Quantcast
Gerakan Perempuan

Deretan Makna Perjuangan Bagi Mereka yang Terlibat Women's March di Indonesia

Berbagai isu mengancam kesetaraan dan kebebasan di negara ini membuat berbagai kalangan—baik perempuan, lelaki, maupun minoritas seksual—terlibat dalam pawai Women's March akhir pekan lalu di berbagai kota Indonesia.

Ananda Badudu

Ananda Badudu

Semua foto oleh Firman Dicho.

Sepanjang akhir pekan lalu, perempuan dan pegiat kesetaraan dari berbagai kota di Indonesia menggelar Women's March. Lewat media sosial, mereka yang hirau akan isu perempuan dalam aspek apapun diajak untuk meramaikan aksi urun aspirasi yang digelar di banyak kota sekaligus, di antaranya Jakarta, Sumba, Salatiga, Denpasar, Bandung, Lampung, Yogyakarta, dll.

VICE Indonesia menyempatkan diri mampir ke Womens March yang digelar di Jakarta pada Sabtu 3 Maret lalu. Acara dimulai dengan kumpul-kukmpul di pelataran hotel Sari Pan Pacific untuk seterusnya beramai-ramai berjalan ke taman aspirasi seberang Istana Kepresidenan. Acara berlangsung dari jam 8 pagi hingga 12 siang. Sekitar seribu orang ikut urun suara sampai akhirnya bubar karena guyuran hujan.

Ngomong-ngomong soal isu perempuan, memang banyak sekali yang bisa dibicarakan. Kelompoknya pun beragam tak hanya satu saja. Ada yang berkawan, ada juga yang berseberangan. Tapi pada Womens March kemarin semua bebas membawa aspirasi masing-masing, akur beraksi bersama di jalan.

Salah satu faktor yang merisaukan banyak orang adalah rencana revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ada beberapa pasal berpotensi mengkriminalisasi korban pemerkosaan, komunitas LGBT, hingga mereka yang hidup serumah tanpa ikatan pernikahan.

Beruntung, beleid kontroversial itu batal diloloskan dalam rapat paripurna DPR bulan lalu. Namun tetap saja, ancaman terhadap kebebasan dan kesetaraan, termasuk untuk perempuan, masih terus mengintai. Merespons kondisi itulah, Women’s March tahun ini di Jakarta menyerukan penghentian intervensi negara terhadap tubuh warganya.

Dengan semakin meningkatnya intoleransi, aktivitas polisi moral, dan seruan-seruan persekusi, pemahaman tentang apa makna menjadi perempuan dan minoritas seksual jadi penting untuk kita dalami. Benarkah perjuangan demi kesetaraan berhasil dicapai perempuan Indonesia setelah reformasi? Apa yang dirasakan oleh para peserta Women’s March 2018 terhadap realitas republik ini beberapa waktu belakangan?

Berikut obrolan kami bersama foto-foto dari aksi tersebut:

Sianawati Sunarto (66 tahun) dan Nina Hidayat (29)

Pasangan ibu dan anak Sianawati dan Nina

Buat tante, apa rasanya jadi perempuan di Indonesia di tahun 2018 ini?
Sianawati: Sebetulnya dibandingkan dulu saya masih muda, sekarang perkembangannya luar biasa. Walaupun tekanannya juga jadi luar biasa sekali. Jadi berkembang itu karena sekarang ada kesadaran seperti oh saya bisa berkarya di bidang ini atau itu sementara dari pihak, maaf saja, dari laki-laki tidak begitu mendukung karena merasa terancam. Jadi merasa maskulinitasnya itu direndahkan. Padahal kita maksudnya itu bukan merendahkan tapi ya sama-sama saja, toh kita bisa bekerja sama.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal itu?

Edukasi. Kalau saya selama ini melakukannya lewat psiko-edukasi. Poin utama yang kita sampaikan dalam edukasi itu meluaskan wawasan bahwa kalau setara itu bukan berarti laki-laki kehilangan maskulinitas.

Susahkah laki-laki menerima pandangan itu?
Wah, susah. Untuk kalangan tertentu susah. Kalau yang muda-muda relatif lebih mudah, seperti di kampus saya, mahasiswa psikologi umumya bisa menerima. Tapi kalau yang masih tradisional, agak susah.

Kalau Nina merasanya seperti apa menjadi perempuan di Indonesia hari-hari ini?
Nina: Saya lumayan punya privilese karena tumbuh di keluarga yang girl power-nya itu kerasa banget. Dari keluarga ibu saya, kakak-adiknya itu semua perempuan, dan semua perempuan itu mandiri, ada yang wirausaha, ada yang sudah bercerai dan jadi hidup mandiri. Dari kecil saya sudah lihat itu.Dari kecil saya lihat itu, bahwa kita bisa jadi apapun yang kita mau. Kalau di tempat kerja, karena saya kerja di media urban, menurut saya seksisme-nya tak terlalu terasa. Yang terasa itu kalau di jalan. Di Jalan itu, mungkin karena faktor saya keturunan tionghoa, sering banget mengalami catcalling, digerepe orang di jalan itu sering banget, dan itu menurut saya sesuatu yang saya bawa terus dari kecil, remaja, sampai sekarang.

Gimana caranya bisa sama-sama mengatasi masalah itu?
Pertama kali saya mengatasi masalah itu ketika saya mulai bicara tentang kekerasan seksual di jalanan, waktu kuliah ada semacam NGO yang datang ke kampus, minta kita cerita pengalaman kita sebagai perempuan. Itu pertama kalinya saya bicara tentang kekerasan seksual di jalanan, dan itu yang membantu menyembuhkan saya dari trauma yang dialami 10 tahun terakhir.

Dea Safira (25)

Ceritain dong soal baju yang kamu pakai sekarang? Apa maksudnya?
Dea: Aku hari ini pakai pakaian seperti ini untuk bilang bahwa feminisme itu bukan dari barat, itu sudah ada dari zaman dulu kala. Nilai-nilai yang menempatkan perempuan sebagai seseorang yang mulia, pemimpin, pejuang, sebagai ratu, itu sudah ada dari zaman dulu. Jadi kita enggak perlu bilang feminisme itu datang dari barat. Emang kata feminis itu datang dari barat, tapi nilai-nilainya itu sudah ada dari dulu. Misalnya saja soal bhinneka tunggal ika, itu yang bikin perempuan, namanya Gayatri Rajapatni. Nah kalau digali lebih dalam maknanya, yang dia bicarakan itu ada kaitannya dengan intersectional feminism, feminisme yang mencakup semua perempuan dari semua latar belakang. Itu konsepnya sudah dari zaman dulu sekali.

Neno (29)

Hai, menurutmu apa persoalan terbesar bagi perempuan Indonesia saat ini?
Neno: Aku ingin ngedorong KUHP itu jadi aturan yang melindungi perempuan. Karena kalau diliat rancangan yang sekarang itu kan kayak masih melemahkan perempuan. Mendorong persekusi. Kayak misalnya soal korban perkosaan. Korban tuh udah punya beban psikologis, dan kalau misalnya hukum enggak membantu, masih bisa diselintutin gimana caranya biar pelaku bisa bebas, itu kayak enggak kuat banget buat ngelindungin korban. Termasuk juga soal kekerasan seksual. Itu juga enggak dilindungi secara hukum. Kayak misalnya orang diancem, terus kita lapor polisi. Eh di sana malah dibilangin, ya elah elo tuh cuma diancem doang enggak diapa-apain. Padahal ancaman kekerasan seksual enggak jauh beda dengan perkosaan. Jadi harus ada sih hukum yang lebih komprehensif ngelindungin perempuan.

Nash Alexander (16)

Apa rasanya jadi kelompok minoritas seksual di Indonesia saat ini?
Yang pasti enggak suka, karena merasa dicurangin. Enggak adil. Hak-hak kita itu dibiarin aja, enggak ditanggepin. Hak-hak itu maksudnya kayak, yang ada di kampus-kampus kayak dibenci aja gitu.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi itu?
Kita bisa saling memberi edukasi tentang kelompok-kelompok minoritas yang dibilang masih tabu itu. Kami memberi edukasi pada kelompok mayoritas. Kayak misalnya soal orientasi seksual dan identitas gender, itu kan secara sains memang rumit begitu ya. Tapi itu kan memang ada, dan itu normal-normal aja. Cuman di sini kita kan malah jatuhnya membenci orang LGBT, enggak pernah ada usaha untuk memahami, membencinya itu karena apa? Lebih banyak karena ikut-ikutan. Harusnya bisa dibahas, kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu? Misalnya kenapa ada homoseksual, itu kan salah satu orientasi seksual, itu bukan penyimpangan, kalau penyimpangan itu kan kayak pedofil.

Sisi Wahyuni (32)

Hai, boleh jelasin apa yang ingin kalian sampaikan lewat spanduk itu?
Sisi: Kita ingin pekerja seks di Indonesia diperlakukan adil, seperti pekerja seks di Australia begitu misalnya. Kenapa? Karena mereka di sana itu diberi kesempatan untuk cek kesehatan genetalia dan lain-lain. Sementara di sini pekerja seks itu kan seringnya dilihat sebagai orang yang busuk. Kerjanya maksiat. Akhirnya hak-hak mereka, hak-hak kesehatan mereka tidak dipedulikan… Yang di mucikari ini bangsat banget. Si mucikari ini datang ke desa-desa, mereka kasih uang ke keluarga yang kemudian jadi utang yang harus dibayar anaknya. Utangnya itu kan berbunga, akhirnya bekerja lah si anak-anak ini di hotel-hotel. Mereka kerja paling berapa, dipotong segala macem, lebihan yang mereka terima hanya Rp50 ribu. Kita berharap masyarakat ikut dukung pekerja seks, melihat mereka itu pekerja juga sama dengan pekerja yang lainnya. Mereka berhak untuk sehat… Aku berharap dari teman-teman Women's March ini, entah dari pihak perempuan atau laki-laki, sadar akan hak-hak mereka.

Dimmi (29) dan Uti (31)


Dari tadi belum ada yang ngungkit segitu spesifik soal jilbab nih. Jelasin dong aspirasi kalian?
Uti: Orang kan sering banget ngatur cara berpakaian perempuan. Kayak misalnya kasus perkosaan, yang didorong bukannya gimana caranya biar laki-laki enggak merkosa orang, tapi malah ngedorong gimana sebaiknya perempuan berpakaian, menutup tubuhnya, memakai pakaian yang menurut mereka sopan atau baik. Padahal kan tubuh perempuan itu otoritas masing-masing mereka. Mereka bebas berekspresi sesuai dengan keinginan. Jadi menurutku negara dan masyarakat enggak punya hak mengatur tubuh perempuan. Lalu mereka juga suka membeda-bedakan orang yang pake jilbab dan yang enggak. Pakaian itu emang identitas, tapi itu bukan alat untuk menilai orang.

Oke, kamu kan punya pemikiran seperti itu ya. Kalau misalnya ngejelasin ke keluarga nilai-nilai seperti itu sulit enggak?
Uti:
Sulit banget. Karena ada yang pernah bilang berdakwah itu paling sulit di keluarga. Kalau misalnya identitas seperti ini kan hubungannya sama agama. Nah kalau soal agama itu aku prinsipnya ya keyakanku-keyakinanku, keyakinanmu-keyakinanmu. Jadi aku pikir cukup saling memberi pengertian aja, enggak harus selalu berdebat. Proses diskusi itu pasti bagus, tapi enggak selalu ujungnya harus saling sepakat. Ya, tapi emang susah sih. Yang penting bukan saling mengerti sih. Saling nerima aja dan menghargai keputusan masing-masing.

Dimmi: Haha... Kalau aku malah kebalikan. Ada yang pakai jilbab malah mamaku takut. Takut nanti pikirannya jadi tertutup.

Noval (20) dan Fajar (26)

Noval dan Fajar

Aspirasi yang kalian bawa ke sini apa?
Fajar: Banyak, hahaha…

Yang berkaitan dengan spanduk yang kalian bawa?
Fajar: Yang paling urgent saat ini adalah soal KUHP. Buat kita itu adalah the most pressing issue. That’s the number one demand that we’re trying to get thru from this march. Karena itu menyangkut kehidupan semua orang sih. Kalau itu lolos, kita semua masuk penjara.

Noval: Apalagi orang-orang rentan kayak kita.

DPR yang membahas RKUHP itu kan jarang sekali mengundang pihak-pihak yang akan diatur, apalagi untuk isu LGBT. Tanggapan kalian soal itu bagaimana?
Fajar: Kayaknya itu klasik di semua pemerintahan ya. Kayak misalnya di Amerika aja, untuk aturan-aturan yang menyangkut hak perempuan, itu dibikin oleh laki-laki dan kebanyakan kulit putih. Menurut aku, memang mudah untuk patah arang kalau melihat cara kerja pemerintahan. Menurutku aksi begini yang menunjukkan bahwa kita sebagai warga negara tidak tinggal diam, sebagai rakyat, sebagai subjek dan objek dari aturan pemerintahan itu.

Noval: DPR itu sekarang bukan wakil rakyat lagi.

Kalau misalnya RKUHP disahkan sebagaimana adanya sekarang. Apa yang kalian akan lakukan?
Fajar: We’re gonna keep on fighting. Mungkin dengan judicial review? Masih banyak cara melawan itu. Kebanyakan kalau di Indonesia itu untuk orang-orang LGBT cepet kalut sendiri, lalu langsung kabur ke luar negeri. Masalahnya kan enggak semua orang bisa pergi ke luar negeri. Gimana dengan yang enggak bisa? Gimana dengan yang suka tinggal di sini? Itu kan banyak.

Noval: Jangan sampai orang-orang di DPR itu harus nunggu ada keluarganya yang ditangkep gara-gara undang-undang yang mereka bikin baru mereka ngerti.

Fajar: Begini deh, kalau ada dari kelompok LGBT memperjuangkan hak-hak mereka. Itu bukan soal kita minta kawin. Kita ingin hidup aja. Kayak misalnya cewek-cewek tomboy. Kan mereka tidak dibeda-bedakan. Kalau kita bicara laki-laki trans begitu misalnya, itu mereka buat cari kerja sulit lo. Tinggal di mana juga ada perasaan takut. Takut ditangkap, takut dikucilkan, takut diusir. Sebenarnya tujuan dari pegerakan LGBT itu menurutku itu.

Alce Makanuay (38)

Alce Makanuay

Apa yang mendorong kakak datang ke Women's March?
Alce: Kami bekerja di Puskesmas, kami melayani rujukan kasus perempuan dan anak yang mengalami kasus kekerasan. Kita untuk prosesnya agak susah karena aturan adat yang ada begitu kuat dan mengikat, jadi kalau perempuan sudah dipinang, keluarga dikasih uang oleh orangtua pihak laki-laki, itu jadi sepenuhnya wewenang laki-laki. Istilahnya perempuan itu mau diapakan, terserah pihak laki-laki. Satu lagi yang jadi kesulitan, ketika perempuan secara ekonomi bergantung kepada laki-laki. Ketika kasus kekerasan sudah diproses sampai kepolisian, tapi kemudian dicabut kembali karena dia berpikir, kalau suami saya dipenjara bagaimana dengan ekonomi saya? Anak-anak saya? Itulah beberapa kesulitan yang membuat kami sulit meneruskan kasus sampai ke pengadilan. Sampai menimbulkan efek jera pada laki-laki. Tapi kalau mereka yang sudah mengerti hukum, yang sudah mandiri, sudah mapan, secara ekonomi mandiri, biasanya mereka mau lanjut sampai pengadilan. Hal lain yang bikin kasus kekerasan sulit teratasi, kasus itu masih dianggap sebagai aib. Jadi mereka simpan sendiri, tidak mau menceritakan pada orang lain.

Kak Alce menangani yang di Jayapura saja?
Iya di Jayapura ada tiga puskesmas yang layani pendampingan, salah satunya kami. Tapi yang datang ke sana banyak, tidak dari Jayapura saja. Tidak hanya orang asli Papua saja, orang luar juga bisa datang.

Seberapa berat skala kekerasan pada perempuan dan anak yang terjadi di Jayapura?
Sebenarnya begini. Kasus kekerasan fisik memang banyak ya. Tapi yang lebih banyak itu kasus kekerasan verbal. Mungkin itu dianggap biasa saja, tapi itu sebenarnya tidak boleh. Kalau yang macam anak-anak, pelecehan seksual di sana memang masih banyak, masih tinggi. Orang tua memukul anak juga tinggi. Banyak juga kasus perempuan sedang hamil besar, masih harus meladang, ke kebun, sementara laki-laki ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Itu banyak kasus seperti itu, memang Papua ciri khasnya seperti itu.

Sebulan kira-kira ada berapa yang melapor?
Kalau kita di Puskesmas itu beragam. Kadang ada 10 kadang 15, itu memang beragam. Itu yang lapor ya. Yang takut ngomong lebih banyak lagi. Ini sebenarnya fenomena gunung es.

Sumber masalahnya apa di sana kak?
Pertama itu karena miras. Laki-laki Papua memang suka minum-minum miras. Setelah pulang ke rumah, lihat tidak ada makanan, bisa jadi malah pukuli istrinya. Masalah pengangguran tinggi juga jadi pemicu. Lalu ada lagi hukum adat. Hukum adat membuat perempuan sulit membela diri. Untuk pertemuan-pertemuan tertentu, perempuan posisinya selalu di belakang, yang mengambil keputusan adalah laki-laki.