May Day

Beginilah Suasana Gegap Gempita Perayaan May Day di Negeri Sosialis Kuba

Di Kuba, perayaan Hari Buruh lebih berarti daripada hari libur nasional keagamaan.

oleh Ibrahim Richmond
01 Mei 2019, 2:00am

Pawai May Day yang meriah di Havana, Kuba. Semua foto oleh penulis.

Seiring makin terjeratnya manusia modern dalam alam kapitalisme, perjuangan buruh memperoleh haknya bertambah berat saja. Di banyak negara, termasuk Indonesia, tuntutan buruh agar diupah layak sering dicibir. Banyak kelas menengah buruh sebagai pemalas. Atau, dianggap kelompok yang sebaiknya diabaikan saja, karena tenaga mereka bisa digantikan mesin.

Tapi, situasi serupa tak terjadi di Kuba, salah satu negara terakhir di muka bumi yang pemerintahannya masih menerapkan sistem ekonomi sosialisme. Perayaan May Day, yang jatuh tiap 1 Mei, di negara ini lebih mirip karnaval penuh kegembiraan.

Tak ada pemandangan buruh mengepalkan tinju ke udara, sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum proletar atau aksi melempar batu ke gedung-gedung bertingkat. Rakyat Kuba memperingati hari buruh internasional amat meriah. Bunyi vuvuzuela terdengar nyaring. Band salsa tampil untuk meramaikan jalanan Havana sejak pukul 7 pagi.

Aku menyaksikan langsung ribuan orang berkumpul merayakan May Day di Ibu Kota Havana dua tahun lalu. Peringatan internasional ini sudah dirayakan di seluruh dunia sejak akhir abad ke-19, tapi kita sulit mencari bandingan susana gempita seperti di Havana.

Aku berbaur di antara personel militer berseragam yang ikut pawai bersama buruh-buruh lainnya. Mulai dari petani, pegawai pabrik, sampai anggota Parque Zoológico Nacional, alias penjaga taman nasional.

1556659922630-photos-may-day-2016-havana-cuba
1556659996528-photos-may-day-2016-havana-cuba2

Miguel, petugas bar yang berusia 40-an, memberitahuku kalau dia selalu ikut demo setiap tahun. Selain menunjukkan dukungan bagi negaranya, Miguel datang untuk bersua dengan kawan lama. Gelak tawa di sekitar kami mendadak berhenti. Aku telat menyadari kalau aku satu-satunya orang yang mengeluarkan suara. Manusia lain diam, karena lagu kebangsaan Kuba yang menggelegar dari pengeras suara secara otomatis mendiamkan kerumunan. Dengan kikuk aku melepas topi bisbol sebagai sikap hormat. Pawai dimulai kembali ketika “La Bayamesa” selesai dimainkan.

Aku berjalan di antara dua baris demonstran yang memadati boulevard Paseo di kawasan Vedado. Pemandangan itu menggambarkan betapa bangganya Kuba merayakan nilai-nilai sosialisme. Kalian tidak akan menemukan orang yang menunjukkan emosi dan kegembiraan palsu di sini.

Pawai buruh adalah waktunya orang Kuba untuk berpesta. Seorang polisi berusia 50-an yang berdiri di sebelahku asyik merokok cerutu, sambil mengikuti irama salsa. Pasukan anak muda mengayunkan tiang bendera sepanjang dua meter seperti sedang memainkan lasso rodeo.

1556660025396-photos-may-day-2016-havana-cuba3
1556660054050-photos-may-day-2016-havana-cuba4
1556660090894-photos-may-day-2016-havana-cuba5

Semua negara tentu ingin terkesan baik-baik saja, dan kadang mengabaikan kebenaran yang menyedihkan. Laki-laki seperti Miguel biasanya hanya digaji sebesar US$30 (setara Rp427 ribu) per bulan. Fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal di Kuba memang gratis.

Hiburan juga banyak yang disubsidi pemerintah secara besar-besaran. Tetapi, kebutuhan sandang di negara ini bisa menghabiskan setengah gaji tiap orang. Kemiskinan dirasakan di beberapa sudut negara, tanpa ada hambatan dari pers untuk mengkritik kekurangan pemerintah.

Semua orang berharap kondisi Kuba bisa membaik ketika negara ini berdamai dengan AS. Mendiang Fidel Castro semat tidak setuju dengan ide itu.

Dia, bersama adiknya Raul, dan tokoh politik lain di Kuba menyatakan setiap perubahan yang terjadi harus dilakukan secara hati-hati dan tidak mengubah struktur masyarakat. Setidaknya, setelah Fidel mangkat, Raul Castro serius menormalisasi hubungan Kuba dengan AS, atas dukungan Presiden Barack Obama.

1556660121222-photos-may-day-2016-havana-cuba6
1556660145750-photos-may-day-2016-havana-cuba7
1556660166474-photos-may-day-2016-havana-cuba8
1556660201356-photos-may-day-2016-havana-cuba9
1556660226939-photos-may-day-2016-havana-cuba10

Di negara berpenduduk 11 juta jiwa ini, jumlah orang yang datang ke gereja jauh lebih banyak daripada karyawan swasta (kira-kira cuma 400.000 orang). Setidaknya reformasi ekonomi, seiring berakhirnya isolasi internasional, memberi lebih banyak ruang bernapas kepada perusahaan swasta.

Akan tetapi, bagi Fidel dan pendukungnya, revolusi tetap nyata. Masa depan negara mana pun tergantung pada apa yang diinginkan generasi muda. Kuba tak akan berubah, selama anak muda tidak pernah merasa terganggu dengan lambatnya pertumbuhan akses internet dan harga barang impor yang terlampau tinggi.

Aku meninggalkan Plaza de la Revolución setelah ratusan remaja berwajah Che Guevara menyelesaikan pawai, yang kemudian memimpin yel-yel "Viva Fidel, viva la revolución, vive el socialismo."


Tonton dokumenter VICE soal aksi ekstrem pegiat punk di Kuba saat rezim Fidel Castro:


Saat itu masih pukul 10 pagi dan matahari mulai memancarkan teriknya. Sebelum pulang, aku sempat menghentikan remaja 16 tahun bernama Augustine dan meminta izin mengambil fotonya.

Lelaki itu mengenakan celana khaki, baret, dan Aviator. "Pawainya fantastis. Membuatmu merasa kuat," katanya ketika ditanyakan apa pendapatnya tentang perayaan May Day tahun itu.

Sosialisme tampaknya tak akan menghilang begitu saja dari Kuba.

1556660254511-photos-may-day-2016-havana-cuba11
1556660281323-photos-may-day-2016-havana-cuba12
1556660303889-photos-may-day-2016-havana-cuba13
1556660328107-photos-may-day-2016-havana-cuba14
1556660352123-photos-may-day-2016-havana-cuba15

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK