Budaya Internet

Pengalaman Jadi Netizen yang Overdosis Internet di Indonesia Netaudio Festival 3.0

Merayakan ledakan informasi dan ketergantungan kita dengan internet, penyelenggaraan festival di Yogyakarta beberapa waktu lalu membuatmu merasakan sensasi netizen sejati yang tak paham lagi definisi 'informasi'.

oleh Titah AW; foto oleh Umar Wicaksono
17 September 2018, 10:52am

Berpose di karya Exonemo yang dipamerkan di perhelatan  Indonesia Netaudio Festival 3.0 di Jogja National Museum 

Lima sampai sepuluh tahun lalu, ide soal netlabel masih seksi. Ketika seorang musisi ingin memasarkan musiknya tapi terpentok berbagai kendala, mereka bisa menggunakan netlabel untuk promosi dan distribusi secara daring. Berbagai kesulitan, terutama yang berbiaya tinggi seperti distribusi dan cetak CD bisa terpangkas berkat kehadiran internet yang menyediakan semuanya secara 'cuma-cuma'. Tapi sekarang, ketika semua label sudah menggunakan internet, urgensi netlabel apa dong?

Enggak ada secara praktik, tapi ada secara prinsip.

Hal itulah yang mendasari diadakannya Indonesia Netaudio Festival 3.0 di Jogja National Museum (JNM) di Yogyakarta pada 18-28 Agustus 2018. Festival ini sudah kali ketiga diadakan. Dua edisi sebelumnya, mereka masih berfokus pada kegiatan kopi darat para pegiat netlabel Indonesia di Yogyakarta dan Bandung. Saat itu Indonesia Netaudio Forum masih bernama Indonesia Netlabel Union dan punya 37 netlabel yang terdaftar sebagai anggota. Kali ini, karena medan yang mereka rayakan telah berubah, merekapun turut mengubah format dan konsep acara, yaitu lebih berfokus pada budaya netaudio yang lebih luas. Saya sendiri mengartikannya sebagai segala interaksi antara musik dan internet dalam hal produksi, distribusi, dan konsumsinya.

Mengambil tema "Sharing Over Netizen Explosion", festival tahun ini ingin merayakan era ledakan informasi akibat internet ini. Jika problem jaman dulu adalah minim dan susahnya akses informasi, internet menimbulkan masalah baru: yaitu terlalu banyak dan gampang sehingga mengaburkan nilai informasi itu sendiri. Menggandeng Japan Foundation, INF 2018 juga menghadirkan seniman dan musisi dari Jepang.

Sabtu siang ketika acara pembukaan berlangsung, saya terlalu malas terjebak kemacetan jalanan Yogyakarta yang makin jahanam. Saya pun memilih menyaksikan seremoni pembukaan lewat live streaming Instagram. Hitung-hitung mempraktekkan konsep acaranya di mana konon internet menjadikan kehadiran manusia saat ini jadi dua jenis: nyata dan maya. Toh tak ada bedanya, duduk di depan kipas angin dalam kamar kos, saya tetap bisa menyaksikan para panitia penyelenggara bersulang kombucha pada seremoni pembukaan. Saat audiens bertepuk tangan, saya bahkan urun emotikon tepuk tangan di kolom komentar. Prok prok prok~


Tonton dokumenter VICE mengenai kesempatan hidup kedua bagi ikon kancah hardcore Indonesia:


Saya baru benar-benar datang ke JNM pada sorenya untuk mengikuti performative talk dengan tema "Memetakan Arus Bawah." Area pendopo JNM yang biasanya terbuka kali ini disulap jadi ruang tertutup dengan kain hitam yang mengelilingi area. Di dalamnya, kursi dan bean bag diatur melingkar. Di sela-selanya, terdapat layar di empat penjuru mata angin.

Ternyata selain selain hadir secara fisik, saya dan peserta lain diminta hadir secara maya di sebuah grup WhatsApp. Sementara tiga layar lain menampilkan materi dari pembicara, layar di sisi timur justru menarik perhatian saya karena menampilkan interaksi yang terjadi di grup WhatsApp.

Sesi diskusi "Memetakan Arus Bawah" yang berlangsung secara nyata maupun maya

Tiga pembicara diskusi ini melempar wacana yang berbeda. Periset dari Kunci Cultural Studies Nuraini Juliastuti misalnya, lebih membahas urgensi festival sebagai ruang temu jaringan yang dalam industri musik bawah tanah punya nilai penting. "Persahabatan bisa juga dilihat sebagai infrastruktur, karena koneksi itu mendukung budaya berbagi ini," ujarnya. Ia juga melempar wacana soal konsep indie dan alternatif yang saat ini kian rancu. Soal netlabel sendiri, ia melihat bahwa fungsi netlabel tak hanya sebagai agen distribusi tapi juga sebagai praktek pengarsipan. Seperti yang dilakukan Mindblasting Records dari Yogya yang memang tak melakukan kurasi demi semangat arsip tersebut.

Internet membuat kita jadi ‘Prosumen’, alias laku konsumsi dan produksi di saat yang bersamaan. Lewat fitur ‘repost’ misalnya. Hal ini disampaikan pembicara kedua Manshur Zikrie yang menanggapi wacana soal perbedaan anggapan arus utama dan alternatif. Manshur melihat bahwa arus utama kini cenderung berisi konten hiburan semata. Sementara, arus alternatif yang infrastruktur industrinya masih terus dibangun dari waktu ke waktu bisa dilihat sebagai kancah aktivisme, aktivisme kultural lebih tepatnya. INF yang bergerak di jalur alternatif ini kemudian jadi bisa menemukan posisi dan urgensinya dalam membentuk jaringan di ranah berbagi data secara global.

Materi kemudian dilanjutkan oleh periset komunitas studi musik Irfan R Darajat yang banyak meneliti tentang dangdut koplo. Ketika kancah musik alternatif tidak stabil karena terus terpengaruh banyak hal, Irfan mengungkapkan bahwa dangdut koplo justru punya ekosistem yang stabil. Ia juga membandingkan budaya berbagi gratis yang sedang dikampanyekan INF dengan pembajakan yang marak dan awam terjadi di dangdut koplo. Nah lho, jangan-jangan scene dangdut koplo justru sudah lebih dulu visioner dibanding anak-anak indie ini.

Jika pada kenyataannya diskusi terasa serius dengan bahasa sophisticated dan akademis, di grup WhatsApp peserta justru dengan luwes bertukar stickers emoji, plesetan, dan lawakan di sela-sela teks rangkuman diskusi. Pengaturan kursi yang melingkar dan kesempatan untuk berpartisipasi secara bebas (lewat grup WhatsApp) membuat diskusi ini terasa sangat egaliter.

Selain menampilkan wujud ruang percakapan multidimensi, sesi ini seperti sarkas terhadap kebiasaan kita yang gampang sekali terdistraksi internet ketika berada dalam sebuah forum, saat kuliah, bahkan saat ngobrol di meja makan. Aih saya terciduk, pasalnya selama dua jam diskusi, saya mengakui lebih banyak menaruh atensi pada layar handphone daripada ruang tersebut.

Selesai diskusi, saya bertahan di venue karena festival ini tak boleh menghianati asal usulnya, yaitu musik. Sebuah panggung disiapkan untuk mewadahi deretan musisi cult garda depan Indonesia dan Jepang masa kini. Pesta musik hari pertama INF dibintangi oleh penampilan Senyawa. Duo yang sudah melalang buana di berbagai festival internasional ini tampil intens dengan suguhan musik avant-garde. Penonton dibuat takjub dengan olah vokal Rully Shabara dan instrumen Wukir yang menghasilkan nuansa kompleks dan magis. Dan saya yakin, panggung futuristik dengan lighting dan suguhan visual INF ini jadi panggung terbaik di Yogyakarta tahun ini.

Dua musisi elektronik asal Jepang, Hivana. Penampilan mereka atraktif karena mampu menggubah musik elektronik langsung di atas panggung dengan instrumen-instrumen abnormal di antara stik playstation

Konsep panggung INF baru benar-benar berfungsi saat penampilan duo kepodang Silampukau. Sebabnya Silampukau adalah musisi yang paling banyak melakukan interaksi dengan visual performance di panggung. Seperti saat lagu "Sang Pelanggan" hendak dinyanyikan, sebuah kotak dialog muncul di screen bertuliskan "Gimana cara ke Dolly?"

Eki Tresnowening kemudian malah menjawab dengan menjelaskan tutorial pergi ke kawasan red district tersohor di Surabaya yang sudah digusur itu. Saya dan seluruh penonton terpingkal. Di layar kadang juga muncul lirik untuk sing along, tab-tab situs yang bertumpuk, dan bahkan real-time foto pencarian di laman Google yang di zoom in- zoom out, menghasilkan visual kurang ajar yang menggelitik. Secara khusus saya ingin mengapresiasi kejeniusan Video Battle dan WAFT-Lab sang komando visual di panggung INF 3.0.

Nah, prestasi musik terbesar INF tahun ini disuguhkan dalam bentuk keberhasilan mereka membangkitkan kembali legenda klub-klub malam era 90-an, sang komandan trippy berjamaah, Barakatak. Setelah 20 tahun absen dari lantai dansa, malam itu mereka berhasil menghasut netizen yang budiman untuk melupakan hasrat twitwar atau meme-war dan bergoyang bersama di lantai dansa.

Fotografer saya sampai meminta ijin menyudahi kerja di separuh lagu pertama dan memilih ikut bergoyang di kerumunan. Lirik lagu sederhana, nada-nada funkot menggelora, visual panggung binal, dan tata lampu yang trippy parah membuat siapapun di lantai dansa seolah kehilangan kesadaran. Sial, bahkan di lantai dansa pun, tiruan efek budaya internet yang jadi konsep acara pun masih menghantui. Saking merasuknya internet ke acara ini, saya sempat bersyukur festival ini bukan hoax.

Jika dilihat, line up acara ini memang sangat beragam, cenderung tidak matching secara genre. Namun ternyata mereka dihubungkan oleh kesamaan penggunaan internet dalam moda distribusi, maupun lisensi karya mereka. Toh jika mau dihubung-hubungkan, ledakan informasi di internet pun selalu membuat kita kebanjiran ragam konten yang juga nampak acak.

Penampilan grup vokal-dugem asal Bandung, Barakatak, jadi klimaks pentas INF. Dengan pentas itu, Barakatak mengakhiri masa hiatus manggung yang sudah berlangsung 20 tahun.

Satu lagi lini festival yang tak ada di INF sebelum-sebelumnya. Di hari kedua saya datang kembali sejak sore untuk menikmati pameran seni bertajuk Internet of (No)Things: Ubiquitous Networking and Artistic Intervention yang berlangsung di lantai dasar JNM. Pameran ini menampilkan sembilan seniman, lima dari Indonesia dan empat dari Jepang. Hiperkonektifitas, post-truth, dan panopticon adalah ide-ide utama yang saya dapat setelah berkeliling di karya-karya di sana.

Karya Randombly Love You/Hate You (Exonemo), Jejala Bisik (Mira Rizki), dan Moids 2.2.2 (Soichiro Mihara & Kazuki Saita), misalnya sama-sama melibatkan medium berbentuk kabel yang saling tertumpuk ruwet untuk mereproduksi dan memasifkan obyek. Membuat saya membayangkan jika seluruh interaksi kita di internet bisa dilihat sebagai kabel, mungkin hidup kita memang seruwet itu.

Seperti pameran seni lain, saya juga menjumpai penonton-penonton yang datang ke pameran untuk berselfie ria. Semoga setelah itu mereka mengunggah foto di Instagram, agar konsep Indonesia Netaudio Festival semakin viral juga di sosial media.

Pulang dari INF saya sadar bahwa kegiatan sehari-hari saya seperti scrolling di Spotify, Instagram, mengunduh lagu gratisan, streaming film dan segala hal lain yang melibatkan internet ini menyimpan banyak sekali praktek budaya yang bisa jadi cukup serius dikaji.
Datang ke festival ini membuat saya merasa jadi netizen sejati.