Iklan
Bencana

Aku Naik Feri di Toba, Lima Bulan Usai Tragedi KM Sinar Bangun Tertutup Bencana Lain

Adakah pelajaran yang diambil pemerintah setempat usai musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun Juni lalu? Inilah catatanku bertemu mereka yang masih berduka kehilangan keluarganya.

oleh Aisyah Llewellyn
08 November 2018, 11:00am

Perempuan menangis kehilangan anak perempuannya dalam insiden KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Junita Naibaho terakhir kali memotret adik perempuannya satu jam sebelum dia tewas. Adiknya bernama Manza Naibaho. Saat itu, Manza bersiap menuju ke Samosir, pulau vulkanik di tengah Danau Toba. Kedua kakak beradik ini sebetulnya tinggal di kawasan Toba, tetapi di bagian daratannya. Pulau Samosir adalah salah satu destinasi wisata favorit di Asia Tenggara. Siapa saja bisa menghabiskan akhir pekannya di sana dengan biaya terjangkau.

Kalau dilihat dari foto-fotonya, orang akan menebak liburan mereka berjalan lancar. Junita melihat-lihat lagi profil Facebook adiknya selama liburan di Samosir. Junita menemukan foto Manza bersama dua keponakannya yang masih dua dan lima tahun, beserta 14 anggota keluarga lainnya yang sedang mengambang pakai ban. Manza tampak tersenyum di foto, tangannya merangkul keluarganya saat mengambang di danau.

Sejam kemudian, saat matahari mulai terbenam, Manza dan keluarganya kembali ke daratan, menaiki kapal feri KM Sinar Bangun. Untuk sampai ke Tigaras, dermaga di daratan, perjalanan feri biasanya butuh waktu 40 menit dari Samosir. Kapal itu tak pernah merapat. Baru 10 menit perjalanan, kapal yang ditumpangi Manza tenggelam akibat terjangan ombak tinggi. Hampir 200 penumpang ikut tenggelam bersamanya.

Sebagian besar dari mereka tidak dapat dievakuasi, bahkan sekadar jasadnya pun tidak. Hanya 18 orang yang selamat, termasuk nahkoda yang kemudian didakwa melakukan kelalaian menyebabkan hilangnya nyawa, karena sengaja membawa penumpang melebihi kapasitas.

Seluruh keluarga besar Junita, sebanyak 17 orang, hilang tanpa ada kepastian.

"Hubungan kami lebih dari sekadar kakak-adik," katanya. Junita tak kuasa menahan air matanya ketika mengenang Manza. "Kami cuma beda dua tahun, tetapi kami sangat dekat seperti sahabat."

Yang terjadi selanjutnya adalah cerita klasik yang sering terjadi di Indonesia. Terlalu sering kita dengar kasus banyak orang kehilangan nyawanya secara tiba-tiba akibat hal-hal yang seharusnya bisa dicegah. Setiap kali ada kecelakaan atau bencana, segera muncul periode berkabung nasional, sambil tak lupa mencantumkan tagar #prayfor di postingan internet. Berbagai media akan berlomba memberitakannya. Tim SAR dikerahkan. Netizen Menyalahkan pihak ini-itu. Selanjutnya? Berhenti begitu saja. Tak ada kejelasan.

Tenggelamnya KM Sinar Bangun sempat menjadi tragedi terbesar sepanjang 2018 Akan tetapi, tahun ini adalah tahun yang buruk buat Indonesia. Satu per satu bencana terjadi, mulai dari dua gempa besar di Nusa Tenggara Barat, meletusnya gunung berapi, tsunami dan gempa di Palu, hingga kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang. Jika ditotal secara keseluruhan, rententan bencana ini telah memakan lebih dari tiga ribu korban jiwa.

Masyarakat Indonesia terlalu sering kembali ke status quo dalam waktu singkat setelah bencana. Akibatnya, kita tidak siap mengantisipasi bencana selanjutnya. Ketika gempa bumi dan tsunami melanda Palu, Sulawesi Tengah bulan lalu, alat pantau aktivitas seismik yang dipasang setelah tsunami Aceh sudah lama tidak berfungsi. Tapi tidak ada satupun unjuk rasa rakyat berusaha menuntut pemerintah memperbaiki sistem peringatan dini.

Padahal, alat ini sangat berguna untuk mengurangi bencana. Lebih dari 130.000 orang tewas ketika tsunami menerjang Aceh. Jumlah korban jiwa yang sangat banyak itu ternyata tidak mampu membuat pihak berwenang bersedia merawat sensor yang bisa menyelamatkan orang saat ada bencana.

Hal yang sama juga berlaku dengan sistem transportasi darat, laut, maupun udara di Indonesia. Kita tidak mempunyai peraturan ketat yang sanggup mencegah kecelakaan akibat kelalaian manajemen macam yang dialami KM Sinar Bangun.

"Mengapa standar keselamatannya tidak jadi lebih baik tiap kali ada bencana di Indonesia? Sebab peraturan yang ada seringnya tidak ditegakkan akibat pejabat yang korupsi, tidak terampil, atau sikap tidak peduli terhadap keselamatan orang lain. Padahal adanya aturan pemerintah yang tegas bisa mendukung perjalanan berlangsung lebih aman," kata Stuart McDonald, co-founder Travelfish.org, situs panduan perjalanan ke Asia Tenggara.


Tonton laporan tim VICE di Palu saat pemerintah mengakhiri proses evakuasi padahal diperkirakan ratusan korban masih terkubur:


Kita juga harus ingat bagaimana Haryo Satmiko, Wakil Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), yang sempat mengatakan publik harus "lebih sering berdoa" setelah terjadinya kecelakaan pesawat yang menewaskan hampir 200 orang. Pernyataannya, yang antara pesimis ataupun sembrono itu, jelas sangat mengkhawatirkan.

"Pemerintah pada dasarnya melemparkan tanggung jawab ke konsumen. Apakah kapalnya terlihat tidak layak operasi atau kelebihan beban? Kalau iya, mending jangan naik. Apakah maskapainya punya reputasi buruk karena tidak memprioritaskan keselamatan dan pilotnya menggunakan narkoba? Makanya pilih pesawat lain. Hal macam ini seharusnya tidak menjadi tanggung jawab penumpang," kata McDonald. "Para penumpanglah yang jadinya dipersalahkan, hanya karena pejabat tak mau melakukannya. Akibatnya apa? 200 orang lebih tenggelam ke dasar Danau Toba."

Di Danau Toba, KM Sinar Bangun sebelum hari nahas itu sudah seringkali penuh sesak. Jumlah penumpang saat karam tiga kali lipat kapasitasnya, tapi itu merupakan masalah yang sering dialami feri-feri lain di Indonesia. Deknya yang sempit dipenuhi lebih dari 60 sepeda motor saat kejadian. Jendela kapal feri ini dipasangi balok besi untuk melindungi kapal dari penjarah pada malam hari. Tragisnya, balok yang sama akhirnya menghalangi penumpang melarikan diri dari kapal yang sedang tenggelam. Jumlah pelampung di feri tersebut juga jauh lebih sedikit dibanding jumlah mereka yang berada di anjungan.

Hampir lima bulan kemudian, saya menaiki feri pada rute yang sama seperti KM Sinar Bangun untuk melihat apakah ada perubahan. Kapal siang itu tidak terlalu ramai. Tapi menurut kaptennya, salah satu alasan sepinya penumpang gara-gara jumlah turis asing di daerah ini ikut menurun setelah mendengar kapal KM Sinar Bangun tenggelam pada liburan Idul Fitri lalu.

Rupanya, tak banyak kemajuan berarti. Jumlah pelampung masih sangat kurang. Saya menghitung satu pelampung per setiap tiga tempat duduk. Ada sekitar tiga pelampung bundar yang diikat pada atap kapal, sulit dijangkau dalam keadaan darurat.

Satu hal yang mungkin sudah berubah adalah perhitungan akurat nama dan jumlah penumpang yang menaiki feri tersebut. Ketika KM Sinar Bangun tenggelam, tidak ada data penumpang lengkap. Pemerintah kesulitan mengetahui siapa saja yang berada pada kapal. Sekarang kru mencatat nama setiap penumpang, tetapi ini hanya cara yang lebih baik untuk menghitung jenazah seandainya terjadi bencana. Catatan manifes detail tidak bisa melindungi nyawa orang dari potensi bahaya.

Kapal-kapal ukuran menengah terus beroperasi di Danau Toba karena di kawasan in feri adalah transportasi utama. Di bawah permukaan air, di di bawah desiran ombak Danau Toba, kita harus ingat masih terletak kerangka KM Sinar Bangun dan ratusan jasad korban. Tim SAR membutuhkan seminggu untuk menemukan kapalnya di dasar danau. Tetap saja, tidak ada rencana untuk membawa kapal tersebut ke permukaan danau dan mengumpulkan jenazah korban. Bagi warga lokal seperti Mico Sitio, suami Junita, upaya evakuasi korban dibatalkan begitu reruntuhan kapal tersebut ditemukan tim SAR.

"Apa gunanya mencari kapalnya dan memberi kita harapan palsu kalau enggak ada rencana untuk membawanya ke permukaan?" kata Mico padaku, menyampaikan rasa kecewanya terhadap tim SAR. "Pemerintah lokal mengatakan mereka sudah berada di tempat kejadian malam kecelakaan, tapi mereka bohong. Bahkan jenazah yang ‘ditemukan’ SAR sebenarnya ditemukan warga lokal saat jenazah tersebut terdampar di pinggiran."

Rasmi, ibu Manza, gelisah sampai sekarang. Dia merasa tidak tenang karena tidak ada jenazah kerabatnya yang bisa dikuburkan sampai sekarang.

"Setidaknya kalau kami punya seikat rambutnya saja buat dikubur, kami akan mempunyai tempat buat diziarahi," katanya. Menurut Rasmi, seharusnya ada monumen mengenang korban di Tigras yang dibangun pemerintah. "Supaya kami ada tempat untuk berduka. Bahkan pemerintah sampai sekarang belum menggelar upacara peringatan di danau untuk para korban."

Junita tidak sanggup menahan tangisannya sembari mendengar keluh kesah ibunya. "Aku merasa kayak orang gila," katanya saat ditanya bagaimana caranya mengatasi rasa kehilangan. Saat keadaan di Toba kembali normal, di momen itulah justru orang seperti Junita semakin terpukul. Dia kehilangan banyak hal dan berduka sendirian, sementara orang lain melanjutkan hidup dan mulai melupakan tragedi KM Sinar Bangun lantaran muncul berita bencana lain.

Di dermaga Samosir sore itu, setelah kapal selamat bersandar, saya ngobrol bersama Leo Sidabutar, kapten feri berumur 26 tahun. Apakah kecelakaan saat libur lebaran lalu mempengaruhi hidupnya? Dia mengaku aman-aman saja. Leo merasa, dalam profesinya sebagai nakhkoda, ada banyak hal di luar kendalinya, contohnya badai mendadak.

Dia tidak pernah takut menjalankan tugas menyeberangkan manusia melintasi danau terbesar Indonesia itu sekalipun belum ada perbaikan standar keselamatan. Tapi dia mengakui belum mampu melupakan korban KM Sinar Bangun. Rute berlayar kapal Leo senantiasa membuatnya melewati lokasi kapal koleganya tenggelam untuk selama-lamanya.

"Setiap kali saya melewati lokasi itu, saya selalu berdoa," ujarnya padaku.

—Arzia Tivany Wargadiredja, staff writer VIEC, berkontribusi untuk liputan ini

Tagged:
Travel
News
indonesia
Berita
Sumatra Utara
danau toba
KM Sinar Bangun
musibah
Kecelakaan Transportasi
basarnas
Lion Air JT-610
Lion Air Jatuh di Karawang
Samosir
Kapal Feri Tenggelam
Keselamatan Transportasi