Iklan
Sepakbola Indonesia

Jangan Terlena Lihat Aksi Satgas Anti Mafia Bola, Selama PSSI Belum Tutup Celah Pengatur Skor

Siapapun pasti senang melihat tim Satgas anti mafia bola cekatan mencokok para tersangka pengatur skor sepakbola. Tapi jangan berbesar hati dulu, PR buat PSSI masih banyak banget.

oleh Adi Renaldi
09 Januari 2019, 8:41am

Pertandingan Piala Asia di Palembang. Foto ilustrasi oleh Lee Jae-won/Reuters.

Satgas anti mafia bola sudah langsung bekerja meski baru dibentuk satu bulan belakangan. Sejak akhir Desember lalu, sudah lima orang dijadikan tersangka, termasuk petinggi PSSI dan seorang wasit. Satgas anti mafia bola merupakan sebuah inisiatif dari Mabes Polri yang bekerjasama dengan PSSI dan PT Liga Indonesia.

Awal pekan ini wasit Nurul Safarid ditangkap karena terbukti melakukan match-fixing saat laga Persibara Banjarnegara melawan Persekabpas Pasuruan. Pengaturan skor tersebut dilakukan agar Persibara mendapat kemenangan. Sebelum pertandingan tersebut berlangsung, Nurul disebut-sebut melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak termasuk petinggi PSSI dan komite wasit.

Hasil dari pertemuan tersebut, Persibara berhasil melesakkan dua gol ke gawang Persekabpas tanpa balasan. Atas perannya, Nurul menerima duit Rp45 juta dari petinggi PSSI.

Sejauh ini satgas anti mafia bola telah menetapkan lima tersangka termasuk anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto, mantan anggota Komisi Wasit PSSI Priyanto dan anaknya Anik Yuni Artikasari.

Sebelum satgas anti mafia bola ini dibentuk, tidak pernah ada efek jera yang diberikan bagi pihak yang terlibat skandal pengaturan skor. Akhir Desember lalu, anggota komite eksekutif PSSI Hidayat hanya dijatuhi sanksi dan denda saat terbukti melakukan suap terhadap manajemen Madura FC agar mengalah dari PSS Sleman.

Pengamat sepakbola Tommy Welly mengatakan masalah akut pengaturan skor dan mafia sepakbola tidak bisa lepas dari industri taruhan yang terus mencari celah mempengaruhi skor pertandingan. Selain itu, masalah kesejahteraan pemain dan penyelenggara pertandingan juga menjadi penyebab maraknya suap.

"Kalau melihat ada ketidakberesan, pemain yang gajinya belum dibayar misalnya, mereka [para mafia] itu senang," kata Tommy seperti dikutip viva. "Itu jadi celah buat mereka. Jadi mereka coba masuk ke sini. Kalau dilihat per tahun 2013, perputaran uang paling besar (judi sepakbola) ada di Asia."

Namun Tommy buru-buru menambahkan bahwa industri judi tak melulu harus disalahkan. Sebab, pemilik klub, official, maupun anggota PSSI pun bisa saja melakukan praktik suap agar timnya lolos dari zona degradasi.

Satgas anti mafia bola memang menjadi harapan baru untuk membongkar mafia yang sudah menggurita demi industri sepakbola yang lebih sehat. Sebab, masyarakat sudah kadung tak percaya dengan PSSI yang tidak juga mau berbenah. Skandal pengaturan skor tercatat sudah terjadi sejak beberapa dekade lalu. Sebuah berita yang dimuat di Majalah Tempo edisi 2 April 1988 memuat judul 'Acub Zainal: Rusaknya Sudah Terlalu Parah' yang menyoroti kian merebaknya suap sepakbola Indonesia meski sudah dibentuk Tim Penanggulangan dan Pemberantasan Masalah Suap (TPPMS).

Walaupun begitu, PSSI tak seharusnya merasa puas dan mengandalkan satgas anti mafia bola buat membasmi suap. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Fajar Junaedi, pengamat sepakbola dan dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengatakan PSSI bisa menerapkan early warning system yang sudah diterapkan oleh FIFA sejak 2007. Fungsi dari sistem ini adalah memonitor secara dini setiap laga untuk mencegah pengaruh negatif dari luar (termasuk suap tentu saja).

Fajar juga mengatakan Indonesia seharusnya bisa mencontoh Italia dalam menanggulangi mafia sepakbola. Italia, kata Junaedi, menerapkan hukuman berat bagi klub yang terlibat pengaturan skor: degradasi.

"Rekaman percakapan telepon bisa menjadi bukti fisik yang diinvestigasi, di samping bukti fisik lain yang relevan," kata Fajar kepada VICE.