Coronavirus

Selain Tenaga Medis, Pengubur Jenazah Pasien Corona Ikut Terancam Krisis APD

Ada perawat di Indonesia terpaksa memakai jas hujan, karena distribusi alat pelindung diri belum merata. Tanpa APD memadai, dokter menyebut tugas merawat pasien COVID-19 sebagai "misi bunuh diri."
26 Maret 2020, 6:49am
Jumlah APD Tak Merata Ancam Pengubur Jenazah dan Tenaga Medis Indonesia Saat Pandemi Corona
Tenaga medis memasang baju pelindung diri sebelum merawat pasien positif COVID-19 di Jakarta. Foto oleh Hafidz Mubarak A via AFP

Seorang pasien positif COVID-19 ditolak proses pemakamannya oleh warga sekitar Pemakaman Bingbin, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Warga takut ikut tertular hanya karena sang pasien dikubur dekat tempat tinggal mereka. Penolakan terjadi pada Senin (23/3) malam, melibatkan puluhan warga.

"Ada 30 orang yang kumpul. Mereka takut tertular virus corona dari yang dikubur itu. Ya, tadi kami memang melihat ada pesan berantai yang mengatasnamakan Lurah Serpong Iing Solihin. Pesan itu bertuliskan bahwa TPU di kawasan itu dijadikan tempat pemakaman pasien corona," kata Kiki, warga sekitar, kepada Suara.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie kemudian meminta warganya tidak mengkhawatirkan soal penularan karena pasien yang udah meninggal dianggap enggak berbahaya buat sekitar. "Saya belum dapat info itu [soal penolakan], tapi saya berharap tidak terjadi seperti itu. Saya sampaikan kepada warga bahwa pasien yang dimakamkan aman buat lingkungan, tidak akan menularkan wabah ke warga," yakin Benyamin.

Pertanyaan langsung timbul dong: benarkah jenazah pasien corona tidak bisa lagi menularkan virus?

Peraturan yang dibuat pemerintah nyatanya berkata sebaliknya. Lewat situs resminya, Kementerian Agama (Kemenag) telah merilis tata cara pemakaman jenazah terduga atau positif corona yang cukup ketat. Misalnya, jenazah yang dikubur harus diberi jarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum, lokasi penguburan juga harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman terdekat.

Lalu, jenazah dikubur setidaknya pada kedalaman 1,5 meter dan ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Tanah perkuburan pun harus diurus dengan hati-hati. Jika terdapat jenazah lain yang hendak dikubur, jenazah tersebut sebaiknya dikubur di area terpisah.

Menurut tata cara penanganan jenazah pasien terduga maupun positif corona dari RSPI Sulianti Saroso, siapa pun yang ingin menangani jenazah pasien COVID-19 harus mempunyai Alat Pelindung Diri (APD) memadai semisal baju rawat sekali pakai, jumpsuit sekai pakai, sepatu bot setinggi lutut, penutup sepatu, celemek plastik sekali pakai, dan sarung tangan tahan potong.

Sayang, banyak pihak di garis depan tidak semua punya stok APD yang mumpuni untuk merawat jenazah. Di Kendari, tim dokter RS Bhayangkara sampai harus menggunakan mantel hujan untuk mengevakuasi dan memakamkan jenazah pasien terduga Covid-19.

"Mau diapakan lagi, kami harus bertindak cepat. Mengurus jenazah secepatnya karena jika memang positif corona, agar tak menginfeksi orang lain di sekitar," kata Dokter RS Bhayangkara Kendari Kompol dr. Mauluddin kepada Liputan6.

Boro-boro punya APD yang lengkap buat memakamkan. Kondisinya saat ini, semua rumah sakit di Indonesia lagi kekurangan APD bahkan untuk menangani pasien. Salah satu rumah sakit rujukan pemerintah untuk penanganan Covid-19, RSUD Prof. W.Z. Johannes di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya. Tya, dokter di TS tersebut, mengaku pihaknya kekurangan APD. Selain APD, mereka juga kekurangan alat seperti viral transport medium (tabung untuk membawa sampel yang akan diperiksa) dan thermal gun.

RSUD Jailolo Kabupaten Halmahera Barat mengalami situasi serupa. Maria Oratmangun, perawat rumah sakit, mengaku saat ini tempatnya bekerja sedang kekurangan disposable gown, googles, dan hand sanitizer. Meski RSUD Jailolo bukan rumah sakit rujukan pemerintah, tapi nyatanya ada banyak pasien bergejala Covid-19 yang terus datang ke rumah sakit. Kekurangan APD juga tercatat di Makassar, Sukabumi, Yogyakarta, dan Pangkalpinang.

Krisis APD untuk tenaga kesehatan adalah masalah terbesar yang dihadapi di tengah pandemi virus corona. Permasalahannya bukan pada uang untuk membeli, tetapi kemampuan produksi di seluruh dunia saat ini tak mampu memenuhi semua permintaan.

"Masih banyak keluhan mengenai yang berkaitan dengan kelangkaan APD. Perlu saya sampaikan bahwa sekarang ini 180 negara kurang lebih semuanya berebutan untuk mendapatkan baik itu APD, masker, sanitizer, semuanya," terang Presiden Jokowi, awal pekan ini. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, rumah sakit, usaha swasta, dan pemerintah mulai berinisiatif memproduksi APD sendiri.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Hanif Fadhillah mengatakan, Covid-19 udah menyerang 20 provinsi. Ia berharap pemerintah dapat menyalurkan APD secara lebih proporsional. Per 23 Maret 2020, pengadaan APD masih fokus didistribusikan utuk kawasan DKI Jakarta dan Bali saja.

Situasi luar biasa saat ini membuat pemakaman pasien terkait Covid-19 menjadi upacara yang sepi. Di Sidoarjo, pemakaman pasien positif berlangsung dalam sepi dan sempat membuat penggali kubur takut untuk membantu.

"Mau tidak mau, saya yang harus mendatangi mereka [penggali kubur yang pergi] dan memberi keterangan bahwa kami membutuhkan bantuannya. Pemakaman aman karena kita menjalankan SOP yang berlaku. Hingga harus meyakinkan bahwa saya sendiri juga ikut bersama-sama memakamkan jenazah tersebut, dan alhamdulillah mereka mengerti dan mau. Jadilah 5 orang yang ikut menurunkan jenazah tersebut yaitu saya, ketiga penggali, dan dr. Atok," tulis Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin di Facebook-nya.

Dari Kolaka, Sulawesi Tenggara, sebuah video penanganan jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 viral dan memicu kemarahan di internet. Keluarga menolak mematuhi prosedur penanganan jenazah dari rumah sakit, lalu nekat membawa pulang jenazah dengan menggunakan mobil sendiri. keluarga juga membuka plastik kedap udara yang membungkus mayat. Dalam video yang viral, tampak anggota keluarga menciumi jenazah di dalam rumah yang dipenuhi pelayat.

Di tengah pandemi yang semakin memburuk, kontribusi sekecil apa pun menjadi berarti. Sementara tenaga kesehatan berjuang menyelamatkan pasien yang telah sakit, orang-orang yang sehat juga dapat membantu tenaga kesehatan yang tengah kekurangan APD agar tak menghadapi tantangan lebih berat.

Mematuhi protokol kesehatan memang sulit, tapi mestinya pesan dr. Tya di NTT bisa meruntuhkan ego kita. "Buat ini perang yang bisa kami menangkan, bukan misi bunuh diri. Terima kasih."