Tata Surya

Umat Manusia Kirim Wahana ke Titan, Satelit Saturnus yang Diduga Punya Kehidupan

Wahana Dragonfly milik NASA akan menyelidiki berbagai zat organik di planet tersebut, untuk memahami asal-usul kehidupan di alam semesta.
01 Juli 2019, 6:01am
Gambar konsep wahana Dragonfly bikinan NASA yang akan ditugaskan pergi ke Titan. Foto oleh: NASA/JHU-APL
Gambar konsep wahana Dragonfly bikinan NASA yang akan ditugaskan pergi ke Titan. Foto oleh: NASA/JHU-APL 

Rencana ini telah resmi diumumkan. Umat manusia bersiap kembali ke mengunjungi salah satu bulan di orbit Saturnus, Titan, satelit terbesar kedua di tata surya. Titan sekaligus satu-satunya satelit alami dengan atmosfer padat dengan kondisi mirip Bumi.

Pekan lalu, NASA menyetujui pelaksananaan misi Dragonfly, yang akan meluncurkan sebuah quadcopter ganda yang mampu terbang ke berbagai lokasi di permukaan Titan. Rotorcraft seberat 450 kilogram ini kini dijadwalkan lepas landas pada 2026 dan tiba di Titan pada 2034.

"Tak banyak lokasi seperti Titan di tata surya, dan mustahil mengulang misi seperti Dragonfly," kata Thomas Zurbuchen, salah satu pakar senior NASA, dalam pernyataan tertulis. "Sangat mengagumkan jika kita membayangkan rotorcraft ini bakal terbang melalui bukit pasir organik pada satelit terbesar Saturnus dan menyelidiki proses-proses yang membentuk lingkungan luar biasa di sana."

Ukuran Titan 50 persen lebih besar daripada bulan Bumi, dikelilingi atmosfer tebal berbasis nitrogen. Lapisan gas padat ini mengaburkan permukaannya jika dilihat dari luar angkasa. Tetapi wahana milik Badan Antariksa Eropa, Huygens, sempat memotret permukaannya pada 2005 lalu ketika kapal Cassini NASA mengantarnya ke bulan.

Huygens, satu-satunya kapal ruang angkasa yang pernah mendarat di planet luar tata surya, mengkonfirmasi adanya laut dan danau hidrokarbon cair di permukaan Titan. Senyawa ini, termasuk etana dan metana, merupakan bahan penting sebagai prasyarat munculnya kehidupan, yang sudah lama menarik perhatian pada ahli astrobiologi.

"Dragonfly akan mengunjungi dunia Titan yang penuh berbagai zat organik. Di permukaan satelit itu kami menduga terdapat banyak bahan pokok kehidupan. Temuan dari Titan berpotensi memberi pengetahuan bagi manusia di Bumi tentang asal-usul kehidupan," ujar Thomas.

Huygens hanya mampu mengumpulkan data beberapa jam saja. Terutama sedikit gambar ketika hendak melakukan pendaratan. Wahana itu langsung rusak dan tidak bisa lagi mengirim gambar ke Bumi setelah mendarat di permukaan Titan.

Sadar akan risiko tersebut, insinyur NASA merancang Dragonfly agar bisa menjalani misi selama dua tahun. Tim ini dipimpin ilmuwan Elizabeth Turtle, yang berencana mendaratkan wahana tersebut di lapangan bukit pasir, tepat di garis khatulistiwa Titan.

Dari situ, Dragonfly akan melakukan penerbangan singkat, masing-masing sejauh 8 kilometer, demi menjelajahi dan mengambil sampel berbagai bentang darat dari satelit Saturnus tersebut. Dragonfly diperkirakan bakal menempuh jarak lebih dari 160 kilometer selama berada di Titan, lebih lama dari semua wahana antariksa bikinan manusia lainnya sepanjang sejarah.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Iklan