Iklan
Sepakbola

Apakah Premier League di Ambang Kebangkrutan?

Beberapa indikasi ke arah sana sudah muncul.

oleh Jack Peat
02 September 2017, 4:18am

Leicester City manager Claudio Ranieri and captain Wes Morgan after winning the Premier League last season (Photo: Nick Potts PA Archive/PA Images)

Salah satu yang paling mengkhawatirkan dari krisis finansial Amerika Serikat 10 tahun lalu adalah tidak ada pihak mengira peristiwa ini akan terjadi. Coba tanya para pialang saham sehari sebelum kejadian, mereka pasti mengatakan investasimu tetap aman tenteram. Semua orang buta akibat angka-angka besar yang muncul di puncak menara, hingga mereka lupa memperhatikan apa yang sedang terjadi di pondasi bangunan tinggi rapuh tersebut.

Dari sisi finansial, Premier League terlihat seperti liga paling aman di dunia. Mereka sanggup menggaji pemain-pemain dalam angka gila-gilaan, memiliki jumlah suporter terbanyak, dan sukses menarik talenta terbaik di dalam maupun di luar lapangan. Ngerinya, tren kehancuran finansial AS di tahun 2007 terlihat serupa seperti kondisi industri sepakbola.

Selagi Jose Mourinho menghambur-hamburkan uang untuk transfer pemain berkat dana dari hak siar TV, mereka yang berada di dasar piramid kesulitan bahkan untuk sekadar membayar biaya berlangganan TV. Sangat mungkin, pecinta sepakbola yang tak punya uang justru akan mematikan TV sekaligus.

Uang dari televisi menjadi sumber pemasukan utama bagi banyak klub Premier League. Bournemouth sanggup menghabiskan £35 juta untuk transfer pemain biarpun stadion mereka hanya memiliki kapasitas 11.464 orang. Watford menghamburkan £57 juta, padahal tiap pertandingan kandang mereka paling banter cuma bisa ditonton 21.438 orang. Crystal Palace sanggup membeli tiga pemain seharga hampir £50 juta, biarpun stadion Selhurst Park hanya bisa menampung 25.456 orang. Pendapatan dari tiket harian atau musiman tidak lagi penting bagi klub-klub EPL. Dibeli oleh OKB asal Cina atau Timur Tengah pun gak segitu ngaruhnya. Sepakbola Inggris sebenarnya dibiayai oleh dua perusahaan: Sky dan BT. Apabila mereka bangkrut, satu liga langsung ikutan bangkrut.

Deal TV Premier League selama tiga musim nilainya tidak main-main: £8,3 milliar. BT juga menghabiskan hampir £1 milliar demi pertandingan Eropa di periode yang sama. Biarpun begitu, di awal musim 2016/2017, dikabarkan rating pertandingan live Premier League di Sky Sports turun seperlima, dan angka penonton pertandingan Liga Champion merosot sebanyak 40 persen. Yang mengkhawatirkan, tren serupa muncul di cabang olahraga lain. Di AS, stasiun TV terlanjur menghabiskan lebih dari $50 milliar secara kolektif demi membeli hak siar NFL hinggal awal 2020, namun angka penonton merosot lebih dari 10 persen.

Apa yang menyebabkan kemerosotan ini? Jawabannya simpel: gabungan antara penurunan jangka pendek dan tren jangka panjang yang melukai angka jumlah penonton. Bagi perusahaan sebesar Sky dan BT, dampak jangka pendek tidak menjadi masalah, tapi tren jangka panjang lumayan mengkhawatirkan.

Guy Anker, Managing Editor di Money Saving Expert, mengatakan ada satu benang merah penyebab kemerosotan minat orang menonton televisi lagi."Faktanya jasa streaming semakin marak. Coba liat tren sosial umum di mana generasi muda dan banyak orang di bawah 25 tahun tidak memiliki TV. Internet adalah rajanya sekarang."

Generasi millenial yang masuk kategori 'Z', atau yang lahir setelah 1997, menghabiskan lebih banyak waktu online dibanding menonton televisi. Jasa streaming tersedia dimana-mana dan banyak yang menawarkan kualitas tinggi sama seperti TV reguler, dan seringkali secara cuma-cuma. Ini adalah persoalan serius bagi 5 juta warga Inggris dewasa yang kabarnya cuma punya simpanan kurang dari £10 setelah semua tagihan bulanan penting dilunasi. Anker menambahkan bahwa meningkatnya persaingan antara Sky dan BT, menyebabkan kenaikan harga bagi konsumer. Sama seperti properti, ketika biaya bulanan semakin tidak terjangkau, orang-orang akan berhenti berlangganan.

Jadi pertanyaan besarnya adalah: apabila tren ini berlanjut, apakah Premier League akan bangkrut? Rob Wilson, pengamat finansial sepakbola di Sheffield Hallam University mengatakan "ketergantungan liga saat ini dengan pendapatan dari TV layak dikhawatirkan. Belum lama lalu ITV Digital bangkrut dan banyak klub di liga-liga rendah tutup buku. Klub-klub bangkrut karena menyesuaikan budget mereka dengan pendapatan dari TV. Ketika dana dari TV tidak datang, klub mustahil bisa membayar utang-utang mereka.

Kejatuhan ITV Digital mungkin sudah banyak yang tidak ingat, tapi perlu disadari bahwa krisis finansial besar selalu diawali oleh riakan-riakan kecil. Kehancuran EPL bisa terjadi apabila kita gagal belajar dari strategi finansial lukratif yang hanya mendapatkan dana dari satu sumber pendapatan.

Bangkrutnya Leeds United juga menunjukkan bahwa tidak ada yang luput dari kehancuran finansial. Kalau Peter Ridsdale bisa meninggalkan klub yang dimilikinya, siapa bilang para konglomerat asing berduit banyak tidak bisa melakukan hal yang sama? £1 milliar yang disuntikkan Roman Abramovich ke dalam Chelsea bukanlah hibahan, tapi sebuah pinjaman. Sheikh Mansour juga telah menghabiskan ratusan juta poundsterling untuk Man City, tapi sadar nilai klubnya juga meningkat jauh lebih tinggi. Kalau secara bisnis klub-klub ini tidak lagi menguntungkan, mereka akan mulai mengepak koper.

Satu-satunya potensi penyelamat, menurut Wilson, adalah pembelian hak tayang internasional, yang mungkin bisa melampaui pemasukan hak tayang domestik dalam jangka pendek. Apabila liga lain mulai menjadi lebih kompetitif, tidak sulit membayangkan Premier League jatuh secepat saat dia bangkit merebut kejayaan.

Follow penulis di akun Twitter @jacknpeat


Baca artikel sepakbola lainnya dari VICE:

Gerakan Ultras Melawan Sepakbola Modern Yang Kapitalistis

Jurnalisme Sepakbola Merusak Makna Breaking News

Merayakan Klub-Klub Sepakbola KW' Paling Legendaris

Tagged:
sky
premier league
Vice Blog
Sepakbola Inggris
jack Peat
BT Sport
Industri Sepakbola
Liga Inggris
Kebangkrutan
Hak Siar