Sains

Kalian Kini Bisa Mendengar Suara Mumi Pendeta Mesir Kuno dari 3.000 Tahun Lalu

Peneliti berharap suara kuno semacam ini dapat dijadikan bahan pembelajaran atau dipajang di museum.
27 Januari 2020, 10:14am
Kalian Kini Bisa Mendengar Suara Mumi Pendeta Mesir Kuno Nesyamun dari 3.000 Tahun Lalu
Makam Nesyamun. Sumber: Leeds City Museum 

Para engineer baru saja mensintesis suara mumi pendeta Nesyamun yang hidup 3.000 tahun lalu di kota Thebes, Mesir Kuno.

Diterbitkan dalam Scientific Reports, hasil penelitian mereka mencakup simulasi singkat Nesyamun melafalkan suara vokal. Meski bisa dibilang, mumi itu kedengarannya tidak senang sama sekali diusik setelah tiga milenium tertidur.

Nesyamun hidup, mati dan dimumikan pada masa pemerintahan Ramses XI sekitar 11.000 SM. Tubuhnya, yang diawetkan dengan rapi, masuk koleksi Museum Kota Leeds sejak 1.800-an. Walau lidah dan langit-langit mulut telah membusuk, sebagian besar jaringan lunak di saluran vokal Nesyamun masih utuh.

Kenapa sintesis suaranya baru terdengar sekarang? Alasannya karena rekaman tersebut berfungsi sebagai “bukti metode” dan “menunjukkan potensi penelitian masa depan”, menurut para peneliti. Dibutuhkan kalimat lengkap yang diucapkan terus-menerus untuk menghasilkan sampel audio “kalimat utuh”. Oleh karena itu, para engineer harus memasukkan rincian-rincian ambigu seperti pola fonetik dan bicara Nesyamun.

“Konsepnya terbukti berhasil. Dengan begitu kami bisa beralih mengamati pemodelan komputer pada saluran vokal,” bunyi email penulis John Schofield, arkeolog di University of York.

“Dari situ, kami berharap bisa bergerak maju ke kata-kata dan ucapan,” imbuhnya.

Dengan saluran vokal tersebut, tim Schofield menghasilkan reproduksi digital terperinci dari anatomi mulut Nesyamun menggunakan teknik non-invasif yang disebut pemindaian computed tomography (CT).

Mereka mencetak saluran vokal Nesyamun secara tiga dimensi dan memasangkannya dengan laring elektronik, alat yang sering digunakan untuk mensintesis ucapan penderita sakit tenggorokan atau laring supaya lebih jelas. Hasilnya yaitu simulasi suara yang terakhir kali didengar di Bumi pada Zaman Besi awal.

Schofield dan rekan menyoroti penerapan tekniknya untuk kepentingan publik, dan memajang suara kuno di museum atau menjadikannya bahan pembalajaran.

“Kami juga tertarik menerapkan pendekatan ini pada jasad manusia lain yang jaringan lunaknya masih bagus di rongga mulut, dan bisa diakses untuk kepentingan studi melalui pemindaian,” ujar Schofield.

Selain untuk kepentingan manusia modern, tim Schofield juga berspekulasi bagaimana reaksi Nesyamun terhadap studi ini—mengingat dia tampak menganut keyakinan Mesir kuno bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali jika dipanggil namanya.

“Tugas ritualnya sangat bergantung pada suara dia, baik melalui pidato maupun nyanyian,” tulis peneliti. “Mengingat Nesyamun berkeinginan agar terus didengar meski dia sudah mati, sintesis fungsi vokal dapat memenuhi keinginannya.

Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan kontak langsung dengan Mesir kuno dengan mendengarkan suara dari saluran suara yang tidak terdengar selama 3.000 tahun lebih. Suaranya diawetkan melalui mumifikasi dan dipulihkan kembali melalui teknik baru ini.”

Kayaknya cocok nih kalau suaranya diangkat jadi film tentang mumi.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard