Heroisme Perempuan

Keberanian Tentara Perempuan Kurdi Melawan ISIS Diadaptasi ke Layar Lebar

'Girls of the Sun' menggambarkan perjalanan beberapa perempuan Kurdi bekas tawanan ISIS yang melarikan diri, lalu ikut berperang demi menyelamatkan orang-orang terkasih.

oleh Nadja Sayej
25 April 2019, 6:39am

Foto dari arsip Cohen Media Group 

Selama ini media jarang menyorot sosok prajurit perempuan Timur Tengah. Terutama ketika sedang meliput perlawanan pasukan sipil Kurdi melawan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Karena itulah, Girls of the Sun ingin memberi panggung bagi perempuan-perempuan hebat tersebut.

Film yang dirilis 12 April lalu ini mengisahkan batalyon perempuan muslim Syiah yang memerangi gerombolan teroris khilafah di Timur Tengah. Padahal para perempuan itu tak pernah memegang senjata sebelumnya.

Girls of the Sun digarap sutradara Eva Husson asal Prancis. Filmnya diangkat dari kisah nyata sekelompok perempuan etnis Kurdi yang ditangkap anggota ISIS di Irak, lalu disandera pada 2014. Beberapa tawanan berhasil melarikan diri, menceritakan pengalamannya, dan kembali wilayah musuh sambil mengangkat senjata, demi melawan balik para teroris.

"Ketika saya tahu beberapa perempuan-perempuan ini melarikan diri tapi tidak trauma dan ikut berjuang, saya merasa kisah mereka harus diceritakan di layar lebar," kata Husson kepada Broadly. "Apa yang mereka alami, dari perspektif perempuan, belum pernah digarap oleh film lain."

Film ini adalah adaptasi fiksi, tetapi sangat mencerminkan kenyataan di lapangan. Film ini dibintangi Golshifteh Farahani, aktris asal Iran yang diasingkan negaranya setelah tampil dengan dada terbuka di sebuah film Perancis yang tayang pada 2012 (dia juga tampil di sampul Vogue). Tokoh yang diperankan Farahani bernama Bahar. Ceritanya, dia adalah gadis yang berhasil melarikan diri dari sekapan ISIS dan berusaha menyelamatkan putranya di kampung halamannya. Sebagai komandan tentara perempuan, Bahar percaya pada motto "Perempuan, kehidupan, kebebasan."

"Farahani di kehidupan nyata juga simbol kebebasan dan hak perempuan; dia rela meninggalkan Iran karena tidak diizinkan membuat film yang ingin dibuatnya," kata produser film ini, Didar Domehri, yang juga diasingkan dari Iran. "Dia ingin menghormati perempuan-perempuan Kurdi yang sudah berjuang di Irak dan Suriah."

Narasi film ini mengacu pada kesaksian yang dikumpulkan pewarta foto asal Perancis bernama Mathilde (Emmanuelle Bercot). Sebagian besar catatannya didasarkan pada data yang dihimpun koresponden perang Marie Colvin asal Amerika Serikat, yang tewas pada 2012 selagi meliput konflik di Suriah. Kelompok prajurit perempuan Kurdi ini tidak digambarkan sebagai korban. Sebaliknya dalam film Girls of the Sun, mereka justru menjadi rombongan yang tak kenal takut, mengintai di gedung-gedung terlantar, atau mengenakan gaun panjang dan hijab sembari menembakkan AK47.

Film ini juga sebagian didasarkan pada kehidupan aktivis HAM Nadia Murad, yang memenangkan penghargaan Nobel Perdamaian. Nadia diculik ISIS dari kampung halamannya, Kota Kocho di Iran, dan menjadi tawanan selama tiga bulan. Militan khilafah memperkosa dan memukuli Nadia nyaris setiap hari.

Setelah berhasil melarikan diri ketika penculiknya lupa mengunci pintu, Nadia kabur ke luar negeri. Dia sekarang mengelola organisasi swadaya di Jerman yang membantu perempuan dan anak-anak korban genosida dan perdagangan manusia, bernama Nadia’s Initiative.

"Sosok perempuan yang menolak dianggap sebagai korban sangat mengesankan bagi saya," ucap Husson. "Murad adalah simbol keberanian."

Ide untuk membuat film ini muncul setelah Husson memberitahu Domehri tentang kiprah prajurit perempuan Kurdi melawan ISIS. "Mereka seperti cahaya di antara kegelapan, dan kami rela melakukan segalanya untuk membuat film ini menjadi kenyataan. Kami ingin menunjukkan bagaimana perempuan-perempuan ini berjuang dan seberapa banyak ketahanan yang dibutuhkan untuk melawan."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly