Iklan
LGBTQ

Mengintip Sisi Lain Industri Seks 'Ladyboy' di Thailand

"Aku bekerja seperti ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan cuma orang tua saja, tapi kakek-nenek juga." Liputan kontributor VICE menguak aspek yang selama ini tak kita pahami saat membahas ladyboy.

oleh Caleb Quinley; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
06 Januari 2020, 9:02am

Ladyboy bernama Earth, 22 tahun, berdiri di depan bar. Semua foto oleh penulis. 

Thailand terkenal akan industri seksnya. Semuanya tersedia, mulai dari gogo bar (klub striptis), pijat dan karaoke plus-plus sampai rumah pelacuran. “Ladyboy” adalah bagian terpenting dalam dunia hiburan di sana. Tiap kali mendengar nama Thailand, mereka adalah hal pertama yang terbesit di otak.

Sebenarnya ladyboy itu siapa? Apa bedanya mereka dengan transpuan? Bagi orang Barat, transpuan mencari nafkah sebagai pekerja seks merupakan hal biasa. Tak seperti di negara Asia.

Penasaran, aku mengunjungi bar di Bangkok dan bertemu transpuan bernama Earth. Transpuan 22 tahun itu mengatakan pekerjaan seks sangat menguntungkan, terlepas dari stigma dan bahaya yang masih melekat.

“Aku lulusan akuntansi,” terang Earth di dalam bar yang gemerlap. “Tapi aku tidak kunjung dapat pekerjaan. Perusahaan terus menolakku, padahal gelarku bisa dibilang bagus. Tak ada pilihan lain, ibuku akhirnya mendaftarkanku kursus penata rambut.”

Penghasilan dari salon belum memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga dia terpikir untuk beralih ke pekerjaan seks. Teman-temannya juga mengajak Earth bergabung dengan mereka.

1560406798345-Dressing-Rooms
Di luar ruang ganti gogo bar.

Bagi kebanyakan transgender di Thailand, untuk apa bekerja delapan hingga 10 jam setiap hari di kafe, salon atau restoran kalau penghasilannya saja masih kurang? Mencari pekerjaan sebagai transgender bukan perkara mudah di Bangkok. Itulah sebabnya Earth memutuskan terjun ke industri seks.

“Aku bekerja seperti ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan cuma orang tua saja, tapi kakek-nenek juga. Lebih baik menghasilkan uang sendiri, daripada bergantung pada perusahaan atau orang lain. Aku bisa mewujudkannya lewat pekerjaan ini.”

Earth jelas orang cerdas dan ulet, tetapi statusnya sebagai transpuan menghambatnya mendapatkan upah layak di Thailand. Dan seperti di kebanyakan negara, mereka akhirnya menjajal dunia prostitusi walaupun industri ini tak sepenuhnya diatur negara.

Ryan Figueiredo selaku Pendiri dan Direktur Eksekutif Equal Asia (EQUAL AF), organisasi advokasi inklusif, menjelaskan hak-hak pekerja seks transgender tidak boleh diabaikan meski profesinya ilegal. “Memperjuangkan hak-hak mereka adalah tantangan terbesar bagi komunitas LGBTQ di Asia,” Ryan memberi tahu VICE. “Mereka di sini termasuk transgender, pengungsi, pekerja seks, pengguna narkoba, penyandang disabilitas, lansia dan lain-lain. Seruan kami untuk bertindak tidak boleh terbatas pada seperangkat kecil hak-hak sipil bagi yang memegang hak istimewa saja, tetapi juga untuk mereka yang berada di dunia seks.”

Same Same But Different adalah studi pertama yang mengungkapkan pengalaman dan bahaya yang mengintai pekerja seks di Thailand dengan tepat. Diterbitkan pada 2016, studinya menggunakan hasil wawancara dari 60 pekerja seks transgender untuk memahami kerentanan, eksploitasi dan kekerasan fisik dan seksual tak terlihat yang mereka hadapi setiap harinya.

1560406846198-Anon-trans-sex-worker-1

Peneliti menemukan 81 persen orang yang diwawancarai terpaksa menjalani prostitusi karena butuh uang. Selain itu, pekerja seks transgender cenderung lebih rentan terhadap kekerasan fisik dan seksual. Dua pertiga dari mereka mengaku pernah mengalami pelecehan seksual dalam setahun terakhir. Satu dari empat orang yang diwawancarai menjadi korban pemerkosaan.

Ketika aku membahas statistik ini, Earth menceritakan pengalaman pribadinya. Dia setuju menemui laki-laki yang sudah dicap jelek di kalangan mereka. Lelaki itu diduga sengaja menularkan HIV dengan memotong bagian atas kondomnya dengan pisau. “Kondomnya dilipat dan dipotong untuk menularkan penyakit,” terangnya, memperagakan cara memotong dengan struk. Setelah mereka berhubungan seks, Earth menyadari bagian atas kondomnya sudah bolong rapi. Dia buru-buru meninggalkan ruangan karena ketakutan.

Setelah kejadian itu, dia segera pergi ke sebuah klinik untuk mendapatkan profilaksis pajanan pra-HIV atau PrEP. Earth kini lebih berhati-hati sebelum berhubungan seks. Dia selalu mengecek setiap kondom untuk memastikan tidak ada cacat. “Pengalaman yang sangat menyeramkan, karena aku tahu dia bisa saja lari dari tanggung jawab. Aku tidak bisa melaporkannya ke polisi karena takut mereka akan mengejarku saat mengetahui profesiku,” jelasnya.

1560406924903-Anon-trans-sex-worker-2

Bukan hanya pekerja seks transgender saja yang mengalami marginalisasi. Terlepas dari reputasi surga bagi komunitas LGBTQ, warga transgender masih sering dipersekusi. Bukankah ironis jika para transgender mengaku belum diterima sepenuhnya di negara yang ramah komunitas LGBTQ, terutama jika dibandingkan dengan Brunei yang menerapkan hukuman mati terhadap pelaku sodomi dan kemudian dibatalkan karena tekanan internasional, atau Aceh yang memberlakukan hukuman cambuk bagi pelanggar hukum Syariah Islam?

Pendiri Dton Naam, Celeste McGee, berpendapat stigma dan marginalisasi yang mengelilingi pekerja seks juga memengaruhi anak laki-laki dan pria dewasa. Dton Naam adalah organisasi yang melindungi pekerja seks laki-laki dan transgender. “Banyak budaya yang menunjukkan perempuan ‘lebih rentan’, baik itu menyiratkan keyakinan perempuan punya fisik lemah, sifat pemalu, dan kepribadian sensitif atau kerapuhan lainnya yang dibuat-buat,” Celeste menerangkan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Pekerja seks lelaki dan LGBTQ sama-sama rentan terhadap kekerasan.

“Bisa dibilang, anak laki-laki dan transgender lebih rentan daripada perempuan karena hak mereka sangat diabaikan," katanya. Walaupun begitu, Earth tidak mau kekerasan menggambarkan profesinya. Dia juga tidak mau dikasihani. Meskipun suatu hari dia berencana membuka salon kecantikan dengan uang tabungannya, Earth sadar dia bisa bertahan hidup sekarang karena industri seks. Ini adalah fase sementara yang dia banggakan karena telah membantunya memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

“Saya tahu banyak orang asing yang meremehkan dan tidak menyukai pekerjaan kami,” ujarnya. “Tapi kami harap mereka paham bahwa kami melakukannya demi keluarga. Profesi ini tidak boleh direndahkan.”


Follow Caleb di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

Tagged:
Thailand
transgender
bangkok
Seks
Prostitusi
Ladyboy
Transpuan
Best Of 2019