Seni

Inilah 11 Film Tentang Seni dan Fesyen Wajib Kamu Tonton di Netflix

Catat judul film-film ini ya, barangkali kamu butuh bahan nonton maraton pas liburan akhir tahun nanti.

oleh Tom Philip
23 November 2018, 8:45am

Cuplikan film 'Marie Antoinette'

“Seni” itu sebenarnya apa sih? Baiklah ini pertanyaan lawas. Mungkin sama tuanya dengan umat manusia. Tapi, saya punya alasan kenapa saya membuka tulisan ini dengan pertanyaan semendasar—atau malah seberat—itu. Pertanyaan ini saya ajukan tak cuma untuk memicu diskusi yang mencerahkan (azek!) mengenai nilai arbitrer yang kita berikan pada upaya dan selera orang lain, tapi juga karena, menurut saya, kategori “film seni dan fesyen” itu sebuah konsep yang rumit.

Begini misalnya, saya punya dua pertanyaan tentang kategori tersebut: 1) apakah film fesyen itu hanya terbatas film tentang fashion dan 2) bolehkah kita memasukkan film dengan tata busana ciamik—misalnya Marie Antoinette garapan Sofia Coppola deh—dalam kategori ini.

Eh tapi, biar kalian renungkan sendiri dua pertanyaan itu. Sebenarnya, saya cuma mau membeberkan film-film di Netflix yang dalam satu atau dua hal sangat terobsesi dengan kreativitas desainer fesyen, estetika fesyen atau setidaknya busana-busana yang bernilai fesyen tinggi.

Apakah film-film ini masuk kategori film seni dan fesyen? Saya enggak tahu. Tapi, saya bisa menjamin film-film ini bisa kamu tonton secara maraton liburan akhir tahun depan—dan mungkin sedikit bikin kalian melek fesyen.

Baiklah, ini dia daftarnya.

1542829369710-ZP-Blk_Dress-Slicked-800-800-450-450-crop-fill

House of Z (2017)

Film pertama yang mutlak masuk daftar ini adalah dokumenter tentang Zac Posen garapan Sandy Chronopoulos. Bagi yang awam fesyen, Posen adalah jenius fesyen yang pernah ditunjuk menjadi desainer utama salah satu brand fesyen di kolong jagat. Diddy dan Naomi Campbell jadi dua orang dari sekian tokoh fesyen yang diwawancarai film ini di sela-sela shot-shot yang memamerkan busana yang keren.

1542829079375-Screen-Shot-2018-11-21-at-23738-PM

Marie Antoinette (2006)

Kalian bisa ngomong apa saja tentang Sofia Coppola. Bagi saya, Sofia lihai memilih desain set dan busana yang tak cuma kelihatan keren tapi juga menegaskan karakter yang mengenakannya. Seperti dalam proyek terbarunya The Beguiled, Marie Antoinette memanfaatkan busana dan setting untuk bikin mulut penontonnya menganga serta menekankan tema tentang jomplangnya kelas, otoritas dan posisi dilematis yang dimiliki perempuan, sebesar apapun kekuasaan yang di atas kertas dia genggam.

1542829021812-Screen-Shot-2018-11-21-at-23646-PM

Bowie: The Man Who Changed The World (2016)

David Bowie menghabiskan seumur hidupnya praktis hanya mengerjakan dua hal: membuat karya seni dan menjadikan dirinya sendiri sebuah karya seni. Bowie meninggalkan katalog musik yang luar biasa dan mengilhami satu generasi untuk berpikir nyeleneh saat berkarya. Bowie: The Man Who Changed The World adalah film yang wajib ditonton baik oleh para fan berat Bowie atau mereka yang cuma tahu lagu "Space Oddity."

1542828947089-Screen-Shot-2018-11-21-at-23444-PM

Shirkers (2018)

Sebuah kisah nyata memukau yang mengubah konsep kepemilikan sebuah film indie kecil menjadi sebuah crime thriller. Ini mungkin salah satu film terbaik yang tak masuk radar kalian semua tahun ini.

1542828746658-Screen-Shot-2018-11-21-at-23123-PM

The Devil's Candy (2015)

Sutradara The Loved Ones Sean Byrne dalam karya keduanya menggarap film horor yang cepat dan menyenangkan. Ceritanya tentang seniman yang tengah berjuang mati-matian meniti karir. Tiba-tiba saja, seniman menjadi sangat kreatif, karirnya luar biasa moncer dan makin terobsesi dengan artwork-artwork mengerikan. Seperti musik death metal yang digemari tokoh utama film ini dan putrinya, ini bukan film untuk semua orang. Tapi, The Devil's Candy menawarkan banyak hal, tak melulu adegan-adegan seram.

1542828531953-Screen-Shot-2018-11-21-at-22833-PM

Sex and the City: The Movie (2008)

Ingat, Sex and the City yang pertama ya. Bukan sampah yang dijuduli The Sex and the City 2. Tentu saja, saya enggak bisa bilang film pertamanya tanpa cela (Ingat Dodai Stewart, kritikus film dari Jezebel, pernah menulis “film ini bikin saya ingin mengiris-iris tubuh saya sendiri”). Namun, narasi yang kedodoran dan mubazirnya Jennifer Hudson bisa dimaafkan setelah kita melihat topi pernikahan Carrie yang memesona itu.

1542829676110-Screen-Shot-2018-11-21-at-24735-PM

Ai Weiwei: Never Sorry (2012)

Kerap digelari "Andy Warhol masa kini," seniman dan buronan politik Cina Ai Weiwei dikenal karena sering melontarkan kritik pedas kepada pemerintah Tiongkok. Weiwei bahkan pernah dijebloskan ke penjara karena keberaniannya pada 2011. Never Sorry membedah aktivitas sipil Weiwei dan semua karya-karyanya yang terdiri dari patung, karya seni instalasi, arsitektur dan banyak lagi lainnya.

1542833177917-Screen-Shot-2018-11-21-at-34734-PM

Atonement (2007)

Baiklah, secara teknis, film ini lebih tepat disebut sebagai film drama perang daripada film fesyen. Akan tetapi, kegigihan untuk setia menampilkan visual era romantik Inggris yang agak murung memaksa saya memasukkan adaptasi novel Ian McEwan dalam daftar ini. Satu lagi yang penting: adegan busana berwarna hijau.

1542833443473-Screen-Shot-2018-11-21-at-35020-PM

The True Cost (2015)

Dokumenter yang bikin bulu kuduk merinding tentang pekerja pabrik pakaian yang harus menderita demi “fast fashion” adalah tontonan wajib bagi semua orang yang tertarik akan globalisasi industri fesyen (asal tahu saja, inspirasi film ini adalah ambruknya pabrik fesyen Rana Plaza, di Dhaka, Bangladesh.)

1542833832278-Screen-Shot-2018-11-21-at-35647-PM

Manolo: The Boy Who Made Shoes for Lizards (2017)

Sebelum Manolo Blahnik jadi sosok penting dalam kancah fesyen dunia (atau setidaknya di Voguesubscriptions), dia cuma pemuda dari Canary Islands, Spanyol yang bikin sepatu-sepatu mungil untuk kadal dari alumunium foil dalam bungkus permen. Dokumenter besutan editor fesyen Michael Roberts ini menyusuri evolusi Blahnik menjadi salah satu desainer paling diperhitungkan saat ini. (Bonus: kalian bisa menyaksikan cameo Anna Wintour dan André Leon Talley!)

1542834531758-Screen-Shot-2018-11-21-at-40740-PM

How To Lose A Guy in 10 Days (2003)

Komedi romantis yang dibintangi Kate Hudson dan Matthew dengan tepat merekam miss-en-scene majalah-majalah fesyen awal 2000an dan setelah setidaknya sampai The Devil Wears Prada beredar pada 2006. Tokoh protagonis dalam film ini ditugasi meliput rivalitas majalah fesyen laki-laki dan majalah fesyen perempuan.

Plotnya memang klasik dan bikin kita kangen masa-masa ketika media cetak memasuki senjakalanya dan bisa mengongkosi wartawannya untuk mencari pacar (dan membeli jaket Burberry untuk anjingmu). Plus, kualitas akting Kathryn Hahn di film ini paripurna!

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE