Sejarah

Kimchi Ternyata Punya Pengaruh Besar Dalam Sejarah Perang Vietnam

Prajurit Korea tidak semangat berperang tanpa kimchi, sehingga Amerika Serikat setuju menyediakannya dengan anggaran $2 juta (setara Rp28 miliar) per tahun.
07 Juni 2020, 6:00am
kimchi
Foto milik pengguna Flickr Jin Li

Pencinta masakan Korea pasti juga suka dengan kimchi. Terbuat dari kubis dan sawi putih yang difermentasi, kimchi telah menjadi makanan pokok di Negeri Ginseng ribuan tahun lamanya. Hidangan ini semakin dikenal ketika budaya Korea Selatan berhasil merebut perhatian dunia. Sejak itu, kimchi mudah ditemukan di mana saja kalian berada. Asinan sayur tersebut bahkan pernah dijadikan topping roti panggang dan quesadilla di Amerika Serikat.

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa kimchi memegang peran diplomatik besar pada 1960-an. Keberadaan kimchi begitu penting selama Perang Vietnam.

Meskipun Amerika Serikat memberikan dukungan strategis dan finansial kepada Vietnam Selatan sejak awal 1950-an, jumlah pasukan baru meningkat signifikan pada paruh pertama 1960-an. Banyak negara lain yang bergabung saat itu, dengan Korea Selatan bergabung pada 1965. Sebagian besar atas perintah Presiden AS Lyndon B. Johnson, Korsel menjadi pasukan non-Vietnam kedua terbesar setelah Amerika.

Pemerintah AS dan Korsel berhubungan dekat selama masa perang. Perdana Menteri Korea Selatan Chung Il-kwon berkunjung ke Gedung Putih pada 14 Maret 1967. Di sana, Chung menyampaikan surat yang ditulis Presiden Korsel Park Chung-hee kepada Presiden Johnson. Bersamaan dengan topik penting lainnya seperti modernisasi peralatan militer Korea, surat itu juga menyinggung prajurit Korea kekurangan stok kimchi. Mereka tidak bisa beroperasi optimal tanpa makanan fermentasi ini.

Memperkuat kekhawatiran Presiden Park, PM Chung memberi tahu Johnson dia lebih merindukan kimchi ketimbang istrinya ketika pelatihan militer di AS. Prajurit Korea di Vietnam mengalami kesulitan karena tidak makan kimchi. Park bahkan sampai merogoh kocek pribadi untuk menyediakan kimchi pada Natal sebelumnya. Dia membutuhkan bantuan Amerika—yang merupakan sumber utama persediaan dan persenjataan—untuk menyediakan kimchi kepada prajurit Korea. Menurut Chung, program ini menelan tiga hingga empat juta Dolar (Rp43-57 miliar) per tahun.

Johnson membalas suratnya 10 hari kemudian. Berikut isi pesannya:

“Saya memahami keinginan prajurit Anda untuk menikmati ransum yang mengingatkan pada rumah. Ini hal yang biasa terjadi di kalangan prajurit sepanjang sejarah. Saya telah memerintahkan Menteri Pertahanan McNamara bekerja sama dengan pejabat Anda untuk memenuhi kebutuhan ‘kimchi’ pasukan Korea.”

Pembicaraan beralih ke helikopter dan persenjataan setelahnya. Pada Mei, Menteri Pertahanan Robert McNamara menyepakati program penyediaan kimchi dan paprika satu kali sehari. Program ini menghabiskan sekitar $2 juta Dolar (Rp28 miliar) per tahun.

Pada Desember 1967, Perdana Menteri Australia Harold Holt menghilang saat berenang dan diduga tewas setelahnya. Presiden Johnson dan Park bertemu dalam acara pemakaman Holt di Canberra. Mereka memperbincangkan Vietnam, dan Park langsung menanyakan soal kimchi. Menurut catatan percakapan, Nixon mengatakan para birokrat di Washington “lebih sering membahas kimchi daripada perang di Vietnam, tapi pada akhirnya dia berhasil mendapatkannya.” Pasokan kimchi tidak bisa datang tepat waktu karena alasan pengalengan yang butuh waktu. Prajurit Korea bisa mendapatkan makanan kesukaan mereka pada awal 1968.

Sekitar waktu ini, perang tidak berjalan mulus untuk koalisi Vietnam Selatan, Amerika Serikat dan sekutu. Opini publik di Amerika Serikat juga berbalik melawan perang. Hal ini terjadi beberapa bulan setelah Summer of Love, ketika gerakan hippie dikonsolidasikan secara resmi, dengan oposisi perang sebagai titik pertemuan pusat. Johnson merasa membutuhkan lebih banyak pasukan, tapi dia tahu secara politis tidak bijaksana mendaftarkan anak-anak muda Amerika. Solusinya yaitu meminta bala bantuan dari negara sekutu, terutama Korea Selatan. Presiden Johnson memanfaatkan pertemuan mereka di Australia untuk mendesak Park segera mengirimkan puluhan ribu pasukan tambahan—lebih dari dua kali lipat jumlah militer Korea di Vietnam.

Park menolak dengan dalih adanya hambatan legislatif signifikan saat mengirim bala bantuan. Menurut catatan resmi, Johnson menjawab, “Tugas Presiden yaitu mewujudkan apa yang mustahil.” Johnson membahas soal kerja kerasnya menyediakan kimchi. Park menjawab akan mempertimbangkannya.

Jenderal Lee Sae Ho, prajurit senior Korea di Vietnam, mengucapkan selamat tinggal di hadapan warga Vietnam yang mengibarkan bendera Vietnam dan Korea Selatan di Bandara Tan Son Nhut pada Maret 1973. Foto: Bettman/CORBIS via Flickr

Selama minggu-minggu berikutnya, Park tampak yakin akan mengirim bala bantuan. Namun, Korsel diserang Korea Utara pada 21 Januari. 31 agen Korut yang sangat terlatih menerobos batas DMZ dan mendatangi Blue House—kediaman keluarga Presiden Korea Selatan—untuk memenggal Presiden Park dan membunuh keluarga beserta bawahannya. Meski Korut gagal membunuh Park, 79 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

Korea Selatan tidak bisa fokus pada Perang Vietnam karena ketegangan dengan Korut meningkat. Ketika negosiasi akhirnya kembali, Park mengurangi jumlah prajurit yang dikirim. Dia juga membutuhkannya untuk membela negara. Namun, semua itu tak ada artinya. Baik Paman Sam maupun Prajurit Kimchi tak mampu melawan Viet Cong. Perang berlangsung selama beberapa tahun ke depan, dan Armada Laut terakhir meninggalkan Saigon dengan helikopter pada 30 April 1975. Kami kalah.

Pada saat itu, kimchi hadir untuk mempermudah negosiasi seputar Vietnam. Namun, kebutuhan orang Korea akan kimchi tak pernah surut. Pada 2008, Ko San—orang Korsel pertama yang pergi ke luar angkasa—membawa kimchi dalam misinya. Kimchi ini sudah dibuat khusus untuk beradaptasi dengan kondisi luar angkasa. Jika tidak, bakteri dalam fermentasi kubis dapat bermutasi dan membuat kekacauan di pesawat. Kali ini, mereka tidak membutuhkan bantuan AS.