Belajar Bahasa

Ternyata Ada Cara Cerdas Belajar Bahasa Asing Sampai Lancar dari Rumah Saja

Benarkah tanpa jalan-jalan sambil berinteraksi dengan penutur asli bisa membantu kita menguasai bahasa asing? Kata poliglot itu mungkin kok, asal kalian cerdas memasang target.
15 Mei 2020, 9:04am
Tips belajar bahasa asing sendiri di rumah tanpa les dan ke luar negeri pakai duolingo dan lingQ
Sumber foto ilustrasi: Getty / PeopleImages. Kolase oleh VICE. 

Bagi mereka yang beruntung bisa bekerja dari rumah selama swakarantina, ada banyak kegiatan produktif yang bisa dilakukan mengisi waktu luang. Belajar bahasa baru salah satunya.

Belajar bahasa asing sekilas berat banget, karena mempelajari sebuah bahasa baru tentu tidak mudah. Tapi jangan khawatir, menurut penelitian yang baru-baru ini diterbitkan jurnal Cognition, tidak mustahil bagi manusia dewasa bisa fasih menggunakan bahasa lain, biarpun tentunya tidak semudah mereka yang belajar sebelum menginjak umur 18 tahun.

Mengingat kondisi dunia tidak memungkinkan bagi kita untuk bepergian ke tempat baru dan mendengar langsung bahasa asing digunakan, sebuah opsi yang kita bisa gunakan adalah aplikasi pembelajaran bahasa yang mengklaim proses belajarnya mudah dan menyenangkan. Tapi memangnya aplikasi-aplikasi macam ini benar-benar efektif?

Saat ini, salah satu aplikasi macam itu yang paling populer adalah Duolingo. Aplikasi ini menawarkan kursus gratis dalam 30 bahasa yang berbeda. Duolingo menerima lonjakan pendaftaran murid baru sejak pandemi berlangsung. Menurut Kris Broholm, blogger dan podcaster di situs Actual Fluency,"Duolingo adalah aplikasi bahasa terbaik di pasaran saat ini."

Namun jangan salah, biarpun aplikasi ini membuat belajar bahasa baru mudah dan menyenangkan, tentunya ada banyak faktor lain yang membuat kita bisa menguasai sebuah bahasa.

"Aplikasi pembelajaran bahasa kadang memberi orang kesan mereka lebih fasih dari yang sebenarnya," ujar Richard Simcott, seorang poliglot (seseorang yang menguasai empat bahasa atau lebih) terkenal, yang telah mempelajari lebih dari 50 bahasa. "Mempelajari sebuah bahasa itu harus total, sampai ke titik bahasa tersebut menjadi bagian dari dirimu, dan bisa langsung muncul di kepala ketika kamu butuh mengucapkan atau menuliskannya."

Aplikasi bahasa menggunakan teknik repetisi untuk membantu orang menghafal kata-kata dan istilah, tapi tidak memberitahumu seberapa banyak sebetulnya kata-kata yang tidak mereka masukan ke dalam latihan. "Ini bukan hal buruk juga sih," lanjut Simcott, "karena lebih baik bagi seseorang untuk mengira mereka lebih baik dari sesungguhnya agar mereka ada rasa percaya diri untuk terus belajar."

Untuk mendapatkan rasa percaya diri itu di awal, Broholm menganjurkan pemula untuk fokus di kata-kata atau frasa yang dibutuhkan agar mereka bisa mendeskripsikan diri sendiri dan hidup mereka. "Kebanyakan percakapan awal selalu melibatkan informasi yang itu-itu saja kok," ujarnya.

Simcott bilang, kalau kamu ingin bisa menggunakan sebuah bahasa, bahasa itu harus bermakna bagi hidupmu. Ketika orang memulai, seringkali mereka melakukan kesalahan menghafal informasi yang tidak perlu yang seharusnya dipelajari nanti, misalnya menghafal penyebutan kewarganegaraan dari setiap negara atau berbagai macam profesi. Kalau kamu sudah bisa menyebutkan beberapa hal tentang dirimu sendiri, kamu akan merasa percaya diri dan memiliki basis yang kuat untuk meningkatkan kemampuan.

Di era sulit seperti pandemi corona ini, menjaga semangat untuk sebuah proyek jangka panjang seperti mempelajari bahasa baru memang tidak mudah. Cara bagus adalah untuk menetapkan target kecil yang mudah dicapai.

"Kalau satu-satunya targetmu adalah untuk menjadi fasih saat ngobrol, kamu akan kecewa selama berbulan-bulan. Tapi kalau tujuannya memperkenalkan diri ke sebuah bahasa baru, setelah satu sesi kamu akan merasa puas," ujar Broholm. Teknik lain yang bisa kamu coba adalah menciptakan rutinitas dari proses pembelajaran ini. Simcott menyarankan kalian agar memasang kalender pengingat di jam-jam tertentu untuk menandai waktu latihan: "Di titik tertentu, akibat repetisi berulang-ulang, kamu akan terbiasa dengan bahasa tersebut dan menjadikannya kebiasaan."

Tentu saja siapapun dengan akses internet bisa mengakses kurus gratis—Simcott sendiri menawarkan tips dan trik setiap minggu secara cuma-cuma. Film dan video dalam bahasa asing, cerita anak-anak bahkan artikel berita bisa menjadi alat untuk mengasah kemampuanmu. Tapi, jelas Simcott, mengingat apa yang sudah kamu pelajari ketika kamu sedang mengerjakan kegiatan sehari-hari seperti membersihkan rumah atau duduk di bis/kereta juga proses yang penting. “Yang membedakan orang yang sukses belajar bahasa dengan yang tidak adalah seberapa sering mereka memikirkan hasil belajar hingga sesi les berikutnya,” ujarnya.

Kuncinya di sini adalah menemukan cara untuk melatih apa yang baru saja kamu pelajari—dan ini berbeda bagi setiap orang. Misalnya, kalau kamu tipe orang yang belajar secara oral, mungkin akan lebih membantu untuk berbicara keras-keras dan menarasi kegiatanmu seharian, menggunakan kosakata yang kamu telah pelajari.

Kalau kamu tipe orang yang visual, Simcott menganjurkan mencoba aplikasi cuma-cuma LingQ, di mana pengguna bisa membaca cerita dan mempelajari kosakata baru dengan mudah. Buku pelajaran tradisional juga bisa membantu, dan versi Kindlenya tidak mahal harganya. Terakhir, kalau kamu tipe pendengar, fokuslah mendengarkan musik dan podcast dalam bahasa yang kamu coba kuasai.

Bagian tersulit dari mempelajari bahasa baru di tengah lockdown adalah melatih kemampuan berbicaramu, karena kita secara fisik tidak bisa bertemu dengan lawan bicara yang menguasai bahasa yang kamu pelajari. “Tutor satu lawan satu tidak bisa digantikan,” ujar Broholm. Sayangnya jasa tutor bisa mahal, dan di saat sulit ekonomi seperti ini, kebanyakan orang tidak bisa menghabiskan banyak uang untuk sebuah hobi.

Opsi lainnya adalah menemukan grup bahasa online (di Facebook atau seperti di situs Conversation Exchange), di mana kamu secara sukarela memberikan waktumu untuk mengajarkan orang bahasa asing, dan dipasangkan dengan seseorang yang fasih berbicara bahasa yang kamu sedang pelajari.

Namun, Broholm mengatakan sulit untuk menjaga keseimbangan interaksi dua arah ketika ini bebas biaya. Dia merekomendasikan ITalki sebagai "jurus rahasia." Situs ini mengumpulkan orang-orang dari latar belakang bahasa yang berbeda-beda tanpa akreditasi formal yang menawarkan les percakapan dengan biaya per jam.

Terakhir, kamu harus realistis soal ekspektasimu. Biarpun kamu belajar keras, butuh waktu berbulan-bulan setelah lockdown untuk bisa menjadi fasih bicara bahasa asing tertentu. Ada banyak tekanan dari masyarakat untuk mencoba menjadi produktif selama pandemi ini berlangsung, tapi kalau kamu hanya memaksakan diri untuk belajar setiap hari, nanti ujung-ujungnya mentok juga.

"Sebagai manusia dewasa, kita memiliki kemewahan untuk memilih bahasa yang ining kita pelajari, tapi prosesnya harus menyenangkan,” ujar Broholm. Itulah asalan mengapa banyak orang tidak bisa mengingat pelajaran bahasa asing yang mereka terima selama bertahun-tahun di sekolah.

"Kamu bisa menunjukkan ke orang betapa indahnya belajar bahasa lain, tapi tanpa koneksi yang lebih mendalam, sulit membuat seseorang terus belajar secara konsisten."

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK