Iklan
Virus Kebal Obat

Asia Tenggara Wajib Waspada, Parasit Malaria di Kawasan Ini Sudah Kebal Obat

Parasit super ini perlahan mulai dominan di kawasan Mekong, khususnya di Kamboja dan Laos. Sangat mungkin varian ini bisa menyebar ke Indonesia.

oleh Lex Celera; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
25 Juli 2019, 4:12am

Foto ilustrasi malaria via Pixabay 

Penelitian yang diterbitkan awal pekan ini di Jurnal The Lancet, memperingatkan keberadaan parasit malaria jenis baru yang resistan obat. Parasit tersebut pelan-pelan mulai menyebar di Asia Tenggara. Parasitnya sudah muncul di Kamboja, Laos, Vietnam, serta Thailand Utara.

Para peneliti memeriksa sampel darah pengidap malaria di Asia Tenggara. Mereka mendapati ada 80 persen parasit yang semakin kebal terhadap dua obat antimalaria yang populer: artemisinin dan piperakuin.

Parasit malaria resisten terhadap obat sebelumnya juga pernah menyebar di Kamboja Barat sekitar kurun 2008-an. Subgrup baru dari virus asli telah bermutasi, membentuk ketahanan yang lebih kuat. Mereka cepat mengalahkan jumlah parasit aslinya, terutama di Kamboja, Laos, dan Vietnam.

Kombinasi obat DHA-PPQ (dihydroartemisinin-piperaquine) dulunya sangat manjur membasmi parasit malaria. Tetapi dokter mulai memperhatikan tanda-tanda kekebalan pada sejumlah pasien sejak 2013. Dalam penelitian terbaru yang membahas keampuhan obat tersebut, tingkat kegagalan DHA-PPQ mencapai 62 persen di Kamboja Barat, 53 persen di barat daya Vietnam, dan 87 persen di timur laut Thailand.

"Penyebaran varian virus tahan artemisinin dan piperakuin semakin luas jangkauannya," demikian kesimpulan Rob W. van der Pluijm MD, anggota unit Penelitian Obat Tropis Mahidol-Oxford,saat diwawancara The Lancet lewat podcast. "Temuan kami membuktikan parasitnya tak hanya sekadar menyebar, tetapi juga menjadi dominan di wilayah tersebut."

Meski terdengar menakutkan, bukan berarti penyakit malaria sekarang tak bisa disembuhkan. Menurut van der Pluijm, ketahanan parasit dapat dihentikan dengan mengonsumsi kombinasi dua obat. Namun, ada kekhawatiran strain tersebut akan menyebar ke daerah-daerah yang kasus malarianya tinggi, seperti Afrika dan India.

"Parasit kebal obat mampu menyerang wilayah lain dan memperoleh sifat genetik baru. Ada prospek mengerikan virus ini menyebar ke Afrika, di mana sebagian besar malaria terjadi. Peristiwa mirip resistan chloroquine pada 1980-an, yang mengakibatkan jutaan kematian, bisa saja terulang kembali," kata salah satu peneliti, Prof Olivo Miotto, kepada BBC.

Laporan Malaria Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 219 juta orang terjangkit penyakit malaria pada 2017, meningkat dua juta dibanding setahun sebelumnya. Akibatnya, 435.000 orang meninggal pada tahun itu.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.