Pengelola Liga Jangan Cuma Prihatin, Tiket Terpadu Bisa Cegah Suporter Bola Mati Sia-Sia
Foto ilustrasi: suporter sepakbola menyalakan suar di stadion Gelora Bung Karno pada 2014. Foto oleh Supri/Reuters
Sepakbola Indonesia

Pengelola Liga Jangan Cuma Prihatin, Tiket Terpadu Bisa Cegah Suporter Bola Mati Sia-Sia

Penggemar bola berduka usai Haringga Sirla tewas. Suporter barbar selalu ada, justru karena itu tugas PSSI, panpel, dan PT LIB adalah membuat tiket terintegrasi seperti di Inggris yang juga punya sejarah kelam.
24 September 2018, 10:04am

Satu nyawa suporter melayang sia-sia di luar Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage. Pemandangan mengerikan, yang diabadikan secara dingin oleh kamera ponsel, merekam detik-detik Haringga Sirla mengembuskan napas terakhirnya. Rekaman itu menyebar tak terkendali lewat media sosial. Puluhan orang menghajar pemuda 23 tahun asal Indramayu itu, yang sudah tersungkur bersimbah darah dengan tangan kosong ataupun benda tumpul. Ada yang memekikkan takbir sembari berpartisipasi mencabut nyawa Haringga. Rekaman kebiadaban itu mengguncang nurani publik di Tanah Air. Sejauh ini 16 suporter ditahan polisi, delapan ditetapkan sebagai tersangka yang berperan aktif menghabisi korban.

Dendam lama tersulut, luka akibat rivalitas ekstrem klub sepakbola Bandung-Jakarta kembali mengangga. Satu yang pasti: orang tua yang kehilangan darah dagingnya dalam insiden tersebut bakal membenci sepakbola selama-lamanya akibat kebiadaban para pecandunya.

Haringga Sirla, suporter Klub Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija), tewas Minggu (23/9) sore sebelum wasit meniup peluit tanda dimulainya pertandingan. Ia dikeroyok brutal oleh pendukung klub Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) yang biasa dijuluki Bobotoh.

Kematian seorang anggota Jakmania—julukan suporter fanatik Persija—oleh sebagian fans dianggap kondisi yang normal; seakan kematian Haringga sesuai giliran setelah beberapa tahun sebelumnya anggota Viking, faksi pendukung garis keras Persib, meregang nyawa. Tujuh pendukung masing-masing klub jadi tumbal rivalitas brutal yang dipupuk nyaris dua dasawarsa terakhir.

Banyak pihak melanggengkan narasi rivalitas Bobotoh vs Jakmania sebagai sesuatu yang seru. Barulah, ketika ada nyawa yang benar-benar tercabut, semua beramai-ramai prihatin, mengutuk, menyesalkan, serta menebar kata-kata bijak agar suporter lebih dewasa.

Ritual debat dan saling menyalahkan muncul di media sosial. Ada yang menuntut sepakbola profesional di Tanah Air dibekukan terlebih dulu karena sebagian suporter tak pernah mau menggunakan akal sehat. Ada yang menyalahkan korban karena sengaja datang ke stadion lawan padahal sudah ada imbauan agar Jakmania tidak ke Bandung.

Kematian Haringga mengundang tagar di Twitter yang viral secara nasional, #RIPHaringga. Dalam waktu singkat, akun resmi pengelola liga profesional di Indonesia bergegas cuci tangan, memakai tagar yang sama, ikut menyebarkan duka cita, dan segera memicu kecaman dari pecinta sepakbola nasional.

Tiga pihak yang turut mengungkapkan duka cita, padahal dianggap suporter turut berlumur darah, adalah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai pengelola kompetisi, dan Panitia Pelaksana Pertandingan.

Tak lama setelah kabar kematian Haringga menghebohkan media sosial, petinggi PT LIB bergegas mengucapkan belasungkawa, tanpa merinci akan melakukan tindakan apa demi mencegah kekerasan serupa berulang di masa depan. "Kami menyampaikan prihatin atas peristiwa tersebut. PT LIB selalu berusaha keras untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan dalam sepak bola," kata Risha Adi Widjaya, selaku CEO PT LIB, melalui keterangan pers tertulis.

Manajer Persija, Ardhi Tjahjoko, menuntut PSSI menjatuhkan sanksi tegas bagi klub manapun, termasuk klubnya sendiri, jika tak mampu membina perilaku suporter di luar maupun dalam stadion. Komisi Disiplin PSSI, menurut Ardhi, selama ini terbiasa menghukum klub dengan denda dan larangan pertandingan tanpa penonton. Realitasnya sebagian suporter terus diizinkan datang ke sekitar stadion, atau bahkan menonton laga usiran, asal tidak mengenakan atribut klub. Pengurangan poin, denda, ditambah partai usiran dirasa sudah tak mempan lagi memaksa klub menertibkan para pendukungnya.

"Saya berharap PSSI dan PT LIB bisa mengevaluasi peraturan dalam setiap pertandingan," ujarnya saat dihubungi media. "Mau sampai kapan sepakbola kita seperti ini."

Dihubungi terpisah oleh VICE Indonesia, Media Officer Persib Irfan Suryadireja, menilai pembinaan suporter sangat sulit dilakukan. Sekalipun klub melakukan imbauan agar suporter rival tidak datang ke pertandingan, nyatanya terus ada Jakmania ataupun Bobotoh yang mencoba menyaksikan pertandingan langsung di kandang lawan. "Meskipun itu sebenarnya hak penonton untuk menyaksikan, kenyataannya ini ada konflik. Akan sangat berisiko bila salah satu suporter yang sedang bertikai datang ke kandang lawannya," ujarnya.

Irfan mengusulkan hukuman bagi timnya atas perilaku bobotoh adalah menjalani pertandingan usiran, jika yang jadi lawan adalah klub kesayangan warga Jakarta. "Saya berpandangan setiap kompetisi nanti di depan, tuan rumah Persib maupun Persija, harus dilakukan di tempat netral, di luar Pulau Jawa, tanpa ada kehadiran penonton," ujarnya.


Tonton dokumenter VICE mengenai laga derby sepakbola paling panas di muka bumi antara suporter Partizan vs Red Star Belgrade:


Lembaga nirlaba Save Our Soccer (SOS) Indonesia mencatat 69 suporter tewas sejak 1995 hingga 2018. Penyebab utama kematian penggemar sepakbola, mencapai 36 kasus sepanjang kurun waktu tersebut, adalah pengeroyokan oleh suporter kubu lawan. Baik itu menggunakan benda tumpul maupun tajam. Benarkah rivalitas antar klub yang bermusuhan sengit, seperti Persib-Persija, sudah tak tertolong lagi?

"Persoalan utama adalah buruknya prosedur dan manajemen pertandingan," ujar Fajar Junaedi, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang lama meneliti fanatisme suporter Bondo Nekat (Bonek) di Surabaya saat dihubungi VICE. "Baik panitia pelaksana maupun pihak keamanan sepertinya tidak mematuhi regulasi. Ini telah menjadi permasalahan utama sejak dulu."

Pendapat serupa disampaikan Wisnu Prasetya Utomo, pengamat media dari Remotivi sekaligus penggemar sepakbola asal Indonesia yang sedang lanjut studi di Inggris. Dalih menyalahkan suporter rival karena nekat datang ke stadion tuan rumah, menurutnya, bisa dipatahkan berkat manajemen pertandingan yang baik. Wisnu berbagi pengalamannya yang tidak bisa masuk ke Stadion The Den di Bermondsey, London, kandang Millwall FC. Dia awalnya ingin menyaksikan laga antara Millwall menjamu Leeds United, bagian dari Liga Divisi Championship 2018/2019. Rupanya oleh pengelola liga, pertandingan itu masuk kategori rawan kerusuhan.

Wisnu langsung ditolak masuk di gerbang stadion, karena data menunjukkan dia pernah menonton Leeds beberapa kali sebelumnya. Sistem komputer mengindentifikasi Wisnu sebagai 'terduga' suporter Leeds. Dia bisa terancam bahaya sewaktu-waktu kerusuhan yang tak diinginkan pecah di tribun penuh pendukung Millwall.

"Sistem ticketing_-nya antara semua tim di Liga Inggris sudah terkoneksi, di divisi berapapun. Kalau kasusku kebetulan divisi dua," kata Wisnu kepada VICE. "Aku berusaha menjelaskan, 'saya bukan suporter Leeds, saya _international student, saya cuma pengin nonton bola'. [Panpel] enggak menerima alasan itu. Dalam beberapa hal aku bisa memahami. Karena itu semacam early warning system yang menandakan ada suporter tamu datang ke kandang lawan, langsung ketahuan."

Peraturan ketat macam itu lahir dari trauma Inggris yang sudah mengalami berulang kali insiden kematian suporter sepanjang dekade 1970 hingga 1980-an. Skala kerusuhan, kekerasan, dan kebencian antar klub-klub di Inggris jauh lebih massif dari apa yang sudah dialami Persib vs Persija selama ini. Semua akhirnya berakhir, setelah manajemen liga melakukan pembenahan total, terutama dalam hal penjualan tiket dan pemetaan individu suporter.

Suporter tamu sebetulnya boleh datang, tapi harus dalam rombongan yang kapasitasnya sudah ditentukan panpel tuan rumah. Ada area khusus untuk suporter lawan, mustahil bisa membeli satu atau dua tiket, lebih-lebih di tribun suporter tuan rumah. "Misalnya dalam pertandingan dijatah 500 suporter tamu, nah itu sudah dipisahkan di box khusus yang terkoneksi dengan tim keamanannya dari Leeds United sendiri sejak berangkat sampai di stadion tamu," kata Wisnu.

Namun Wisnu, serta panpel baik dari Persija maupun Persib yang diwawancarai VICE, pesimis sistem serupa bisa langsung diterapkan di Indonesia dalam waktu singkat. Pasalnya penjualan tiket dengan data terintegrasi butuh teknologi yang disediakan pemerintah. Bukan cuma tugas pengelola liga, apalagi klub.

"Di Inggris kalau mau beli tiket harus online, data kartu, data alamat, dan segalanya bisa terlacak. Terus di tribun juga nomor bangkunya terlacak siapa yang beli. Kalau di kita kan enggak terlacak karena banyak calo," kata Wisnu.

"Jangan bandingkan sekarang dengan di Inggris dan Eropa. Kalau di sana, ketika dia tidak memiliki tiket, dia tidak datang ke stadion," sergah Irfan. "Di Indonesia siapapun tim kebanggannya, dia mencoba tetap datang ke stadion. Dengan harapan mungkin bisa saja ada celah masuk ke stadion."

Berdasar catatan panpel Persib, pertandingan melawan Persija yang diwarnai kematian Haringga, dihadiri nyaris 50 ribu orang. Padahal panitia hanya mencetak tiket 36.500 dari kapasitas 38.000 di Stadion GBLA.

Kendati begitu, Wisnu tak mendukung gagasan Irfan, agar Persib-Persija hanya dihukum dengan menggelar laga di masa mendatang di luar Jawa atau sekalian tak pernah boleh ditonton langsung. Manajemen tiket yang lebih baik, ditopang koordinasi bersama kepolisian mengamankan ruang di sekitar stadion, masih lebih masuk akal untuk menghindari jatuhnya korban jiwa sia-sia.

"Klub bisa profesional mengelola tiket itu tergantung liga. Selama ini kalau bicara soal liga dan sistem ya kita bicara soal induk organisasi PSSI," tandasnya. "[Kekerasan antar suporter] problem struktural, enggak bisa dengan hanya melokalisir dengan main di luar Jawa, itu enggak menghapus masalah. Toh rivalitasnya tetap ada. Pertandingannya tetap ada."

Dugaan Wisnu dan Fajar tidak keliru. Animo penonton yang tinggi untuk menyaksikan Liga 1, sebagai kasta tertinggi sepakbola profesional di Indonesia, belum diberangi manajemen tiket mumpuni. Bahkan untuk menjual tiket ke internal suporter lewat online saja klub sebesar Persib masih kesulitan. Padahal dari 1,2 juta penonton Liga 1 2017 yang datang ke stadion, nyaris sepertiga didominasi pendukung Persib dan Persija.

Irfan sebetulnya setuju dengan uji coba sistem tiket terintegrasi. Namun upaya menyamakan data pembeli ada di luar kuasanya, kecuali pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga serta PSSI turut mendukung program semacam itu. "Di Persib sebetulnya sudah diterapkan tiket secara online. Di situ sudah terdaftar nama-nama dan persyaratan untuk mendapatkan tiket online, termasuk menjadi member resmi Persib. Persoalannya ketika seseorang membeli tiket, atau orang dari luar kota mendapatkan tiket di Bandung, kan [Persib] tidak bisa mengontrol sejauh itu," urainya.

Arsip pemberitaan soal kebijakan tiket PT LIB masih mengedepankan memangkas potensi calo dan memaksimalkan penjualan online. Belum sampai ke upaya mendeteksi pemegang tiket individu, yang berasal dari suporter lawan, agar terjamin keamanannya oleh aparat keamanan ketika mereka memutuskan datang ke kandang klub rival.

Budi Saputra, Ketua Panitia Penjualan Tiket Persija, mendukung jika PT LIB kelak mendorong dan menyediakan sistem tiket dengan data terpadu. Pihaknya kini berusaha membenahi pendataan di internal Jakmania sepanjang kepengurusan 2018, hingga tingkat koordinator lapangan di dusun atau kampung. "Kalau untuk tiket dengan nama individu sih sepertinya kita belum bisa ke arah sana, tapi dengan sistem yang dilakukan jakmania sekarang, kami sudah sangat terbantu dari identifikasi yang dilakukan korlap atau korwil. Jadi prioritas tiket dijual pada mereka yang mempunyai kartu keanggotaan jakmania," kata Budi kepada VICE.

Selain itu, merujuk pendapat koordinator SOS, Akmal Marhali, sudah saatnya Indonesia memiliki regulasi yang khusus mengatur suporter. Menurutnya dengan mencontoh Football Spectator Act (FSA) di Inggris, fanatisme berlebih yang bisa berujung pada bentrokan dapat diredam.

Makanya, ketika klub membenahi pengelolaan tiket, tanggung jawab organisasi suporter adalah melakukan edukasi dari aspek budaya. Ini yang sulit dan butuh waktu, menurut Fajar Junaedi. Setidaknya meredam skala kekerasan dari aspek pengelolaan arus penonton, artinya sejak mendekati stadion, sangat mungkin dilakukan. Sebab di berbagai belahan dunia lain ada banyak rivalitas antar klub yang tak kalah keras—atau malah lebih brutal—dibanding Persija vs Persib.

Sebut saja Glasgow Celtic melawan Glasgow Rangers, Partizan vs Red Star Belgrade, fans Olympiacos melawan Panathinaikos, hingga Legia Warsaw/Lech Poznan. Bedanya, sudah lama klub dan liga masing-masing sukses meredam agar suporter kedua belah pihak jadi korban perilaku barbar. Terakhir kali suporter Rangers tewas ditusuk rivalnya, ambil contoh, terjadi pada 2001. Pelaku pun langsung dipenjara seumur hidup. Artinya, ada dua lapis pencegahan. Keamanan kawasan stadion ditapis lewat pengelolaan tiket terpadu, sementara semua perilaku di luar stadion sepenuhnya ranah polisi, terutama untuk pertandingan tensi tinggi.

Tanpa harus membahas Persib-Persija saja, pengalaman datang ke stadion-stadion di Tanah Air masih belum bisa memberi rasa aman bagi penonton kebanyakan.

"Jika menonton pertandingan secara langsung itu ramah anak, maka ia juga ramah keluarga. Tapi faktanya selama ini menonton pertandingan [Liga Indonesia] secara langsung masih jauh dari kesan ramah anak. Nyanyian atau yel-yel bernada rasisme atau provokatif masih terus terdengar," kata Fajar.

Budi—sembari mengakui kedewasaan suporter sebagai tantangan lain agar tak terjadi lagi kekerasan—menyatakan perlu ada terobosan kebijakan klub agar penonton tidak ngotot datang ke stadion demi mendukung klub kesayangan. Dia mencontohkan Panpel Persija yang berusaha menyediakan solusi bagi Jakmania agar tak perlu memaksakan datang berombongan saat klub menjalani laga usiran di Stadion PTIK Jakarta Selatan, melawan Persib, pada Juni 2018. "Kami membuka nonton bareng di empat titik di Jakarta," ujarnya. Itu langkah maksimal yang sejauh ini bisa dilakukan klub, menurut Budi. "Meskipun sistemnya manual, perlu ada komunikasi antar kelompok suporter."

Memandang sepakbola Indonesia berpotensi membuat mereka yang merawat akal sehat merasa letih, lantas berhenti berharap. Minimal beberapa peta jalan menuju pembenahan sebetulnya bisa dilakukan sejak sekarang. Bagi Wisnu, bola ada di tangan pengelola liga.

Inggris kini bisa memiliki budaya rivalitas suporter yang lebih sehat, tanpa harus menumbalkan nyawa. Semuanya berkat pembenahan struktural dan penegakan hukum yang tegas—khususnya untuk ulah suporter di luar stadion.

"Pembenahan infrastruktur liganya, federasi sepakbolanya, ini yang kemudian menjadikan liga Inggris kayak sekarang. Fase liga Indonesia sekarang itu kayak fase liga inggris 1970-an. Jadi masih panjang pembenahannya."

*Arzia Tivany Wargadiredja dan Adi Renaldi berkontribusi untuk liputan ini