dalam pabrik-pabrik industri ponsel dan komputer.


Karya-karya yang dipajang dalam pameran ini menyindir kontradiksi kehidupan modern dengan efisiensi yang diharapkan dapat mengajukan sebuah pertanyaan menohok “lantas, siapa yang rugi?”

Pieter Hugo, Abdulai Yahaya, Agbogbloshie Market, Accra, Ghana, 2010.

Labor & Materials, kita diajak melihat kehidupan dan situasi kerja para buruh lewat sudut pandang intim 15 fotografer internasional. Di antara karya-karya fotografi tersebut, terdapat jepretan dua fotografer asal Afrika Selatan Pieter Hugo dan Zanele Muhol, yang menawarkan sisi-sisi kehidupan pekerja di sana yang jarang diungkap atau malah dilupakan. Sementara itu, foto-foto Alejandro Cartagena merekam dampak dari bobroknya sistem transportasi publik di Monterrey, Meksiko. Beberapa fotonya menampilkan beberapa orang yang tertidur di bak mobil pick-up yang mereka tebengi. Pierre Gonnord membidikkan lensanya pada keseharian para penambang di Asturias, Spanyol. Fotografer ternama dari Beijing, Zhang Huan mengabadikan buruh rural sembari secara puitis menyinggung tentang ketersediaan lapangan kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan roda industri.

Pierre Gonnord, Miroslaw, 2009

Pameran Labor & Materials digelar di 21c Museum Hotel , Bentonville, Arkansas—yang dikenal sebagai markas besar jaringan waralaba Walmart. Pameran yang memfokuskan diri pada perkembangan industri massal global ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang bagaimana bentuk tenaga kerja di masa depan serta bagaimana implikasinya pada perilaku konsumsi manusia.

Lewat email, kami pun mengajukan beberapa pertanyaan pada Alice Gray Stites, kuratur pameran ini tentang visi dan pesan pameran ini yang sepertinya sangat kekinian—sekaligus tak lekang dimakan waktu.

VICE: Bagaimana kamu memilh foto-foto dalam pameran ini?
Alice Gray Stites: Semua fotografer yang karyanya dipajang di Labor & Materials, seperti seniman lain yang ikut berpartisipasi dalam pameran ini, dipilih karena karya-karya mereka berani mengajukan pertanyaan penting terkait evolusi industri, teknologi serta kondisi kerja saat ini, di tengah perubahan global yang hebat dan berlangsung dengan cepat.

Kebanyakan karya dalam pameran ini terkesan mengejek, terutama karya Zhang Huan dan Zanele Muholi, bisa kamu sedikit jelaskan tentang karya kedua fotografer ini?
Zhang Huan, yang meninggalkan desanya untu melanjutkan pendidikan di Beijing, sudah punya nama di kancah performance art lantaran karya-karyanya yang pelik dan mengaitkan konsep kontemporer tentang alam, sejarah, politik dan tenaga kerja. Dalam To Raise the Water Level in a Fish Pond, para artis benar-benar bersentuhan langsung dengan alam dan melakukan kerja yang sifatnya remeh—masuk kolam ikan untuk menaikkan permukaan airnya setinggi satu meter. Ini adalah upaya menggambarkan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan berarti.

Dalam seri karya Massa and Minah series, Zanele Muholi mengarahkan lensanya pada dirinya dan sejarah keluarganya. Dia menjelaskan bahwa “proyek ini dibuat berdasarkan kisah hidup ibu saya. Saya menggali kenangan pribadi saya dan menghormati ibu saya yang bekerja sebagai pembantu keluarga yang sama selama 42 tahun. Seri karya ini dimaksudkan untuk mengakui keberadaan pekerja domestik di seluruh penjuru dunia yang terus bekerja dengan penuh hormat, kendati harus menghadapi kemungkinan siksaan fisik, emosional bahkan finansial di tempat kerja.” karya Muholi adalah sebuah paparan historis tentang kerja ibunya serta perempuan kulit hitam lainnya yang pernah dan masih terperangkap dalam sistem yang mengekang pekerja perempuan kulit hitam.

Apa yang membuat pameran ini relevan saat ini?
Proses otomatisasi angkatan kerja di seluruh dunia yang tak terhindarkan akhir-akhir ini kerap muncul dalam beragam diskusi, selain topik-topik macam akses terhadap pekerjaan, barang serta jasa di hadapan kesenjangan ekonomi yang makin menjadi-jadi. Skala, cakupan dan kecepatan inovasi teknologi yang kita jumpai saat ini memicu perubahan terkait apa, bagaimana, di mana serta oleh siapa barang dan jasa diproduksi, yang sebelumnya pernah kita saksikan. Para ekonom menggambarkan ledakan kemunculan platform dan produk anyar di era digital saat ini—seperti robot dan jenis pekerja otomatis lainnya, mobil swakendali, printer tiga dimensi, internet dan perdagangan global yang dipicu penggunaan kontainer pemasaran—sebagai sebuah titik infleksi; suatu masa ketika cara kita kerja dan hidup mengalami perubahan mendasar. Pertanyaannya adalah bagaimana sebenarnya bentuk titik infleksi ini? Bagaimana perubahan perdagangan dan konsumsi global ini memengaruhi akses terhadap barang, jasa, informasi dan infrastruktur?

Zanele Muholi, Massa and Minah II, 2008

Zanele Muholi, Massa and Minah I, 2008

Alejandro Cartagena, Car Poolers #14, 2011–2012

Alejandro Cartagena, Car Poolers #26, 2011–2012

Purdy Eaton, American Habitat 2, 2009.

Purdy Eaton, American Habitat 2, 2009

Follow Marina Garcia-Vasquez di Twitter .