Iklan
Skandal eSport

Skandal Pengaturan Skor dalam Kompetisi Counter Strike Terjadi di Australia

Enam gamer ditahan polisi. Mereka bisa dipenjara hingga 10 tahun apabila terbukti mengatur skor pertandingan game online.

oleh Gavin Butler; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
27 Agustus 2019, 6:10am

Fotonya hanya ilustrasi. Gambar kiri via pengguna Flickr Artubr, Cc Licence 2.0 dan kanan via Youtube/Throneful

Kepolisian Negara Bagian Victoria belum lama meringkus enam laki-laki yang diduga terlibat dalam pengaturan skor pertandingan (match-fixing) dalam game online Counter Strike: Global Offensive. The Guardian mengabarkan para terduga pelaku—empat dari Victoria dan dua dari Australia Barat yang berusia antara 19-22 tahun—sengaja kalah dalam turnamen supaya bisa mengatur skornya. Ini adalah penyelidikan polisi pertama terkait dugaan pelanggaran dalam kancah Esport di Australia.

Apabila terbukti bersalah, mereka terancam hukuman hingga 10 tahun penjara atas kasus pengaturan hasil taruhan dan penggunaan informasi yang sudah dicocokkan untuk kepentingan taruhan.

Tim detektif dari Unit Intelijen Integritas Olahraga Kepolisian Victoria dan Unit Intelijen Kejahatan Terorganisasi melaksanakan perintah eksekusi di sejumlah properti pada Rabu pekan lalu, setelah berbulan-bulan menyelidiki aktivitas taruhan mencurigakan terkait turnamen Esport yang dilaporkan sebuah rumah judi pada Maret. Setelah diinterogasi, keenam gamer tersebut dibebaskan sampai proses penyelidikan lebih lanjut.

Berdasarkan laporan di situs web Kepolisian Victoria, ada setidaknya lima pertandingan yang terpengaruh match-fixing dan lebih dari 20 taruhan dipasang dalam permainan. Polisi tidak mengungkap nilai taruhannya. Proses penyelidikannya masih berlangsung sekarang.

Asisten Komisaris Kepolisian Victoria Neil Paterson mengatakan meski baru pertama kali menyelidiki kasus seperti ini, polisi berkewajiban memutus lingkaran judi ilegal dan tindakan kriminal yang muncul akibat berkembangnya sektor Esport.

“Popularitas industri Esport semakin melejit, sehingga dapat mengundang permintaan akan taruhan skor,” terangnya. “Oleh karena itu, polisi dan lembaga penegak hukum terkait lainnya harus bekerja sama melawan aktivitas mencurigakan.”

“Surat perintah ini juga menekankan bahwa polisi tidak boleh menyepelekan laporan aktivitas mencurigakan dan tindakan kriminal di sekitar Esport. Kami mendorong siapa pun untuk melapor kepada kami ketika menemukan ada yang aneh.”

Reuters melaporkan awal tahun ini bahwa pendapatan yang meningkat dari iklan, sponsor, dan hak media atas video game kompetitif dapat menaikkan pendapatan Esport global hingga $1,1 miliar (Rp15,6 triliun) pada 2019.

Pendapatannya mengalami peningkatan 27 persen dari 2018. Namun, perusahaan riset pasar Ibis World memproyeksikan industri Esport Australia—yang tidak menghasilkan pendapatan dari kesepakatan sponsor, harga tiket, siaran, dan endorse pemain seperti di negara-negara lainnya—hanya akan menghasilkan $20 juta (Rp284 miliar), menurut Fairfax.

Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia.