Iklan
Definisi Pelecehan

Komen-Komen Panas Tentang Jojo Buka Baju Bisa Dianggap Pelecehan Seksual Enggak Sih?

Komentar netizen yang penuh hasrat seksual dan ditujukan pada perempuan dengan gamblang bisa kita sebut sebagai pelecehan. Bagaimana kalau subjeknya kali ini adalah laki-laki? Redaksi VICE mencoba membahasnya

oleh VICE Staff
29 Agustus 2018, 1:03pm

Jonatan Christie membuka baju sesudah memenangkan pertandingan final bulu tangkis Asian Games 2018.  Foto oleh Athit Perawongmetha/Reuters

Keberhasilan Jonatan Christie meraih medali emas saat melawan Chou Tienchen dari Taiwan adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh orang Indonesia. Terakhir kali atlet bulutangkis tunggal putra Indonesia meraih medali emas yaitu pada Asian Games 2006. Emas tersebut berhasil dimenangkan oleh Taufik Hidayat.

Akan tetapi, bukan kemenangannya yang menarik perhatian netizen, melainkan Jonatan atau Jojo yang kerap membuka baju saat menang. Sebagian besar perempuan tidak tahan melihat kegagahannya, sehingga banyak dari mereka yang suka meninggalkan komentar berbau seksual dalam setiap foto Jojo di Instagram.

Kelakuan perempuan-perempuan ini menimbulkan pertanyaan. Apakah sikap mereka bisa disebut pelecehan seksual? Bolehkah pegiat kesetaraan gender menganggap Jojo sebagai objek seksual ketika dia membuka bajunya untuk merayakan kemenangan? Mungkinkah komentar ini sekadar pujian semata? Tim editorial VICE Indonesia mencoba mengutarakan pendapat pribadinya soal ini.

VICE: Menurutmu komentar ini termasuk pelecehan seksual atau tidak?

Yvette Tanamal: Sepertinya susah menentukan ini pelecehan atau bukan, karena objeknya pria. Kedengarannya seperti feminazi, tetapi selama ini objektifikasi tubuh selalu menjadi masalah perempuan.

Gue jijik baca komentar di Instagram Jojo, tapi aku enggak bisa bilang kalau ini pelecehan. Jojo bilang enggak ada alasan khusus waktu ditanya wartawan kenapa suka banget buka baju setelah pertandingan (bisa jadi karena kepanasan). Setelah itu dia bilang “kalau itu membuat orang bahagia ya enggak apa-apa.”

Jawaban ini bukan berarti dia menerima komentar tersebut, tetapi dia sadar apa yang dilakukan. Jojo tahu kalau orang-orang akan memujinya. Pas dia pertama kali melakukannya setelah melawan Kenya, Instagramnya penuh komentar “thirsty” dari perempuan.

Keesokannya dia melakukan lagi karena “bisa membuat orang bahagia.” Meskipun begitu, gue masih enggak setuju dengan komentar mereka. Pendapat lo gimana, Zia?

Arzia Tivany Wargadiredja: Gue juga jijik, tapi enggak bisa bohong sih kalau ada dinamika kekuasaan di sini. Orang punya pendapatnya sendiri, ya. Mereka berhak bilang ini pelecehan seksual. Kalau Jojo enggak nyaman dengan komentarnya juga enggak masalah.

Tapi, selama ini pria kan jauh lebih istimewa daripada perempuan. Karena itu, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Reaksi orang saat melihat atlet pria membuka baju di televisi dan perempuan yang “berpakaian minim” jauh berbeda. Gini deh gampangnya, kalau misal ada perempuan yang buka baju di TV, apakah reaksinya akan sama seperti Jojo?

Perbedaan itu saja sudah cukup menunjukkan memang ada perbadaan yang jelas. Dan banyak bagian dari perbedaan ini muncul karena adanya relasi kuasa yang jomplang. Kalau menurut gue sih, kita harus sadar dulu bahwa enggak semua komentar nakal dan menyebalkan di internet bisa dianggap setara. Daniel, sebagai satu-satu cowok dalam diskusi ini, gimana pendapat elo tentang kasus Jojo ini?

Daniel Darmawan: OK, gini deh, gue kan cowok satu-satunya. Jadi, semua pendapat yang gue keluarkan tentang objektifikasi perempuan dan ketimpangan relasi kuasa antara genre bisa dianggap keliru oleh orang lain. Makanya, ada baiknyA apa yang keluar dari mulut gue enggak ditelan mentah-mentah.

Gue sependapat dengan Yvette dan Zia bahwa komentar-komentar di internet tentang Jojo buka baju memang keterlaluan. Kalau saja, yang melakukan perayaan yang sama adalah atlet cewek, gue berani taruhan yang banyak berkomentar adalah cowok-cowok yang dengan enteng dilabeli sangean dan agresif. Tapi, jangan juga lupa kalau banyak atlet dan selebritas dari kedua gender yang santai-santai saja dianggap sebagai simbol seks. George Clooney, Henry Cavill, Serena Williams, dan Cardi B adalah segelintir di antaranya.

Menurut gue, apa yang membuat kasus Jojo berbeda adalah karena dinamika antara gender di Indonesia lebih kaku daripada di negara barat sana. Pada akhirnya, ini berimbas pada cara berpikir dan membicara isu-isu seks, gender dan seksualitas. Jujur saja, tak pernah terjadi yang namanya revolusi seks. Seks masih jadi topik yang tabu dibicarakan. Banyak yang masih terepresi secara seksual. Malah, ada yang masih kebingungan memahami bagaimana bayi bisa tercipta dan lahir dari tubuh manusia.

Jadi, apakah ribuan komentar tentang bentuk tubuh Jojo bisa dianggap sebagai sebentuk pelecehan? Gue rasa itu harus dikembalikan ke Jojo. kita harus apakah Jojo memang memberi persetujuan atas komentar-komentar tersebut. Misalkan, sebagai seorang atlit, Jojo memang berniat menjadi sebuah simbol seks, ya silakan saja berkomentar tentang badan Jojo sebebas-bebasnya. Cuma, kalau Jojo merasa terganggu dengan komentar-komentar itu, Jojo punya kewajiban menjelaskan kenapa hal itu salah kepada jutaan perempuan memelototi tubuh setengah telanjangnya.

Syarafina Vidyadhana: Dari apa yang gue lihat di Twitter dan Instagram, senggaknya ada empat macam reaksi di Intenet. Ada orang jelas-jelas mikir kalau komentar tentang tubuh Jojo sampah abis cuma caranya berlebihan (contohnya sampai bilang kalau perempuan harus menjaga kehormatannya), lalu orang yang percaya bahwa pelecehan tetap saja pelecehan tanpa mengindahkan relasi kuasa antar gender, orang-orang yang percaya bahwa komentar yang ditujukan pada Jojo bukanlah pelecehan selama tidak mengancam keselamatannya dan terakhir orang-orang yang memanfaatkan diskusi ini untuk membuktikan anggapan ngawur mereka bahwa feminisme hanya mengadvokasi korban perempuan.

Gue bisa mengerti kenapa orang membandingkan apa yang terjadi ke Jojo dengan apa yang terjadi kepada perempuan yang mengalami pelecehan. Itu semua terjadi karena retorika yang kita gunakan masih itu-itu doang. “Jojo harusnya enggak buka baju kalau enggak mau dilecehkan.” = “perempuan yang pakai baju terbuka memang cari masalah.” cuma, selama Jojo masih bisa jalan kaki ke rumahnya dengan aman atau selama Jojo tak perlu sembunyi untuk memastikan dirinya aman, maka komentar-komentar tentang tubuhnya bukanlah pelecehan. Tentu saja, Jojo bisa saja ngaku kalau komentar-komentar itu mengganggu. Dan kalaupun, dia merasa dilecehkan, kita enggak semestinya menyepelekan dia semata-mata karena dia cowok (ada bukti statistik kalau cowok juga jadi korban pelecehan seksual kok). Untuk sementara ini, Jojo belum angkat bicara tentang komentar berbau seksual tentang dirinya. Gue sependapat kalau Jojo mengalami objekifikasi. Ada batas yang jelas antara diobjektifikasi dan dilecehkan.

Yang menyedihkan adalah terdapat sekumplan orang yang menggunakan momentum ini untuk menyerang kaum feminis dan segala gerakan yang mereka rintis. Ini yang harus segera dihentikan. Ada baiknya diskusi terus berlanjut, makanya kita ngobrolin ini sekarang, dan orang terus bersemangat membahas hal ini. Gue cuma berharap kelak akan datang waktunya saat kita enggak berbeda pandangan tentang hal ini lagi.

Tagged:
indonesia
catcalling
seksisme
Pelecehan Seksual
Bulu Tangkis
Debat internet
Asian Games 2018
Jonatan Christie
Rahim Hangat