VICE Votes

Mereka yang Mencoblos Dari Dalam Penjara, Terus Mengharap Keadilan Tiba

Kontributor VICE mendatangi Rutan Salemba, bertanya pada para narapidana kenapa mereka tetap percaya pada demokrasi.

oleh Muhammad Ishomuddin
17 April 2019, 10:29am

Semua foto oleh penulis.

Suara riuh, seperti dengung ribuan lebah, terdengar dari pintu gerbang Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat. Ketika rombongan jurnalis diperiksa oleh sipir yang berjaga di gerbang, suara yang saya dengar makin kencang saja.

Setelah berhasil masuk, rupanya sumber suara adalah area lapangan basket Rutan Salemba. Lapangan itu disulap menjadi tujuh tempat pemungutan suara. Terlihat dari balik pagar besi banyak sekali napi WNI maupun warga negara asing menyambut kedatangan kami.

Dari pukul 8 pagi para napi sudah mulai memadati area lapangan basket. Narapidana mendekam di rutan ini karena berbagai kasus hukum, tapi mayoritas lantaran perdagangan narkoba dan pembunuhan. Karena seluruh TPS terpusat di lokasi yang sama, akhirnya antrean membludak.

Sebagian napi yang sudah berdiri lebih dari 30 menit mulai gelisah. Pemeriksaan sipir jauh lebih ketat buat tahanan, dibanding yang saya rasakan saat masuk.

"Antreannya panjang banget," kata salah satu napi yang enggan disebut namanya.

"Setelah masuk kita cek nama sama nomor antrean, kita dulu di TPS sesuai nomer antara TPS 071-077, terus ngantri lagi baru nyoblos, ribet lah," kata Rudi, warga binaan lain.

Mendadak suara jadi lebih riuh lagi. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyambangi rutan. Sebagian narapidana berteriak "Prabowo... Prabowo."

Anies tidak merespons dan hanya tersenyum, kemudian menemui pejabat rutan.

Ternyata, dari 4000-an napi, hanya separuh yang menggunakan hak suara hari ini. Penyebabnya macam-macam. "Tidak semua tercatat dalam DPT, ada yang baru masuk, ada yang baru keluar, sementara yang sudah kita data ada yang sudah dikeluarkan dari rutan," kata Masjuno, Kepala Rutan Salemba saat dihubungi VICE.

1555490441922-VICE-Pemilu-Salemba-4-of-20

Narapidana merupakan kelompok marjinal di negara ini. Tapi nyatanya banyak dari mereka masih menggunakan hak pilih.

Salah satunya adalah napi yang minta dipanggil Agus. Dia memutuskan ikut mengantre lebih dari satu jam, daripada berdiam di sel. "Lumayan buat menyuarakan pilihan saya juga," ujarnya.

Tapi, kata Agus, banyak kawannya sengaja tidak menggunakan hak pilih. Mereka menganggap siapapun jadi presiden dan masuk parlemen, tidak akan mengubah keadaan penghuni bui. Tak sedikit penghuni lapas yang sakit hati setelah tahu dalam pemilu kali ini bekas koruptor masih bisa menjadi calon anggota legislatif.

"Hampir ada separuhnya dari total semua napi di sini [golput]," ujarnya, sedikit berbeda dibanding keterangan Kepala Rutan.

Menjelang petang, pada 17 April, semua lembaga survei kredibel menyatakan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dibanding Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dengan selisih 9 persen.

Agus merasa tidak punya banyak aspirasi, sekalipun dia memberikan suaranya untuk salah satu capres dan partai. Jadi, apa yang dia harapkan?

"Keadilan," ujarnya singkat, sembari tersenyum, lalu kembali ke selnya dengan jari kelingking berkelir ungu.

1555496368863-VICE-Pemilu-Salemba-20-of-20
1555496410096-VICE-Pemilu-Salemba-5-of-20
1555496717605-VICE-Pemilu-Salemba-9-of-20
1555496736056-VICE-Pemilu-Salemba-19-of-20
1555496758029-VICE-Pemilu-Salemba-3-of-20
1555496895948-VICE-Pemilu-Salemba-12-of-20