Pandemi Corona

Ngobrol dengan Dokter di Makassar yang Sendirian Tangani 193 Pasien Covid Tanpa Gejala

Kepada VICE, Sugih Wibowo tak mengira niat jadi sukarelawan membuatnya nyaris dua bulan jadi satu-satunya dokter di Hotel Harper. Dia beruntung curhatnya viral. Nakes lain dihantui problem serupa.
04 Juli 2020, 3:38am
Kisah Viral dr Sugih Wibowo di Makassar Sendirian Tangani 193 Pasien Covid Tanpa Gejala
Foto hanya ilustrasi, diambil dari momen perawatan pasien di RS darurat Wisma Atlet Jakarta pada April 2020. Foto oleh Bayu Purnama/via Faisal Irfani

Kisah dr Sugih Wibowo diawali niat sederhana menolong sesama manusia dan menjalankan sumpah dokter yang dia junjung tinggi. Sebelum namanya mencuat hingga menghiasi berbagai media massa, Sugih hanya dokter biasa yang mengabdi di salah satu puskesmas Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Nyatanya, setelah mendaftarkan diri secara sukarela untuk merawat pasien corona di Kota Makassar selama dua pekan, Sugih Wibowo tiba-tiba harus memasuki minggu keenam menjadi relawan medis di Hotel Harper Makassar.

Bersama empat perawat, total ada 193 pasien yang diurusnya di hotel yang diubah pemda sebagai rumah sakit khusus Covid-19 tersebut. Sebagai satu-satunya dokter, Sugih mengaku wajib bersiaga 24 jam mengantisipasi semua keluhan pasien.

Saat diwawancarai VICE, Sugih mengakui dia sendiri yang awalnya mengajukan diri menjadi relawan tenaga kesehatan (nakes) di Makassar saat tawaran datang, seminggu sebelum lebaran. Pada 24 Mei, Sugih diberi tahu kalau tenaganya segera dibutuhkan per 25 Mei alias keesokan harinya. Berangkatlah Sugih ke Makassar dengan bayangan melakukan pengabdian selama dua pekan.

Setelah durasi dua pekan pertama habis, Sugih diminta memperpanjang masa baktinya dua pekan lagi oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maros, yang lantas kembali dia setujui. Masuk pekan keempat, kekecewaan Sugih mulai hadir. Apalagi ketika durasi pengabdiannya diperpanjang secara sepihak tanpa persetujuan.

"Itu masalahnya. Surat tugas saya yang ketiga tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba keluar. Itu yang saya kecewa. Kenapa saya diberikan surat tugas ketiga tanpa pemberitahuan? Saya merasa enggak dihargai," keluh Sugih kepada VICE. Sugih mengaku keluarganya di Maros mulai khawatir terus ditinggal. Sugih meninggalkan istri dan anak yang masih berusia tiga bulan. "Kalau minggu tujuh dan delapan tetap tidak pulang, istri saya menyuruh saya tinggal saja di Harper."

Pengakuan Sugih viral setelah disorot media lokal, dan kemudian berlanjut diangkat berbagai laporan media nasional. Berkat pemberitaan massif itu pula, akhirnya, Dinas Kesehatan Kota Makassar mengumumkan berhasil menemukan relawan pengganti Sugih, pada Jumat 3 Juli 2020.

"Baru hari ini udah tahu [kepastiannya]. Sudah disampaikan sama Kepala Dinas kalau saya enggak lanjut. Sudah ada dokter pengganti saya, Alhamdulillah sekali," ujar Sugih kepada VICE. Saat ditanya apakah dokter penggantinya nanti akan sendirian juga, Sugih mengaku tidak tahu. Dia bilang serah-terima resmi baru dilakukan pada 5 Juli.

Hotel Harper Makassar dialihfungsikan menjadi rumah sakit khusus merawat Orang Tanpa Gejala (OTG). Artinya, seluruh pasien di sana adalah pengidap corona tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit di tubuh. Tugas Sugih secara sederhana adalah mengantisipasi segala keluhan dan gejala yang muncul dari para OTG. Kalau ada yang batuk-batuk atau demam, Sugih bergegas melakukan pertolongan pertama dan segera mengirimnya ke rumah sakit rujukan. Dia bilang, tugas ini amat tidak mudah, apalagi dengan jumlah tenaga medis yang kurang memadai.

"Saya harus standby 24 jam agar keluhan dan gejala yang dialami pasien bisa segera diambil tindakan cepat. Kami enggak mau menyimpan pasien dengan gejala, jadi kalau ada yang sakit sedikit langsung kita rujuk. Sakit kepala, demam, termasuk yang keguguran kami berikan obatnya semampu kami. Setelah menerapkan P3K, kami kirim ke sana [RS rujukan]," urainya.

Saat dikonfirmasi terpisah oleh Kompas.com, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maros Syarifuddin mengklaim, munculnya surat tugas ketiga itu karena mengasumsikan Sugih masih bersedia mengabdi secara ikhlas di Hotel Harper. Syarifuddin berdalih kalau Sugih seharusnya bisa menolak penugasan periode ketiga. Selain itu, Hotel Harper diklaim bukan RS darurat untuk OTG, melainkan karantina terpusat untuk "rekreasi duta Covid-19". Karena itu, dokter yang ditugaskan hanya satu orang.

"Penugasan beliau berdasarkan keikhlasan untuk menjadi relawan dan berkali-kali membuat statement biar seterusnya beliau bersedia bertugas sebagai relawan," kata Syarifuddin.

Pemkab Maros tercatat mempunyai anggaran Rp2 miliar yang masih tersendat penyerapannya khusus untuk insentif para nakes. Sejauh ini, insentif Rp200 ribu per hari itu belum juga cair. Sugih enggan memikirkannya lagi. Sebelum pandemi corona, Sugih sudah biasa menjalankan tugas kemanusiaan untuk bencana.

"Kalau ada [insentif], Alhamdulillah. Kalau enggak ada, alhamdulillah. Di sini saya kerja kemanusiaan saja," tambah Sugih. Memperhatikan kualitas tidur, mengonsumsi madu, serta minum air kelapa adalah cara Sugih menjaga imunitas tubuhnya sembari mengurusi ratusan pasien corona.

Problematika kekurangan nakes untuk menghadapi Covid-19 seperti dialami Sugih, terjadi di beberapa daerah lain. Pada Mei lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkulu melaporkan kekurangan 40 nakes.

"Sekarang kita kekurangan sebanyak 40 orang tenaga kesehatan untuk merawat pasien positif Covid-19 di rumah sakit umum (RSU) Yunus Bengkulu untuk menggantikan tenaga kesehatan yang menjalani karantina mandiri di rumah," kata Kepala Dinkes Bengkulu Herwan Antoni dilansir Beritasatu.

Minimnya nakes terjadi akibat banyak perawat, khususnya di RSU Yunus BEnkulu, terjangkit covid-19 sehingga harus dikarantina lebih dulu. Kasus kekurangan nakes juga terjadi di Karawang, April lalu.

Selain masalah kuantitas nakes, pemerintah juga dianggap lambat mencairkan insentif nakes. Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah Edy Wuryanto mengatakan memang ada juga yang sudah cair, namun besarnya tak sesuai harapan.

"Nakes banyak yang belum menerima bonus. Yang sudah menerima masih di bawah 50 persen. Jumlah yang diberikan malah tidak seperti yang diharapkan. Seperti perawat di Kabupaten Batang hanya dapat Rp900 ribu, Banyumas bisa Rp3 juta, dan Demak bisa Rp1,2 juta," kata Edy kepada Kompas.

"Yang dijanjikan awal itu kalau dokter spesialis Rp15 juta, dokter umum Rp10 juta, perawat Rp7,5 juta, nakes lainnya Rp5 juta itu jumlah maksimal. Tapi mungkin juga angka itu masih kasar setelah dihitung di lapangan ternyata jumlah yang melayani banyak jadi anggaran perlu dihitung ulang. Itu belum dibagi dengan Tim Gugus Tugas."

Sementara Syarifuddin, mewakili Gugus Tugas yang seharusnya membayarkan insentif Sugih, mengakui ada kebingungan soal alur penganggaran insentif serta lembaga mana yang harus mengurus dokumen terkait, menyebabkan proses pencairan terlambat turun.

"Karena 14 hari pertama kami Dinkes Maros menganggap itu kewenangan provinsi, karena program ini adalah kegiatan pemerintah provinsi Sulsel. Dan peserta rekreasi Duta Covid-19 berasal dari 24 Kab/Kota se-Sulsel," kata Syarifuddin.

Per 3 Juli, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut 21.080 nakes telah menerima insentif. Artinya, ini baru mencakup 11,82 persen dari total klaim tenaga kesehatan yang terlibat dalam semua gugus tugas penanganan pandemi di Tanah Air.

"Dari sisi realisasi sudah disampaikan. Insentif nakes itu sampai kemarin ada 21 ribuan. Dan di daerah ada 6.000-an. Kami akan update terus," ujar Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Kunta Wibawa Dasa dilansir Tirto.

Selain insentif, santunan kematian juga sudah dicairkan meski belum semua. Dari 55 nakes yang dilaporkan meninggal, baru 18 orang yang telah memperoleh santunan.