Sains

Pemakai Ganja Sering Kepedean, Mengira Mariyuana Mujarab Sembuhkan Segala Penyakit

Penelitian baru menunjukkan pemakai ganja agak berlebihan menilai manfaat medis kanabis.
03 Februari 2020, 5:45am
Ilustrasi orang ngevape di pantai
Foto oleh Ulrich Trappschuh via Getty Images

Bagi pothead, enggak ada yang bisa menghentikan mereka nyimeng. Bahkan saat kondisi tubuh kurang fit sekalipun. Yang ada, mereka malah beranggapan merokok ganja justru menyembuhkan penyakit. Tapi apa benar?

Awal Januari lalu, studi terbitan American Journal of Health Promotion membuktikan orang yang kelewatan pro-mariyuana memiliki pandangan berlebihan tentang manfaat medis tanaman ini.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti dari University of Buffalo melaksanakan survei terhadap pengunjung Ann Arbor Hash Bash—festival mariyuana tahunan yang diadakan sejak demonstrasi pro-kanabis pada 1972. Sekitar 500 pengunjung acara diminta menjawab kuis yang menguji wawasan mereka tentang ganja, dari mana mendapatkan informasi tersebut, dan penyakit apa saja yang bisa disembuhkan mariyuana.

Hasilnya menunjukkan ada kesenjangan besar antara wawasan peserta dengan informasi yang diberikan Akademi Sains, Teknik dan Kedokteran Nasional AS (NASEM). Mayoritas responden percaya kanabis dapat menyembuhkan epilepsi, depresi dan beberapa jenis kanker. NASEM menyebut pandangan ini belum disertai bukti ilmiah.

“Ada perbedaan besar antara wawasan pemakai ganja dan bukti yang tersedia, menyoroti betapa perlunya penelitian dan edukasi lebih lanjut,” studi menyimpulkan. Kita enggak bisa menyangkal ini, karena faktanya memang ada banyak sekali informasi yang saling bertentangan mengenai manfaat dan risiko ganja. Akan sangat menghabiskan waktu bagi para pendukung mariyuana untuk menguraikannya.

Namun, sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan peneliti, responden enggak sepenuhnya keluar jalur. Mereka menarik kesimpulan tersebut dari pengalaman pribadi, bukan data medis. “Mariyuana masih tergolong zat Schedule I, sehingga ilmuwan dilarang melakukan uji klinis yang diperlukan untuk menginformasikan kesimpulan NASEM dengan benar,” bunyi pernyataan.

Meski pengalaman anekdot pemakai enggak bisa dijadikan dasar kuat untuk pengetahuan medis, hal itu tetap menjadi pilihan berhubung ada hambatan struktural yang menghalangi ilmuwan mempelajari kanabis. Enggak menutup kemungkinan orang yang sudah puluhan tahun berhubungan dengan tanaman ganja memiliki pemahaman lebih dari penelitian yang disetujui pemerintah.

Penderita PTSD dan orang tua yang anaknya mengalami autisme adalah dua kelompok pendukung mariyuana medis terkuat, meski manfaat yang mereka yakini belum memiliki bukti ilmiah yang “cukup”.

Jadi, benarkah ngeganja mujarab menyebutkan segala penyakit? Tentu tidak. Tapi selama uji klinis belum dilakukan, kita takkan bisa membuktikan manfaatnya. Satu pelajaran yang bisa kuambil dari para pothead, kurangnya bukti takkan menghentikan pendukung kanabis mempromosikan khasiat tanaman ganja.

Follow Katie Way di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.