Peredaran Narkoba

Marak Penjualan Ganja di Instagram dan Twitter, Ternyata Menurut Pelaku Lebih Efektif

Transaksi tanpa perlu berjumpa mengubah konsep perdagangan narkoba di Indonesia. Berbekal akun anonim dan teman di jasa pengiriman, cara ini dianggap lebih aman dari intaian BNN.
27 November 2019, 7:42am
Di Indonesia Kini Marak Penjualan Ganja lewat Instagram dan Twitter, Ternyata Menurut Pelaku Lebih Efektif
Kolase oleh VICE. Foto mariyuana sitaan polisi [kiri] oleh Adek Berry/AFP; screenshot penjual ganja di Twitter dari akun @redditindonesia

Akun @rasshittt mencuri perhatian khalayak, setelah terang-terangan mengaku menjual ganja di akun Twitter dan Instagram-nya.

Kelakuan Rasyid, nama sosok yang diduga memiliki akun tersebut, bikin geleng-geleng kepala. Selain menjual ganja terang-terangan, ia juga ngetwit yang meminta aparat tidak menangkapnya. Emangnya kalau dibikin status, polisi pada mundur gitu? Ending dari aksi berani Rasyid bikin ngakak dan diposting ulang oleh akun Twitter @redditindonesia. Kayaknya cerita pedagang ganja yang bisnisnya kepergok tidak pernah sekocak ini.

Melihat kasus Rasyid, pertanyaan pertama yang timbul di kepala awam seperti ini: berdagang narkoba kan hal yang harus dilakukan diam-diam, kok malah pakai media sosial untuk pemasaran sih?

Nyatanya, praktik perdagangan narkoba secara daring sudah marak. Pada 8 Agustus lalu, polisi membongkar bisnis sabu di Instagram yang dilakukan akun @drBankBong (enggak usah buang-buang waktu buat nyari, akunnya udah ilang). MRR, si pemilik akun penjual sabu yang sudah empat bulan melayani berbagai pesanan dari berbagai daerah di Indonesia itu akhirnya dicokok aparat di Pontianak.

"Sejak bulan Mei, tersangka sudah melayani 26 kali pemesanan. Pembeli merupakan pengikut ( followers) akun @drBankBong ini," kata Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Komisaris Besar Viktor Togi Tambunan kepada Tempo. Jangkauan pasar MRR diakui sudah mencapai Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tasikmalaya, Banjarmasin, dan Pontianak.

Berdasar penyelidikan polisi, penjual narkoba di Instagram melakukan modusnya dengan mengamuflasekan barang dagangan di Instagram dengan kata-kata tertentu sebagai isyarat. Selain itu, pengiriman biasanya mengelabui jasa pengiriman dengan memasukan ganja ke dalam rokok yang mau dikirim, lewat pakaian yang bagian kerah dan lengannya sudah dilubangi untuk diselipkan paket, atau topi kupluk yang di dalamnya bisa diselipkan ganja.

Pindah ke Kabupaten Sintang, Kalimantan barat, polisi pernah menangkap MN, warga setempat yang ketahuan menggunakan Instagram sebagai tempatnya membeli ganja secara online sebelum ia pasarkan secara COD di wilayahnya.

"Tersangka ini membeli ganja melalui Instagram dan dipaketkan melalui jasa pengiriman. Tersangka MN ini pun ditangkap saat hendak mengantarkan ganja tersebut ke pelanggannya pada 22 Oktober 2019 lalu," ujar Kasat Narkoba Polres Sintang AKP Samsul Bakrie dilansir Okezone.

Kompas sempat mewawancarai seorang pengedar narkoba berinisial S (21) dua tahun lalu. Menurut pengakuan S, mengedarkan narkoba melalui media sosial justru lebih aman.

"Lewat media sosial sekarang, lebih halus. Saya sih caranya bersih, saya paling enggak mau hand-to-hand. Misalnya, saya buang sabu di mana, nanti ada yang ambil di situ. Banyak caranya," ujar S kepada Kompas. S menambahkan, pengedar juga memanfaatkan layanan ojek online untuk mengantar dengan mengemas ganja bersama barang lain atau berbentuk dokumen. Pembayaran pun dilakukan via transfer terlebih dahulu sebelum bandar memproses pesanan.

Anda juga bisa membaca pengalaman seorang dokter gigi bernama Rifqie Al-Haris di tautan ini agar lebih mengerti modus pedagang narkoba online. Menurut Rifqie, banyak sekali akun penjual narkoba di Instagram menggunakan kata kunci "420".

Saat ia mencoba ngobrol dengan salah satu pemilik akun, pedagang mengaku mempunyai teman di jasa pengiriman sehingga paket kirimannya tidak akan dicek isinya. Sayang, saat Rifqie melaporkan akun tersebut ke BNN dan Polri, aparat tidak merespons dengan cepat dan pada 2x24 jam pesannya sudah tidak dibaca lagi.

Padahal, semakin terdigitalisasinya praktik penjualan narkoba membuat para aparat juga harus cepat tanggap mengikuti perkembangan zaman. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), pengguna narkoba di Indonesia berkisar 5 juta orang, rata-rata usianya 25-30 tahun, dan mayoritas berasal dari Jakarta. Pada 2016-2017, polisi mengungkap 8.510 kasus narkoba, berujung pada penetapan 10.651 orang sebagai tersangka.