Sepakbola

Foto-Foto Menyentuh Gambarkan Relasi Suporter Bola Inggris dan Klub yang Mereka Bela

Selama 30 tahun, Stuart Roy Clarke memotret suasana stadion di berbagai kasta liga seantero Britania Raya. Foto-fotonya menangkap berbagai momen manis maupun getir dari jagat sepakbola.

oleh Clive Martin; foto oleh Stuart Roy Clarke
07 Mei 2018, 10:10am

Foto berjudul "Looking Up"; Sunderland v Coventry City; Roker Park; 1996 

Hanya segelintir orang saja yang mampu dan layak membicarakan kultur sepakbola lebih mendalam dibanding fotografer Stuart Roy Clarke.

Selama 30 tahun lamanya, Clarke tak henti-hentinya mengabadikan kejayaaan sepakbola Inggris yang kadang tragis, namun juga berpotensi membuat senyum tersungging. Clarke menghasilkan banyak karya yang menyebar seluas pengaruh kancah sepakbola Inggris. Rasanya tak ada yang lolos dari bidikan kameranya, entah itu gol-gol luar biasa yang dicetak Manchester United, anjing yang nyelonong masuk lapangan di Buxton, cewek-cewek penjual burger di Tranmere, hingga pemandangan senja bernuansa sendu di kandang Wigan. Semua momen itu masuk dalam proyek fotografi Clarke yang epik "Homes Of Football".

Lima puluh lima foto jepretan Clarke dipamerkan di Museum Of Football. Saya menemui Clarke. ngobrol tentang selera-selera humor yang buruk ala suporter Inggris, fanatisme dan tribalisme gara-gara sepakbola, siapa manajer klub yang paling culas, serta alasannya menyebut para pendukung Sunderland sebagai yang paling fotogenik di Britania Raya.

“Neon Girls”; Tranmere Rovers v Watford; Prenton Park; Merseyside; 1992

VICE: Halo Stuart, bisa ceritakan proyek fotomu ini—bagaimana sih awal mulanya?
Stuart Roy Clarke: Aku dikelilingi segala hal yang berbau sepakbola sejak kecil—keluargaku aktif terlibat pengelolaan kompetisi sepakbola level junior. Mereka adalah suporter garis keras Watford, klub sepakbola dari kota yang paling dekat dengan tempat kami tinggal. Aku beruntung dikaruniai kepekaan artistik, yang akhirnya aku curahkan ke fotografi.

Di akhir dekade 1980'an, semuanya terjadi begitu saja. Aku baru saja keluar dari universitas dan kebetulan sedang serius-seriusnya mencari subyek-subyek yang besar. Menurutku, “olah raga” adalah subyek yang kelewat enteng. Olah raga pada dasarnya menarik. Tapi, kurang pas bagi mereka yang doyan mengamati politik dan menyelami tindak-tanduk manusia. Olah raga, menurutku waktu itu, berkutatat di track lari atau stadion. Namun begitu semua perhatian terpusat pada sepakbola, dengan segala macam bencana, holiganisme dan perilaku sosial di sekitarnya, aku sadar bahwa sepakbola adalah subyek yang aku cari.

Sepakbola adalah sesuatu yang selalu aku cintai dan punya tempat spesial di hatiku. Alhasil, sepakbola menjadi subyekku yang “serius.” aku sadar bahwa dalam beberapa tahun setelah, sepakbola bakal banyak dapat perhatian. Investasi besar-besaran dilakukan untuk membenahi sepakbola setelah insiden tewasnya suporter asal Inggris di Hillsborough, Bradford, dan Heisel.

“Homely Footba’ Ground”; Clydebank; Kilbowie Park; Scotland; 1989

Masih ingat apa foto pertamamu terkait sepakbola?
Aku pergi ke daerah Clydebank menggarap esai foto tentang Wet Wet Wet—sebuah grup band pop yang anggotanya rombongan suporter fanatik berat Glasgow Rangers. Aku disewa sebuah majalah bernama 20/20, tapi aku tak menganggapnya sebagai titik tolak dari semua hal keren yang kelak aku kerjakan. Aku memulainya dengan foto hitam putih. Alasannya karena aku pikir itulah yang dilakukan para fotografer jalanan lakukan. Baru setelah dua bulan, aku sadar harusnya aku mengerjakan foto berwarna karena semua orang selalu ngomong tentang warna: the reds, the blues, the yellows atau the hoops. Warna adalah salah satu aspek penting dalam sepakbola, nyaris sama pentingnya seperti dalam The Wizard of Oz. Aku pun segera beralih ke foto berwarna. Aku sadar subyek fotoku tak akan lari ke mana-mana. Awalnya, aku berikrar akan memotret tetek bengek sepakbola selama 10 tahun. Nyata, semua berlangsung selama 30 tahun.

“Refreshment Kiosk”; Leigh RMI FC; Hilton Park; 2005

Gimana sih caramu memilih pertandingan yang hendak dipotret? Apa kamu memilih pertandingan penting, seperti laga derby, atau pertandingan penuh aroma balas depan, atau malah lebih suka pertandingan yang tak penting-penting amat?
Aku sempat punya kebiasaan mendatangi pertandingan yang ada kaitannya dengan lokasi aku memamerkan foto-fotoku. Jadi, kalau aku sedang pameran di Mansfield atau Birmingham, atau di mana pun itu, aku akan menghabiskan tiga bulan atau lebih untuk mendatatangi laga-laga di daerah itu. Jadi, foto-foto punya kedekatan dengan lokasi pameran digelar. Cuma, aku juga berusaha menggarap foto-foto dalam skala geografis yang lebih luas. Aku mencoba memotret tentang persaingan antar klub, laga-laga di akhir musim kompetisi, pertandingan pertama dan terakhir, malah kadang aku datang ke pertandingan tanpa alasan apapun. Ini sudah jadi satu kebiasaan tersendiri. Ini pula yang terus mendorongku, menemukan kenapa sebuah klub begitu menarik, mencoba merekam yang terjadi di lapangan pada pukul tiga sore atau apa yang terjadi dalam pertandingan di hari Rabu yang diguyur hujan. Inilah yang disukai semua orang—sisi-sisi keseharian sepakbola.

“Shepherds Bush Telegram”; Queens Park Rangers v Cardiff City; Millennium Stadium; Cardiff; 2003

Kamu pernah datang ke pertandingan salah enggak? Misalnya, kamu melewatkan momen bersejarah keren macam insiden tendangan kung-fu Cantona karena malah motret pertandingan liga kasta rendahan macam Huddersfield atau Plymouth?
Kayaknya sih enggak pernah. Yang aku rasakan justru keinginan untuk menghadiri semua pertandingan. Aku terus memantau teleprinter, feed BBC Sprot, semua ringkasan pertandingan dan hasilnya, skor, klasemen liga dan aku selalu berharap bisa ada di setiap pertandingan. Aku merasa tak pernah salah memilih pertandingan, karena selalu bisa menemukan sesuatu yang menarik. Sejatinya, aku suka semua pertandingan yang aku hadiri. Makanya, foto-foto yang aku pamerkan punya skup yang luas—aku punya foto pertandingan Man United di sebelah foto pertandingan Conniston. Aku suka menikmati banget prosesnya.

Kamu punya stadion atau suporter favorit buat difoto? Kalau dilihat di bukumu, kamu kayaknya sering banget motret Newcastle.
Menurutku ada beberapa yang fotogenik. Misalnya, aku tak pernah mengaku fotogenik—aku juga tak pernah bilang diriku jelek, tapi tiap di foto hasilnya jelek. Hal yang sama terjadi di sepakbola dan di beberapa stadion. Ada beberapa stadion yang meskipun mataku ditutup dan badanku diputar-putar sampai puyeng, aku toh tetap dapat foto yang bagus. Stadion-stadion itu adalah Newcastle, Sunderland, Burnley dan Blackburn. Ada juga stadion, di mana aku harus berjuang mendapatkan foto yang bagus. Carlisle United jadi klubku setelah Watford begitu aku pindah ke Cumbria.

Di masa itu, aku menghabiskan lebih banyak waktuku di stadion Carlisle daripada stadion mana pun di Inggris. Hanya saja, aku tak dapat banyak foto bagus di sana. Malah, aku bisa menghasilkan foto-foto keren di klub yang aku kunjung sekali dua kali saja. Mungkin masalahnya, aku punya keterikatan emosional jadi aku terlalu ngotot berusaha atau tak bisa menyampai apa yang ada di benakku. Cuma kalau ditanya mana yang fotogenik, aku pasti akan memilih Sunderland. Stadion Sunderland—bukan kandang Newcastle—adalah stadion paling fotogenik menurutku. Eh tapi yang aku maksud itu stadion sunderland yang lama ya, Roker Park. Stadium of Light tak terlalu fotogenik.

“The H’Away Lads”; Newcastle United at Ipswich Town; Portman Road; 1990

Kebanyakan diskursus soal dunia suporter sepakbola di Inggris berkutat pada hooliganisme. Anehnya foto hooliganisme malah absen dalam karya-karyamu. Apakah ini keputusan yang sadar kamu ambil untuk menyoroti sisi lainnya?
Aku rasa aku sudah berusaha menyeimbangkan subyek fotoku dan orang lain salah memahaminya. Ini kedengaran arogan, tapi aku benar-benar melakukannya kok. Aku sudah kepalang bosan dengan berita tentang hooligan yang disajikan secara sensasional dalam majalah. Aku paham kok. Berita tentang hooligan memang menyita perhatian, tapi aku memandangnya dari perspektif tertentu. Aku masih ingat betapa nyaliku mengkerut di stadion pada dekade ‘70an dan ‘80an, sebelum aku memulai proyek ini. Lucunya, selama aku menjalani proyek ini, aku sangat jarang perkelaihan atau seorang sporter yang babak belur dikeroyok. Aku memang sering menjumpai suporter mengobral sumpah serapah atau kelakar dengan selera humor rendahan—aku juga ingin mengabadikan momen-momen seperti ini juga. Tapi, aku tak pernah melihat orang melempar bata ke kepala suporter lainnya. Jadi bilang aku nonton sepakbola sepanjang 100 menit dan satu menit di antaranya aku merasa terancam, maka satu dari 100 fotoku akan memuat elemen yang mengancam itu.

“That Carlisle Jump”; Carlisle United v AFC Bournemouth; Brunton Park; 2007

Apa yang sih ritualmu saat hari pertandingan?
Aku sebenarnya punya akses ke mana saja dalam tiap pertandingan; aku misalnya boleh menjadi fotografer dengan mengenakan seragam latihan sepakbola di lapangan. Aku punya privilese itu, aku tak mengingkarinya. Cuma aku berusaha menyajikan foto dari sudut pandang suporter. Atau kadang dari sudut pandang orang yang terkunci dalam stadion yang berusaha mencari celah keluar. Kadang aku keluar dan memotret apa yang tertinggal di lapangan setelah pertandingan berakhir. Sebisa mungkin, aku tak memotret bak seorang orang dalam sebuah klub cuma karana aku bisa melakukannya. Aku tak pernah masuk ruang ganti pemain, itu wilayah khusus para pemain. Semua yang aku foto ada di luar ruang itu. Aku berusaha datang duluan ke stadion setelah para penjaga. Aku selalu memilih berada di depan penonton. Jadi aku merasa tiap pertandingan adalah pesta dan panggungku. Posisi ini juga memberiku semacam otoritas. Setelah itu, aku akan berjalan di kawasan di sekitar stadion. Aku melakukannya pekerjaanku dengan berjalan kaki.

“The Chairman’s Dream Of Too Much on His Plate”; Carlisle United; Brunton Park; 1993

Salah satu foto favoritku dari koleksimu adalah foto Pemilik Carlisle United, Michael Knighton lagi asik melahap kue—apa sih cerita di balik foto ini?
Ini proses keputusannya seperti yang kuambil soal hooliganisme. Fokusku tentang bagaimana aku memperlakukan orang lain. Apakah aku akan mengatakan, ‘Lihat nih si pemilik klub, brengsek ya orangnya’? Jujur, aku agak lunak orangnya, jadi aku melihat kami semua sebagai sebuah keluarga besar, tapi beberapa orang memang lebih asik dibanding yang lain. Tapi mereka tetap keluarga, jadi sebelum aku menghakimi, aku harus mengingatkan diri untuk berusaha menahan penilaian dan mencoba mengerti mereka.

Karena keterlibatanku dengan Carlisle United, Knighton menyukaiku dan membuatkanku jalur khusus. Kami sangat akrab, jadi akupunya akses bagus ke beliau dan klubnya. Tapi kami sama-sama sadar bahwa dia bukan orang suci juga. Kejadiannya terjadi di acara Natal Carlisle—dia mengatakan, “Sini duduk bareng,” dan di atas meja ada banyak kue… dan dia mulai melahapnya. Aku tidak menyuruhnya, tapi dia mulai berpura-pura memakan semua kue tersebut. Ada nuansa “dasar manusia serakah” tentang foto tersebut, tapi dasarnya bukan kebencian. Aku bertanya dulu ke dia apakah foto ini boleh digunakan untuk pameran, dan dia memberikan izin.

"Gary Speed, Footballer"; Leeds United; Elland Road; 1991

Ada banyak humor dalam foto-fotomu. Tentu banyak juga momen-momen menyentuh, misalnya potret Gary Speed ketika masih muda.
Aku memulai proyek ini dengan sudut pandang jurnalistik. Tapi aku juga memiliki sisi romantis penuh nostalgia. aku menyadari bahwa berlalunya waktu adalah salah satu bagian terpenting dari fotografi. aku sadar bahwa aku memfoto sesuatu yang berubah; akan ada badai nostalgia yang besar bagi tribun Holte End di Aston Villa ketika itu sudah tidak ada lagi, bahkan mungkin untuk Michael Knighton ketika dia sudah meninggalkan sepakbola. Dan yang paling menyentuh adalah foto Gary Speed. Beberapa orang hampir menangis ketika melihat foto tersebut.


Tonton dokumenter VICE Sports tentang derby-derby sepakbola paling brutal di dunia:


Aku sama sekali tidak tahu waktu itu. aku tahu bahwa suatu hari dia akan menjadi tua dan kegantengannya akan memudar. Itulah yang aku kejar—betapa gantengnya dia di Leeds pada 1991. Dan memang dia orang yang seperti itu; dia adalah orang yang hebat, jadi aku semakin mengangkat dia lewat foto itu. Dan akibat kejadian beberapa tahun yang lalu, foto yang bagus menjadi sangat memukau.

“Cry For Home”; Greenock Morton v Dunfermline Athletic; Cappielow; Inverclyde; Scotland; 1995

Pameran ini didasarkan arsip foto pribadi kesukaanmu. Apakah ada satu foto yang benar-benar melambangkan usaha merekam sepakbola Inggris?
Foto favoritku diambil pada 1995, berjudul “A Cry From Home”. aku mengambilnya di sebuah klub bernama Greenock Morton di pinggir Glasgow—mungkin maksimal menampung 2.000 orang. Hari itu dimulai cerah namun kemudian berubah menjadi abu-abu dan hujan turun. Kemudian bisnya tidak datang. Lelaki malang di antrian paling depan menunggu kedinginan tanpa membawa mantel.

Dia basah kuyub dan menangis. Ini apa yang disebut Ayahku sebagai “panggilan kembali ke Bumi.” Hari itu berjalan baik untuk si lelaki tersebut—mereka mengalahkan pemimpin liga, Dunfermline—tapi begitu 90 menit itu berakhir, apa realitanya bagi banyak orang? Menunggu bis, kedinginan, mencari nafkah, ya semua realita kehidupan. Seperti inilah pengalaman masa kecilku—lapangan hijau, tapi banyak warna abu-abu dan beton yang suram. Ini bukan potret yang paling membahagiakan, tapi bukan lantas sedih juga.

Apa yang membuat Inggris menurutmu ladang subur bagi fotografi sepakbola?
Di Inggris, penonton dan perbedaan wilayah memainkan peran yang besar. Pendukung Sheffield Wednesday menyanyikan lagu yang berbeda dari pendukung Sheffield United biarpun jarak mereka hanya terpaut beberapa kilometer. Kota lain memiliki selera humor yang berbeda. Semua klub di Inggris saling berdekatan—32 kilometer dianggap sebagai jarak yang jauh; kami memiliki lanskap klub yang sangat intens—dan semuanya bertahan. Lima puluh dari 92 klub pernah terancam bangkrut, tapi selalu ada yang menyelamatkan mereka. Ini tidak akan terjadi di Italia atau Jerman. Kami diberkati situasi seperti ini.

“Young Mother Red With Pram”; Liverpool; Aintree; 2005

Setelah tiga dekade mengunjungi banyak pertandingan, kamu mungkin bisa menjawab pertanyaan ini: Kenapa sepakbola terus populer bagi rakyat Inggris? Apa dampak sepakbola bagi kehidupan orang-orang?
Sepakbola adalah anugrah bagi manusia, dari manapun dia berasal. Sayang sekali kalau berkah yang luar biasa ini tidak dinikmati dan disyukuri. Sepakbola lebih seru dibanding belanja atau nonton teater. Tidak peduli berapa biaya tiket teater, orang akan memilih pergi ke pertandingan sepakbola. Kesederhanaan sepakbola mungkin kuncinya. Ada sub-plot, tapi pertandingannya sendiri sangat mudah dipahami, jadi semua orang—hakim, orang awam, orang bego seperti aku—bisa dengan mudah turut serta. Sepakbola populer karena memang bagus.

Terima kasih atas kesediaanmu diwawancarai Stuart.

Follow penulis artikel ini di akun @thugclive

Silakan lihat foto-foto lain dari seri "Homes of Football" berikut:

“Sunset Over Springfield Park”; Wigan Athletic v Bolton Wanderers; 1990
“Goliath”; Newcastle United at Sunderland; Roker Park; 1992
“Finding One’s Likeness In The Crowd”; Sunderland v Newcastle United; Roker Park; 1992
“Gissa Snog”; Everton v Spurs; Goodison Park; Liverpool; 2001
“High Noon In North London”; Arsenal v Liverpool; Highbury; London; 1990
“Boy Peers Round The Wall”; Matlock Town; Causeway Lane; 2014
“Allegiance To The Wall”; Rangers v Kilmarnock; Hampden Park; Glasgow; 1994

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.