digimon

Sudah Saatnya Kita Main Digimon Lagi

Terlalu lama kita dikecewakan kualitas game-game Digimon. Ternyata seri Digimon baru untuk PS4 sepertinya lumayan oke.

oleh Joe Anderton
23 Februari 2017, 1:18pm

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint.

"Setelah mimpi panjang tiada akhir, di dunia sepi hingga pikiran bersemangat."

Barangkali lirik soundtrack itulah yang lewat di benak kamu jika ditanya apa yang paling masih nempel dari sebuah franchise bernama Digimon. Meski lagu ini adalah salah satu lagu pembuka film kartun yang lumayan—ingat tahun 90an adalah masa emas lagu pembuka serial TV—dan memang film kartun Digimon cukup terkenal, Digimon tetap saja dikenang sebagai KW2 dari Pokémon. Bahkan di puncak ketenaran Digimon, di akhir abad 20, banyak yang menganggap Digimon sekadar epigon Pikachu,

Hari ini, Pokémon tetap jadi raksasa dalam ranah film kartun atau game monster-monsteran dunia koleksi action figure. Namun, kita juga harus akui bahwa franchise juga tak kurang berbenah. Sayangnya, progresi Digimon tak banyak diperhatikan orang. Dan, hal ini paling kentara di pasar video game.

Pada awal 2000-an, Digimon World yang bisa dimainkan di Playstation merambah dunia barat. Banyak anak yang jath cinta pada pet virtual yang penuh dengan senjata dan kesaktian ini serta segala macam franchise di sekitarnya. Dunia Digimon adalah dunia penuh dengan banyak quest yang menantang dan tempat-tempat aneh untuk dijelajahi. Tak aneh jika kemudian playthrough yag beredar begitu variatif. Digimon World di atas kertas sangat keren. Musik pengiringnya juga keren abis. Namun, di luar semua kekerenan itu, Digimon World adalah sebuah game yang kacau balau.

Cuplikan adegan 'Digimon Story: Cyber Sleuth'. Dimuat atas izin Bandai Namco Entertainment.

Sejak saat itu, Digimon terus menerus dirundung nasib buruk. Sekuel yang datang menyusul tak banyak menggali potensi-potensi yang sebenarnya sudah ada di Digimon World. Game-game berikutnya malah melakukan kesalahan fatal: mengoplos berbagai subgenre, di satu sisi terasa seperti game-game action biasa, di sisi lain mirip dengan RPG. jadi, tak ada yang berhasil menciptakan pengalaman bermain Digimon yang sesungguhnya. Grinding yang dipaksakan, sistem yang diterapkan dengan buruk dan terlalu banyak bagian backtracking: ini tanda-tanda game yang jelek, plus desain yang buruk untuk kasus Digimon.

Imbasnya, penjualan game Digimon anjlok. Dana pengembangan game dipotong dan akhirnya game-game Digimon tak lagi diekspor ke barat dari Negeri Matahari Terbit lagi. Saya malas mengatakannya, tapi semua blunder ini sudah harga setimpal yang harus dibayar oleh tim pengembang Digimon.

Tapi, bukankah banyak yang suka kisah-kisah underdog? Sejak redupnya popularitas, seri Digimon tak lagi bernafsu menjadi kompetitor Pokémon dan berubah jadi game cult bagi gamer yang setia. Gameplay Digimon sejatinya perlahan-lahan membaik.

Saat ini, Digimon masih dimainkan dalam beberapa macam konsol yang baru ataupun yang lawas. Game-game inilah yang lantas menegaskan satu hal yang dipercayai fan Digimon: Digimon bukan kembaran apalagi KW2 Pokémon.

Cuplikan adegan Digimon World: Next Order dimuat seizin Bandai Namco Entertainment.

Pada 2012,  Bandai Namco akhirnya merilis sekuel yang meneruskan semangat Digimon World melalui  Digimon World: ReDigitize. Game ini pertama kali diproduksi untuk konsol Sony PSP. Selang setahun kemudian, versi Nintendo 3DS-nya keluar. Fans di seluruh dunia yang penasaran dengan prospek muncul game Digimon yang benar-benar bagus, memulai sebuah kampanye yang diberi nama  Operation Decode. Tujuan akhirnya: melokalisasi ReDigitize—kampanye ini dilhami Operation Rainfall yang berhasil melokalisasi Xenoblade Chronicles dan beberapa game RPG cult lainnya.

Walaupun akhirnya ReDigitize tak pernah dirilis di luar Jepang, kampanye itu setidakan direken oleh Bandai Namco. Buktinya, Bandai Namco memproduksi versi bahasa Inggris dari Digimon Story: Cyber Sleuth (bisa dimainkan di PS Vita dan PS4) keluaran tahun 2015 dan seri game Digimon terbaru Digimon World: Next Order, yang masuk pasar Amerika Serikat dan Eropa Januari 2017 lalu.

Dan asal anda tahu, keduanya adalah game RPG yang keren banget.

Next Order adalah penerus jiwa Digimon World kedua sementara Cyber Sleuth adalah RPG sederhana yang memberi tekanan penuh pada cerita. Sekilas, pengaruh Shin Megami Tensei—alih-alih Pokemon—sangat dominan pada Cyber Sleuth. Dua game terbaru Digimon bagaikan langit dan bumi. Namun, strategi menyajikan dua buah sub-seri yang berbeda satu sama lain adalah pilihan bijak untuk memuaskan dua golongan yang memiliki selera berbeda—dan untuk membangun fondasi pengembangan Digimon di masa depan

Kali ini, sepertinya developer Digimon akhirnya punya pola pikir yang tepat. Produser Cyber Sleuth, menyatakan dalam video promosi yang disebarkan tahun 2016 lalu "tujuan kami adalah untuk memuaskan gamer dewasa," dan hal ini sangat kentara dalam gamenya. Saya tak cuma bicara tentang nostalgia yang dibawa oleh Cyber Sleuth—meski Digimon yang bisa dimiliki dan karakter modelnya dicuplik langsung dari seri animenya—namun juga dari sisi balance dalam gameplaynya.  Sebagai pemain, kita pasti gatal mengeloksi monster-monster favorit kita, tapi kita tak mau menghabiskan banyak waktu untuk grinding  atau bolak-balik mengurusi stats dan angka-angka absurd untuk mendapatkan monster incaran.

Dan ngomong-ngomong tentang gamer "dewasa," fans Pokémon yang gandrung dengan bagian gelap dari franchise itu—maksud saya mereka yang memainkan ROM Hack dengan plot yang lebih "dewasa"—mungkin sebaiknya harus mencicipi Cyber Sleuth. Saya harus akui, game ini sedikit mengingatkan pada Shin Migami Tensei, tapi percayalah game ini punya quest yang memaksa anda untuk menjadi stalker dan berurusan dengan boneka seks. Cyber Sleuth dihiasi dengan makian yang berbahasa Inggris. Tak heran bila game ini dipatok dengan rating "Teen." Yang pasti, jangan mainkan game ini di depan anak-anak.

Cuplikan adegan Digimon Story: Cyber Sleuth dimuat seizin Bandai Namco Entertainment.

Sebaliknya, jika anda termasuk penggemar fitur Pokémon Amie/Refresh dan selalu berharap mekanisme berjalan ala HeartGold/ SoulSilver bakal kembali digunakan, saya sarankan akan mencoba Next Order. Layaknya Digimon World, Next Order mengambil konsep pet virtual dan membawa ke tingkat yang lebih ekstrem—maksudnya, di game, pet virtual anda bakal buang hajat cuma 2 meter dari toilet, kalau memang sudah kebeleng banget.

Okay, Cyber Sleuth dan Next Order belum sepenuhnya membuat persaingan antara Pokemon dan Digimon jadi lebih imbang. (Next Order langsung nangkring di chart game nomor di Jepang tahun di bawah apalagi kalau bukan Pokken Tournament). Tapi, untuk sebuah yang dilokalisasikan karena sebuah petisi dari an hingga akhirnya cukup lahir dijual terjual sampai publishernya mau menerjemahkan sekuelnya, ini adalah capaian yang luar biasa.  Dan meski tak satupun dari kedua game ini berhasil membuat terobosan, keduanya bisa jadi game yang bisa kita rekomendasikan dengan tanpa berdosa.

Kalau dibandingkan capaian serial Pokemon, kembalinya Digimon tak ada apa-apanya. Ketika Pokemon GO dihujat karena kebijakan rolloutnya sebelum Sun and Moon kembali mengembalikan Pokemon ke jalan yang benar, Digimon telah kembali menemukan dirinya kembali. Franchise Digimon mungkin tak akan pernah bisa mengulang era keemasan mereka. Tapi bagi saya, selama kualitas game-nya terus meningkat, apa susahnya sih mengidolakan Digimon?

Follow Joe di Twitter.