Travel

Begini Rasanya Keliling Dunia Gratis Naik Kapal Kontainer

Kamu punya waktu luang lebih? Tidak masalah jika tubuhmu terguncang-guncang karena badai tanpa ada hiburan? Berarti travelling naik kontainer pilihan tepat buatmu!
13 Desember 2016, 5:00am
Semua foto oleh Thor Pederson

Artikel ini tayang pertama kali di VICE US.

Jadi begini ceritanya, sebulan yang lalu, sekelompok petinggi brengsek yang mengendalikan United Airlines menawarkan sebuah ide cemerlang. Namanya "Basic Economy". Intinya sih, dalam kelas penerbangan terbaru ini, anda bahkan harus merogoh kocek ekstra untuk hal-hal yang harusnya tidak gratis semacam "ruang menaruh tas bawaan anda" atau bahkan "kebebasan memilih tempat duduk." Jangan-jangan kita sudah sampai di era ketika anda nonton film di layar mungil di depan tepat duduk anda, lalu tiba-tiba muncul iklan IKEA. Malangnya, anda harus bayar jika ingin iklan bangsat itu hilang dari pandangan.

Masalahnya, jika anda ingin bepergian melintasi samudra, pilihannya cuma bisa menggunakan pesawat, iya engga sih?

Jawabannya ternyata tidak.

Ternyata kita punya pilihan lain naik kapal kontainer—itu lho kapal laut raksasa yang panjangnya bisa sampai setengah kilometer dan penuh berisi mobil. Kapal kontainer bukan pilihan bepergian yang lazim. Namun, bagi traveler yang menjalani hidupnya dengan fleksibel dan woles, kapal segede-gaban itu adalah pilihan menarik.

Memang, anda dituntut untuk memilki jadwal yang superwoles dan kesabaran tingkat rahib agar bisa tahan bertualang naik kapal kontainer. Bayangkan, jika dengan pesawat terbang, Samudra Pasifik cukup disebrangi hanya dalam 12 jam. Untuk rute yang sama, anda butuh dua minggu menumpang kapal kontainer.

Kesabaran, atau tepatnya keikhlasan, membuang sebagian umur di laut hanyalah salah satu pengorbangan pertama. Thor Pederson adalah salah satu, dari sedikit manusia, yang punya kesabaran tingkat dewa dengan berpergian naik kapal kontainer.

Thor Pederson hampir setengah jalan menuntaskan proyek ambiusnya: menginjakkan kaki di hampir semua negara di dunia tanpa sekalipun naik pesawat. Untuk memenuhi nazarnya, Thor bersedia "dikapalkan" dari satu benua ke benua lainnya seperti barang dagangan. Dia berada di Kenya, lalu bilang bahwa kapal kontainer bukan tempat menyenangkan bagi seorang yang jarang berlayar. Selain itu, tidak mudah agar diizinkan masuk kapal kontainer. Tapi, setelah segala kerumitan itu bisa dilewati, banyak kemewahan tersembunyi dari sebuah kapal kontainer.

Namun, yang paling menarik bagi Thor, ongkos semua perjalanan ini—tentunya jika dibandingkan biaya penerbangan—gratis.

VICE: Kenapa kamu bepergian naik kapal kontainer?
Thor Pedersen: ada kurang dari 200 orang di muka bumi yang pernah mampir di semua negara di planet ini. Tapi, setiap orang itu pasti terbang dalam perjalanan mereka. Aku sudah pernah mampir di 121 negara dan tak pernah sekalipun pulang atau naik pesawat. Sudah tiga tahun aku meninggalkan rumah. Ketika aku harus melewati Samudra Atlantik, tak ada pilihan lain kecuali naik Kapal Kontainer.

Bukannya perjalanan panjang di atas kapal kontainer membosankan?
Selama menjalankan proyek ini, aku tak pernah istiahat. Ada saja hal yang harus diurus. Mulai dari mengurus visa dan mempelajari daerah perbatasan, bertemu orang dari Palang Merah atau pers. Aku cuma bisa istirahat di atas kapal kontainer. Sebenarnya, aku juga kerja di atas kapal kontainer. Tapi, tanpa internet, paling-paling aku kerja dua sampai empat hari saja, setelah itu menganggur. Jadi, aku lakukan apapun yang aku bisa, kemudian aku benar-benar istirahat.

Terus kamu ngapain aja?
Mereka menggunakan mesin desalinasi untuk membuat air minum. Jadi, air minum bisa kamu gunakan dengan gratis. Mesin kapal kontainer juga sangat panas. Biar tetap dingin, air dialirkan melewati mesin kapal. Konsekuensinya buat orang yang bekerja di dalamnya, ada air hangat gratis. Selama di atas kapal, kamu bisa mandi berjam-jam, membuang air bergalon-galon tanpa harus bersalah pada lingkungan hidup. Kamu bisa membaca buku. Kamu bisa tidur sampai bego. Kamu bisa nongkrong di anjungan kapal. Ini penting, sebab dengan nongkrong dari sanalah semua informasi berasal.

Kemewahan seperti apa yang ada dalam kapal kontainer?
Terakhir kali aku naik kapal kontainer, ada sauna dan kolam renang dalam ruangan. Kadang kamu bisa dapat WiFi. Pernah dalam satu pelayaran, aku bisa melihat aurora, lumba-lumba, dan ikan Paus. selebihnya, kamu cuma bisa melihat air.

Pernah ketakutan di atas kapal?
Dalam sebuah pelayaran di Atlantik Utara yang harusnya bisa ditempuh dalam delapan hari, kami terjebak cuaca sangat buruk. Aku yakin bakal mati saat itu. Kapal terombang-ambing. Ombak besar menghajar salah satu sisi kapal dan bagian kontainer. Kapal terpaksa melaju dengan kecepatan rendah 4 knot. Kamu bakal terus terpelanting jika tak berpegangan. Aku lantas bertanya "Ini normal ya?" awak kapal langsung ngakak tanpa henti. Mereka langsung melihatku dan bilang "Mas, kalau gini doang sih biasa." Aku langsung tenang. Dalam hatiku, aku bilang "Oke, kata mereka ini engga ada apa-apanya. Jalani saja." Lantas, hidupku seperti itu selama empat hari.

Kamu bisa tidur dalam keadaan seperti itu?
Kamu bisa berbaring di kasur, mencoba tidur, tapi tak bisa. Kamu cuma membolak-balikkan badan saja. Ada kursi di kamarmu yang tak pernah berdiri dengan benar. Kamu bisa mendorongnya untuk tahu segampang apa membalik kursi itu. Ketika kamu mencoba makan, satu tanganmu akan berpegangan ke meja agar kamu tak jatuh dari tempat dudukmu. Tangan satunya lagi kamu pakai untuk memegangi piring. Nah, habis sudah tanganmu untuk pegangan. Makan saja sudah termasuk urusan pelik di atas kapal.

Pederson mempersiapkan vaccine booster di atas kapal yang berlayar dari Islandia ke kanada.

Bagaimana ceritanya kamu bisa naik kapal kontainer?
Susah sekali awalnya bisa diizinkan masuk kapal kontainer. Ada beberapa perusahaan kontainer yang menawarkan kabin mereka. Kamu bisa membuka situs biro perjalanan yang menawarkan trip naik kargo dan menelepon mereka untuk bisa menyewa kabin. Aku sih belum pernah melakukannya. Kapal kontainer tak mendapat banyak untung jika mengambil penumpang, kecuali mereka menjadikan sebagai sebuah bisnis sampingan. Sekarang sudah enggak jamannya lagi kamu datang ke sebuah kontainer dan langsung melamar jadi awaknya. Saat ini, kamu harus mengurus bermacam izin untuk bisa naik kapal kontainer. Kamu cuma bakal jadi beban bagi kapal kontainer, jadi buat apa mereka membawamu. Banyak dermaga dijaga sangat ketat hingga kamu tak mungkin menyelinap ke dalam kapal kontainer. Lagipula, kehidupan di atas kapal kontainer cuma berputar pada empat hal ini: kerja, makan, tidur, rekreasi. Adanya penumpang yang sikapnya mirip turis cuma bikin siklus ini jadi berantakan.

Lalu apa yang membuat perjalananmu berbeda?
Aku bepergian sebagai Duta Palang Merah Denmark. Dengan titel ini, aku bisa dapat akses ke kapten dan awak kapal. Mereka sangat memahami niat saya berpergian, karena toh mereka sudah berlayar bertahun-tahun. Mereka juga punya cerita. Barangkali mereka sekadar penasaran padaku, manusia gila yang keliling dunia tanpa sekalipun naik pesawat. Oh ya, Aku makan siang dengan Kapten kapal lho.

Kamu bayar berapa supaya bisa naik kapal kontainer?
Aku pernah bayar US$15 (sekitar Rp200 ribu) per hari utuk biaya kabin dan makan. Pernah juga, aku merogoh kocek sebanyak US$60 (setara Rp800 ribu) untuk bayar asuransi. Plus, mereka juga minta saya menulis tentang nikmatnya bepergian dengan kapal kontainer.

Ada ongkos lainnya?
Yang lainnya zonder bayar alias gratis.

Mendekati ujung proyekmu, kamu bakal mengunjungi negara pulau kecil. Ada rencana menggunakan kendaraan lain selain kapal kontainer?
Yang pasti aku engga akan mencoba kapal layar atau semacamnya. Semua kepulauan di kawasan Pasifik dapat kiriman barang dari kapal kontainer sebulan sekali. Jadi, siapa tahu aku bisa menumpang dan turun ke pulau ketika kapal sedang bongkar muat. Setelah itu, kapal akan membawa kontainer kosong lalu berlayar lagi. Aku punya aturan untuk tinggal hanya selama 24 jam di satu negara. Jadi, jika proses bongkar muatan ini cuma berlangsung selama 14 jam, lalu kapal cabut, aku bakal tinggal di negara itu selama sebulan. Entahlah, kita lihat saja nanti.

Wawancara ini telah dipangkas agar lebih ringkas.

Anda bisa mengikuti perjalanan Pederson di situsnya.

Follow Mike Pearl di Twitter.