Opini

Review Lagu 'Jangan Mudik' Dinyanyikan Para Menteri Kabinet Indonesia Maju

Karena dicaci netizen, kami penasaran mengulik musikalitas lagu ini lebih jauh. Apa iya separah itu? Lagian, kenapa pemerintah yakin sih lagu efektif mempengaruhi niat orang tidak mudik?
19 Mei 2020, 8:24am
Viral Menteri-Menteri Kabinet Indonesia Maju Nyanyi Lagu 'Jangan Mudik' akun Kemenaker
Screenshot nyanyian menteri di lagu 'Jangan Mudik' dari akun Twitter Kemenaker RI

Kami mencoba obyektif ketika menyaksikan caci maki menimpa lagu imbauan jangan mudik yang dirilis akun Twitter Kementerian Tenaga Kerja pada 18 Mei 2020. Kurang dari 24 jam dibagikan, video klip lagu rilisan 'Oligarchy Records' tersebut telah dibagikan lebih dari lima ribu kali dengan hampir lima ribu komentar.

Isi kolom komentarnya, jangan ditanya. Sungguh amat sangat mengocok perut....

Kalau cuma disimak sekilas, sepertinya semua orang sepakat polisi tidur pun bisa bangun dan mencak-mencak kalau mendengar lagu ini. Tapi kami tergugah untuk objektif, bagaimanapun ini karya seni dari label besar dengan respons masyarakat yang besar pula.

Apa iya karyanya seburuk itu? Menggunakan teknik resensi musik yang dikarang-karang sendiri, begini hasil review atas kualitas lagu “Jangan Mudik”, karya terbaru dari Kemnaker featuring Menteri-Menteri cringe.

Kualitas Lirik

“Jangan mudik, jangan mudik dulu. Enggak mudik, tetap asik.”

Tamat. Inti liriknya hanya sepenggal kalimat ini. Sederhana dan mudah diingat. Konsep repetisi lirik emang lumayan populer dan bisa kita jumpai di lagu modern kayak “I Just Wanna Say I Love You” milik Potret atau “Hagia” milik Barasuara. Tujuan lirik seperti ini biasanya ada dua: lebih mudah diingat sekaligus lebih efektif menanamkan dalam-dalam pesan, doktrin, atau tujuan apa pun si pembuat lirik kepada pendengar. Bisa jadi, pencipta lagu “Jangan Mudik” menginginkan tujuan yang sama. Selain lagu jadi lebih mudah diingat, pendengarnya diharapkan tidak jadi mudik biar tetap asik.

Di sinilah masalah utama muncul. Lirik mengulang ini tidak masuk akal. Apa coba cita-cita dari kalimat “asik meski tidak mudik”? Persuasi macam apa yang menjadikan keasikan sebagai rayuan utama sebuah kebijakan? Emangnya orang yang mudik itu peduli saat dicap enggak asik? Mereka kan mudik karena kangen keluarga, bukan mencoba fit in di pergaulan sosialita.

Masalah laten lain, ada variasi lirik bahasa Jawa ketika lagu dinyanyikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kemnaker Ida Fauziyah, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Saya tahu pemudik mayoritas berasal dari Jawa, tapi sebagai bagian dari pemerintah pusat, bikin konten ya harus sensitif dong sama keberagaman. Ada 668 bahasa daerah di Indonesia, kenapa enggak dinyanyiin semua? Selain lebih Bhinneka Tunggal Ika, staf khusus dan wakil menteri kan jadi bisa kebagian panggung juga. Kalau butuh contoh, Eka Gustiwana udah bikin dari jauh-jauh hari.

*Skor: Tulus enggak tulus ngasih nilai untuk lirik lagu ini.

Kualitas Musik

Lagu “Jangan Mudik” dimainkan dari nada dasar “D” dengan progresi sederhana I-II-V-I alias D major, E minor, A dominanth, dan kembali ke D major selama masing-masing satu bar. Sayang, progresi pop sederhana yang sebenarnya enak-enak aja ini menjadi super membosankan karena selama hampir satu menit, tidak ada variasi bagian lagu yang terjadi. Kita kayak mendengarkan bagian refrain terus atau verse terus-terusan. Contoh, lagu “I Just Wanna Say I Love You” milik Potret saja terlihat jelas format lagunya. Rasa bosan makin memuncak karena tidak ada dinamika yang dibangun oleh musik sebagaimana yang Barasuara lakukan pada “Hagia”.

Ritmis musik seakan-akan dibuat dengan ritmis drum dan bass default dari preset keyboard yang sudah tersedia, menandakan produsernya pemalas atau tidak dibayar pantas. Entakan bebunyian keyboard beritmis ska dimaksudkan membuat pendengar bergoyang. Sayang, posisi chord yang berada pada ketukan up seperdelapanan layaknya musik ska malah bikin para menteri kebingungan bernyanyi dan berujung rekaman dengan tempo awur-awuran. Tapi, poin plus saya sematkan pada melodi synthesizer di awal dan akhir lagu yang cukup catchy, meski kalimat latar “ Y eah, come on!” sebelum lirik dimulai sungguh-sungguh memuakkan. Poin plus saya tarik kembali.

*Skor: Erwin Gutawa sepertinya bakal takluk mendengar aransemen ini.


Selama saya menulis resensi ini, ada satu detail video tersebut yang terus terpikirkan. Kalau Anda melihat di awal video, Anda akan menemukan wajah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil hadir di sana. Namun, saat lagu mulai dinyanyikan, mereka berdua hilang dan tidak mendapatkan bagian muncul.

Kemungkinan fenomena ini cuma dan cuma dua. Pertama, mereka bernyanyi lebih buruk daripada menteri yang muncul di video sehingga tak layak tayang. Atau kedua, dan ini lebih buruk: akan hadir video “Jangan Mudik” bagian kedua.

TIDAAAAAAAAAKKK!!!!!