Iklan
Can't Handle the Truth

'Teror' PCC Lebih Seram Dibanding Isu Komunis dan Bencana Alam

Kolom 'Can't Handle the Truth' kembali lagi setelah hiatus panjang. Kolom ini bangkit lagi gara-gara tradisi saban akhir September di Indonesia yang memunculkan gelombang hoax tiada henti.

oleh Ardyan M. Erlangga
01 Oktober 2017, 11:33am

Ilustrasi oleh Diedra Cavina Rahmadina.

Selamat datang di Can't Handle the Truth, kolom VICE Indonesia merangkum hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan pengguna Internet.

Sebulan lebih kolom ini libur. Situasi dari jagat hoax tentu masih hiruk pikuk. Untunglah rata-rata sekadar berita palsu yang menyebalkan, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Insiatif publik tidak otomatis percaya kabar yang beredar di Whatsapp, mulai dari grup verifikasi di medsos maupun kolom media lain semacam yang kami buat, semakin bejibun. Sempat terbit harapan. Tampaknya kolom semacam ini sudah tidak perlu diteruskan, sebab kesadaran publik mengonsumsi informasi makin menggembirakan. Apalagi kelompok produsen hoax Saracen sudah dibekuk polisi. Seharusnya sih, aliran berita palsu yang tololnya enggak ketulungan bisa berkurang. Ya kan?

Aih, optimisme kami kejauhan. Hoax rupanya memang bukan sekadar perkara orang tolol berusaha menyeret manusia lain jadi sebodoh mereka. Berita palsu, rumor, serta kabar bohong rupanya seringkali lebih sering menyebar lewat upaya pembelokkan fakta secara sistematis tanpa kejelasan siapa pelakunya.

September, lebih-lebih, merupakan bulan yang menandai maraknya persebaran hoax di negara ini. Apalagi kalau bukan perkara hantu komunis yang tampaknya tak mau enyah dari Indonesia. Gara-gara tragedi G30S pada 1965, sampai sekarang selalu saja ada info-info tak valid beredar mengenai rencana kebangkitan kembali kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Makanya pentas seni di kantor Lembaga Bantuah Hukum (LBH) Jakarta sampai digeruduk massa dengan tudingan ada pertemuan pendukung komunis. Penyebabnya 1) isu komunis terus dikipasi dan dipelihara berbagai pihak agar lestari; 2) hoax masih cukup efektif untuk memperdaya ribuan orang sehingga tersulut emosinya.

Siapa dan di mana partai terlarang itu akan berusaha bangkit, tak pernah dijelaskan secara gamblang oleh pihak-pihak yang merasa terancam. Sepertinya yang paham detail rencana kebangkitan PKI itu cuma purnawirawan Mayor Jenderal Kivlan Zen. Mantan petinggi Kostrad tersebut punya angka variatif mengenai pengikut partai komunis di negeri ini, mulai dari 15 juta hingga 60 juta pengikut. Kenapa selisihnya besar sekali? Mungkinkah kader PKI yang sebanyak itu bisa tiarap bareng, atau barangkali sembunyi di pulau kosong, sampai tak terendus aparat?

Kalian mau meragukan Pak Kivlan hah? Pendukung kuminis juga? Enggak usah banyak tanya makanya. Semua yang mempertanyakan rumor ini otomatis adalah antek kuminis. Makanya pendukung PKI disebut sampai 60 jutaan. Karena mungkin standarnya ringan. Kalau kalian punya dan memakai akal sehat, ya rentan sekali masuk kategori pendukung komunisme. Masya Allah.

Oke-oke. Mari kita masuk ke substansi kumpulan hoax sepekan terakhir. Siapa nyana, bagi banyak orang, goreng-menggoreng isu kuminis tak terlalu menarik. Banyak rumor lain jauh lebih menakutkan. Seperti apa tuh? Berikut rangkuman tiga kabar bohong paling menggetarkan nalar pilihan VICE:

Bahaya, ada lembaga negara membeli 5.000 pucuk senjata diam-diam

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menggegerkan publik Jumat dua pekan lalu. Dalam pidato yang disampaikan saat pertemuan bersama purnawirawan militer yang dihelat di di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Gatot menyatakan terjadi pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi dalam negeri tertentu, tanpa izin kepada otoritasnya. Dia mengklaim informasi tersebut dia peroleh dari sumber intelijen terpercaya.

"Ada kelompok institusi yang akan membeli 5.000 pucuk senjata, bukan militer," kata Gatot dalam rekaman yang beredar ke media massa.

Pernyataan panglima semakin membuat jeri, setelah dia mengatakan pihak yang membeli senjata mencatut nama Presiden Joko Widodo. "(Membeli senjata) memakai nama Presiden, seolah-olah itu Presiden yang berbuat. Padahal saya yakin itu bukan Presiden," kata Gatot.

Publik gempar. Kata-kata Gatot menyulut teori konspirasi. Apalagi pernyataan Panglima TNI muncul di tengah ramainya isu kebangkitan komunis yang langganan muncul tiap September. Segera saja ada yang mengaitkan pembelian senjata ini sebagai bukti kebangkitan PKI. Tepatnya ada pihak-pihak berusaha kembali membentuk angkatan ke-5 seperti dulu dilakukan diusulkan PKI kepada Presiden Sukarno. Aseekk. Goreng teruuusss, sampai mateng.

Sayang, pemerintahan Presiden Joko Widodo tak tertarik ikut memainkan irama yang ditabuh para spekulator.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto buru-buru memberi klarifikasi. Senjata yang dimaksud panglima TNI adalah pesanan Badan Intelijen Negara (BIN). Jumlahnya tak sampai 5.000, tapi cuma 10 persennya, alias 500 pucuk. Itupun kata Wiranto tujuannya jelas, yakni buat pelatihan para calon intel. Karena jumlahnya sedikit dan tujuannya buat pendidikan, maka izinnya hanya ke Mabes Polri bukan TNI. "Masalah ini tidak perlu dipolemikan. Ada satu komunikasi yang belum tuntas, itu saja," kata Wiranto dalam jumpa pers di kantornya, selang sehari setelah kata-kata Gatot ramai dibahas media massa. Panglima TNI belakangan dipanggil oleh Presiden Jokowi untuk klarifikasi lebih lanjut. Hasilnya, disimpulkan hanya ada misskomunikasi saja.

Belakangan PT Pindad, BUMN yang memproduksi senjata, ikut memberi pernyataan. BIN memang memesan 517 senjata laras panjang jenis MAG 4. Sementara kepolisian juga hendak memesan 5.000-an senapan. "Tapi kontraknya belum ada," kata Bayu A. Fiantori, Sekretaris Perusahaan PT Pindad saat dikonfirmasi Kompas.com.

Gatot belakangan turut meralat pernyataannya mengenai pembelian 5.000 pucuk senjata yang bikin geger. "Pernyataan saya pas acara purnawirawan itu bukan informasi intelijen," ucap Gatot saat ditemui media di DPR Rabu pekan ini.

Alhasil, kabar pembelian senjata ini sebetulnya adalah berita biasa, yang seandainya tidak diberi bumbu-bumbu—termasuk dikaitkan dengan rumor tak jelas tiap September—mustahil menghiasi halaman pertama surat kabar.

Politikus Demokrat, Rachland Nashidik, lewat pernyataan tertulis menyatakan pokok masalah ini sebetulnya pernyataan panglima yang seharusnya tidak disampaikan di forum terbuka. "Kita semua cukup waras untuk memahami pemesanan 5.000 senjata serbu oleh badan intelejen. Bila itu benar, sama berbahayanya dengan Panglima TNI yang berpolitik praktis dan melampaui kewenangannya," ujarnya.

Jadi mohon maaf buat bung dan nona yang kecanduan teori konspirasi. Tidak ada kegawatan di republik. Yang ada, hanyalah pelintiran pernyataan tentang isu sensitif dibumbui manuver politik. Bukankah itu realitas sehari-hari di Indonesia?

Gunung Agung meletus berkali-kali di jagat hoax

Penduduk lima kabupaten di Pulau Bali sedang harap-harap cemas. Gunung Agung berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dinaikkan statusnya dari 'siaga' menjadi 'awas'. Data ini muncul sejak akhir pekan lalu, ketika tercatat 844 gempa ringan dari Gunung Agung sejak pekan lalu. Alhasil, pemerintah setempat segera mengungsikan lebih dari 122 ribu penduduk di sekitar lereng gunung. Ternak warga, yang menjadi aset penting masyarakat di sana, turut diungsikan secara bertahap.

Di tengah suasana duka macam yang menyelimuti penduduk Bali, rupanya masih ada saja orang yang mengail di air keruh. Sejak awal pekan ini, beredar pesan berantai lewat Whatsapp, serta medsos, mengabarkan Gunung Agung sudah meletus. Versinya macam-macam. Bisa dibilang, kalau kabar sumir kita turuti, Gunung Agung meletus lebih dari sekali sejak pertama kali statusnya menjadi 'awas'.

"Diperkirakan Gunung Agung akan meletus malam ini. Dan arah angin ke Barat. Ke arah Surabaya. Yg di Sby dan sekitarnya bisa siapkan masker. Krn debu vulkanik akan sampai Sby dan merujuk letusan th 63, debu sangat tebal bahkan saat siang matahari tidak tampak," demikian salah satu kutipan pesan berantai yang membuat penduduk cemas.

Selain itu tersebar pula video letusan sebuah gunung, yang diklaim sebagai erupsi Gunung Agung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengklarifikasi informasi menyesatkan tersebut lewat Twitter. "Masih saja ada orang yang menyebarkan berita menyesatkan dan bohong. Ini Hoax," kata Sutopo Purwo Nugroho, jubir BNPB lewat cuitannya.

Aparat Kepolisian berjanji akan menindak tegas orang-orang yang sengaja menyebar hoax untuk menakut-nakuti warga. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk melacak forensik digital atas pesan-pesan palsu soal Gunung Agung.

"Sedang kita cari, moga-moga jejak digitalnya masih terlacak oleh kita," ujar Setyo saat dihubungi awak media di kantornya. Selain polisi mengimbau warga, baik yang tinggal di Bali maupun tidak, agar sanggup menahan diri membagikan kabar bencana yang tak jelas sumbernya. "Jangan mencet (tombol share) dulu baru mikir. Tapi pikir dulu baru mencet."

Hoax kurang ajar begini betul-betul tidak mempertimbangkan perasaan ratusan ribu warga yang sampai sekarang terpaksa bertahan di barak pengungsian. Untunglah, dibanding kabar bohong, cerita yang berkembang dari Bali lebih banyak yang menginspirasi dan menghangatkan hati. Misalnya, tentang bukti solidaritas penduduk Bali menggalang bantuan bagi mereka yang mengungsi. Baik penduduk asli maupun ekspatriat segera mendatangkan bahan makanan maupun kebutuhan pokok bagi warga Bali yang terdampak potensi erupsi Gunung Agung.

Artinya, daripada kalian nge-share berita letusan Gunung Agung yang tak jelas ujung pangkalnya, mending bantu sebarkan tautan mengirim donasi pada korban yuk.

Waspada Pil PCC kini ada versi permen susunya

Sampailah kita di hoax terakhir yang sebetulnya lebih menakutkan bagi orang tua se-Indonesia dibanding kebangkitan kuminis ataupun berita palsu soal letusan Gunung Agung. Yakni adanya versi baru dari pil PCC dalam bentuk permen susu.

Kalian pasti sudah mendengar berita mengenai PCC sejak awal September lalu. PCC adalah kepanjangan dari paracetamol, caffeine dan corisoprodol. Sebetulnya ini obat penghilang rasa sakit biasa yang dijual di beragam apotek.

Namun insiden di Kendari pertengahan bulan lalu segera menggegerkan publik. Ada 50-an orang, rata-rata masih bocah, yang terkesan seperti kesurupan, meraung, sampai melata, gara-gara menenggak PCC. Video-video korban PCC itu beredar via Youtube dan Whatsapp, membuat banyak orang cemas. Apakah ini serangan narkoba jenis baru yang melanda Indonesia?

Publik makin ketakutan, gara-gara pesan berantai di grup-grup WhatsApp. "Mohon perhatian utk stakeholder terkait, teriinformasi bhw tlh beredar permen Susu mengandung pcc Dan sudah beredar di ambarawa sasarannya adl. sekolah2 Dan di jual Rp. 2.000 dapet 1 renteng. Mhn di share di group2 yg ada. utk kewaspadaan dan proteksi thd anak2 generasi. bg. sekolah2," demikian tulis pesan tersebut.

Supaya makin meyakinkan, pesan ini segera diimbuhi keterangan dari polda macam-macam daerah, tergantung domisili penyebarnya. Pesan macam itu ditengarai muncul di Ambarawa, Surakarta, Pontianak, hingga Bandung. Pesan berantai itu dilengkapi pula foto permen yang disebut mengandung narkoba. Makin takutlah orang yang memperoleh kabar tersebut.

Polisi dan BPOM segera menyisir wilayah yang disebut dalam pesan berantai. Hasilnya nihil. Tidak ada sama sekali permen susu mengandung obat. "Perlu diketahui, informasi itu Hoaks atau berita bohong," kata Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Sulistiandriatmoko saat dihubungi media massa.

Hanya saja, memang benar ada gerombolan orang nekat menjual obat PCC kepada konsumen mendapatkan efek halusinasi. Sedikitnya empat pelaku, termasuk suami-istri asal Jakarta Timur, sudah dicokok aparat. Pelaku tidak menjual PCC resmi, melainkan racikan sendiri dengan bahan baku dari Tiongkok.

"Berdasarkan rangkaian pemeriksaan dan penggerebekan, kami mendapat informasi tempat produksinya ada di Purwokerto," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Daniyanto dalam jumpa pers.

Bagaimanapun, hoax sudah terlanjur tersebar. Sekarang barangkali kita lebih kesulitan mencari permen susu di pasaran gara-gara rumor ini bikin para penjual tiarap dan pilih menjual permen lainnya. Padahal permen susu enak banget lho. Sayang sekali...