Mengenang Tren Absurd Jelang Pergantian Abad 21: Y2K Cyberbabe

Dua dekade lalu, “cyberbabes” nongol di mana-mana, muncul dalam berbagai peran: dari host MTV, karakter dalam game Playstation hingga biduan digital yang meramaikan tanggal lagu Eropa.

|
Jul 23 2018, 12:15siang

Selamat datang di zaman kecerdasaan buatan, di mana berita abal-abal dan kesalahan manusia ditingkahi dengan peluncuran siaran pers yang menampilkan Sophia The Robot atau CIMON, asisten otonom melayang yang sedang menuju posnya bekerja di luar angkasa. Jika kalian menscroll feed Instragrammu selewatan saja, kamu bisa saja mengira Lil Miquela, Bermuda, Blawko atau Noonouri sebagai manusia layaknya netizen yang kita kenal.

Padahal, mereka cuma influencer digital alias seleb CGI yang diciptakan khusus untuk meramaikan kehidupan sosial media kita (meski kadang, popularitas mereka merembes keluar media sosial seperti saat nongol di sampul majalah-majalah ternama).

Kendati sebagian orang menyebut AI kesohor di atas sebagai bagian dari masa depan manusia, rasanya klaim itu tak sepenuhnya benar. Pasalnya, manusia pernah berada di titik ini sebelumnya. Februari lalu, Fenty Beauty memposting ulang di media sosial mereka foto sebuah perempuan cantik bernama Shudu. Perempuan tersebut punya kulit yang sempurna dan mata yang mustahil dimiliki seorang perempuan. Tak lama kemudian beredar kabar bahwa Shudu sebenarnya cuma seorang supermodel CGI ciptaan fotografer fesyen Cameron-James Wilson. Di bio Instagramnya, Shudu diklaim sebagai supermodel digital pertama di dunia—sayang sekali, klaim tersebut salah besar.

Perkenalkan kembali Webbie Tookay, model yang diciptakan secara digital yang diciptakan oleh desainer Steven Stahlberg yang bekerja sama dengan Elite Model Management pada 1999. Kaum perempuan yang menghabiskan waktunya membolak-balik majalah fesyen, waktu itu sudah kenyang melihat foto perempuan yang punya kulit halus—tanpa pori-pori dan tubuhnya sudah diedit sedemikian rupa.

Jadi, pada dasarnya, konsep menciptakan persona palsu bukanlah hal yang benar-benar baru. Perempuan-perempuan super ini—maksud model-model CGI ini—dipuja-puja sebagai model-model yang mudah menyesuaikan diri dengan tren terkini, tak bisa menggendut, ngambek atau dikontrak oleh lebih dari satu pihak. Direktur Divisi CGI (sekarang sudah dibubarkan), Ricardo Bellino, berani mengklaim bahwa “di masa depan, model virtual akan sama lakunya seperti model sungguhan.”

Dan, Webbie bukan satu-satunya model CGI. Terinspirasi sosok Lara Croft dalam permainan video game Tomb Raider, sejumlah model buatan komputer bermunculan jelang pergantian milenium. Kumpulan cyberbabe ini—penamaan yang mengindikasikan prediksi liar tentang kemajuan teknologi di masa depan—seakan ada di mana-mana dan mengemban berbagai peran yang spesifik, mulai Ananova yang diprogram menjadi pembawa acara berita, Cita, VJ pengampu acara Cita’s World on BET hingga LiLi virtual DJ hasil kerjasama MTV dan Sony Ericsons serta Kyoko Date yang dibuat khusus untuk memeringati 35 tahun agensi talen Horipro.

Penampakan generasi awal cyberbabe konon diilhami oleh seleb-seleb perempuan paling hot pada masanya—alhasil, cyberbabe secara teori Frankenstein modern yang seksi. Annanova, sang pembawa berita, digambarkan sebagai “gabungan dari Kylie Minogue, Posh Spice and Carol Vorderman” oleh juru bicaranya Debbie Stevens kepada New Statesman (dengan rambut berwarna hijau karena penciptanya malas berurusan dengan “stigma” yang menempel jika Annanova berambut pirang atau brunette).

Evans Collins, pendiri lembaga pengarsipan pergantian milenium, Y2K Aesthetic Institute, membenarkan hal ini—seaneh apapun itu terdengar. Menurutnya, generasi awal cyberbabe memang diciptakan untuk memenuhi sosok dalam sci-fi alih-alih mencoba meniru perempuan sungguhan. Dia lantas menunjukkan sebuah artikel tentang Motorola Mya yang oleh beberapa anggota focus groups dianggap “terlalu nyata” tapi “anggun seperti android” saat diberi makeup sederhana.

“Dalam banyak kasus, cyberbabe diciptakan untuk melakoni peran yang sudah disediakan: model, aktris, penyanyi, pembawa acara juru bicara atau asisten virtual,” ujar Collins. “Hal ini bisa dianggap problematis lantaran cyberbabe-cyberbabe ini seakan mengajarkan mengenai penampilan, peran dan tingkah laku yang pantas bagi seorang perempuan.

Setelah tahu bahwa cyberbabe adalah hasil ciptaan perusahaan perintis teknologi yang dibiayai berbagai firma kapital, intensi penciptaan cyberbabe terkesan lebih jahat lagi. Dalam kasus Lil Miquela dan Blawko, mereka adalah sosok kulit berwarna yang diciptakan sebuah korporasi; sebuah entitas bisa sepenuhnya mengontrol ekspresi keduanya."

Collins tak mengada-ada. Pencipta Shudu juga berkulit putih dan dengan begitu banyaknya perempuan non kulit putih yang dipandang sebelah mata di dunia fesyen, memajukan seorang model virtual berkulit gelap untuk menggantikan model-model non kulit putih sungguhan adalah sebuah kebijakan yang kurang ajar.

Satu-satunya ikon cyber yang diklaim punya kepribadian sendiri dan bisa jerawatan serta punya pacar adalah T-Babe, bintang pop remaja yang dibuat lewat komputer oleh pasangan suami istri Tessa dan Sascha Hartmann dari Glasgow Records. Berbekal pengalaman Sascha di kancah musik dan neuropsikologi klinis, keduanya berhasil membangun kepribadian unik—lengkap dengan segala kelemahan—yang menyebabkan T-Babe tampil sangat berbeda. Bahkan, sebelum merilis single pertamanya, biduan remaja virtual ini sudah masuk fitur majalah Vogue dan disuguhi kontrak oleh Louis Vuitton.

Saat ditanya perihal pengaruh kesuksesan cyberbabe generasinya pada generasa Instagram, Tessa mengamini bahwa “generasi masa kini melakukan apa yang Tessa dan Sascha lakukan 20 tahun lalu. Bedanya, teknologinya sudah jauh lebih maju sekarang.”


Tonton dokumenter VICE mengenai para perempuan di Cina yang kaya raya berkat livestreaming:


"Orang selalu mencari konsep yang menarik untuk menghibur diri mereka. Kuncinya dari dulu adalah selalu mendahului permainannya," imbuhnya, "Kita tahu mereka tak nyata dan kita tak mampu bersaing dengan kepribadian siber jadi ini lebih aman dari pencarian terus menerus akan kesempurnaan olah orang sungguhan."

Meski avatar Y2K punya dampak yang luar biasa besar, popularitas mereka dengan cepat menyurut. Salah satu penyebabnya, menurut Collins, adalah kemunculan avatar-avatar baru yang lebih rumit dan mencakup “penggunaan berbagai karakter, setting kehidupan nyata hingga gerakan sosial dan posisi politis dll."

Di zaman ketika semua orang berusaha mendapatkan feed Instagram yang sempuna, kemunculan kembali gadis-gadis CGI adalah salah satu konsekuensi logisnya. Dengan ketidakmampuan kita bersaing melawan kesempurnaan yang komputer, rasanya mustahil influencer CGI dalam waktu dekat menghilangkan kebutuhan akan talenta manusia sungguhan, secanggih apapun mereka.

Dan, kalaupun nanti seleb-seleb CGI ini menggusur keberadaan manusia, itu urusan nanti. Sekarang, kita cukup bersenang-senang memantau kemajuan cyberbabe-cyberbabe masa kini.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

More VICE
VICE Channels