Iklan
The VICE Guide to Right Now

Di Inggris, Pengemudi Bernama Islam Kena Premi Asuransi Mobil Lebih Mahal

Investigasi media Inggris itu menunjukkan adaya rasisme dalam kebijakan perusahaan, sehingga premi asuransi seseorang bernama 'Muhammad' jauh lebih tinggi dari 'John' tanpa alasan.

oleh Nana Baah
23 Januari 2018, 9:49am

credit:geograph.org.uk

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Calon pembeli mobil yang bernama 'Mohammed' di Inggris, dari investigasi media setempat, terbukti senantiasa dibebani asuransi lebih mahal dibanding konsumen yang namanya terdengar lebih "pribumi" seperti John atau Kevin.

Investigasi ini digelar oleh Tabloid The Sun yang mengumpulkan lebih dari 60 aplikasi asuransi perusahaan berbeda-beda, di 10 kota seantero Britania Raya. Setelah datanya diolah, terlihat bila perusahaan besar seperti Marks & Spencer atau Elephant menerapkan kebijakan serupa: nama-nama calon konsumen yang bernuansa Islami akan dibebani ongkos premi lebih mahal hingga selisih ratusan Pound Sterling dari angka normal. Salah satu contohnya, pemohon asuransi bernama "Mohammed Ali" dibebani premi 919 Pound Sterling (setara Rp17 juta) lebih mahal dibanding premi milik konsumen bernama "John Smith". Padahal layanan asuransi yang diberikan pada dua akun tadi sama saja.

Salah satu narasumber The Sun adalah Mohammed Suleman Butt. Dia mengaku menjadi korban diskriminasi perusahaan asuransi mobil di Inggris. "Tindakan semacam itu adalah rasisme. Sederhana saja. Tidak ada alasan untuk menganggap Mohammed adalah sopir yang jauh lebih berisiko dibanding seseorang bernama John."

Lucunya, Suleman awalnya mendapat premi yang jauh lebih murah. Dia melihat ada kesalahan nama dalam keterangan polis asuransi. Setelah menghubungi customer service, lalu menjelaskan kalau di namanya ada Mohammed, preminya justru melonjak lebih dari 120 Pound Sterling. "Pihak asuransi bahkan mengakui terang-terangan kalau mereka menambahkan biaya premi karena faktor nama saya," ujarnya.

Perusahaan asuransi ternama di UK, seperti Admiral dan Marks & Spencer membantah sengaja melakukan diskriminasi terhadap warga dengan nama bernuansa Islami. Perusahaan itu, saat dihubungi terpisah, berjanji akan menyelidiki kasus semacam itu. Persoalannya, ini bukan kali pertama perusahaan di Inggris memberi perlakuan berbeda kepada konsumen yang namanya terdengar Islami.

Penelitian dari Bristol University, pernah menemukan data bila pelamar kerja yang CV-nya identik akan diperlakukan beda. Satu orang yang sama mengirim CV sama persis, tapi namanya dibedakan menjadi "Adam" dan "Mohammed". Hasilnya, peluang "Adam" tiga kali lebih besar dipanggil mengikuti tes wawancara lanjutan atau mendapat respons positif dari perusahaan pemberi kerja.

Pada 2017, beberapa perusahaan juga kedapatan mencantumkan syarat diskriminatif, yang tertulis "bila nama kalian terdengar asing, tolong jangan kirim lamaran ke kami." Kebijakan rasis tersebut diliput oleh surat kabar Evening Standard. Perilaku macam itu ternyata banyak dilakukan oleh HRD perusahaan-perusahaan Negeri Ratu Elizabeth. Sebetulnya di Inggris sudah diatur larangan perusahaan bersikap diskriminatif, sesuai pasal dalam Undang-Undang Kesetaraan (the Equality Act 2010).