Perubahan Iklim

Kebakaran Hutan di Australia Makin Parah, Warga Ramai-Ramai Berlindung di Pantai

Asap kebakaran membentuk awan raksasa menghasilkan petir dan "serangan bara", sehingga memicu kebakaran lebih luas. Ketika di Indonesia kita sibuk sama banjir, Australia dipusingkan kebakaran.
02 Januari 2020, 6:08am
Foto pemadam kebakaran yang berusaha menyelamatkan rumah-rumah dari kobaran api
NSW Rural Fire Service mengunggah foto petugas pemadam kebakaran yang berusaha menyelamatkan rumah-rumah di sekitar Charmhaven, New South Wales pada 30 Desember 2019. (Twitter@NSWRFS via AP)

Langit di sepanjang pantai tenggara Australia berubah merah darah akibat kebakaran hutan hebat yang melanda Australia sejak beberapa pekan terakhir. Ribuan warga terpaksa melarikan diri ke pantai pada Selasa.

Dilansir BBC, Australia mengerahkan pesawat dan kapal militer untuk membantu penanganan darurat di New South Wales (NSW) dan Victoria. Setidaknya dua warga NSW tewas, menambah jumlah kematian menjadi 12 orang.

Menjelang tahun baru, kota pesisir yang indah berubah menjadi hamparan asap. Sedikitnya 4.000 orang di kota Mallacoota kabur ke pantai untuk menghindari kebakaran. Beberapa bahkan sampai berlindung di atas kapal.

Tidak ada tempat lain,” kata warga Mallacoota Jason Selmes kepada CNN.

Sekitar 402 kilometer dari selatan Sydney, penduduk Teluk Batemans duduk di kursi lipat dengan sekoci di dekatnya untuk berjaga-jaga.

“Ratusan hingga ribuan penduduk di wilayah pesisir mencari perlindungan ke pantai,” ujar Komisaris Rural Fire Service NSW, Shane Fitzsimmons, menurut BBC.

Foto dan video viral menunjukkan langit merah akibat sinar matahari yang tertutup penuh. Besarnya asap kebakaran membentuk “awan pyrocumulonimbus” — awan badai lokal yang terbentuk dari peningkatan suhu udara panas yang cepat. Petir dan serangan bara dari awan raksasa gelap semakin memperparah kebakaran.

Kapal militer disiapkan untuk mengevakuasi warga dari pantai, sementara ribuan orang lainnya telantar di pusat evakuasi. New York Times melaporkan puluhan ribu rumah mengalami pemadaman listrik.

Senin dan Selasa kemarin menjadi dua hari paling mengerikan dalam kebakaran musim panas panjang di Australia. Suhu tinggi, kekeringan berkelanjutan, dan angin kencang memicu kebakaran selama berminggu-minggu. Masih ada beberapa bulan lagi sampai musim panas berakhir.

Robert Salway (63) dan putranya Patrick (29) tewas Selasa saat mempertahankan rumah mereka di kota Cobargo di sepanjang pantai tenggara Australia. Petugas pemadam kebakaran sukarela bernama Samuel McPaul (28) gugur pada Senin gara-gara truknya terguling selama “badai api” di dekat perbatasan NSW dan Victoria.

Fitzsimmons menyebut musim panas ini “adalah musim kebakaran terburuk di negara bagian NSW.”

Secara keseluruhan, kebakaran menghanguskan 900 rumah dan jutaan hektar lahan. Tak hanya itu, 500 juta hewan mati karenanya. Kebakarannya belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, dan tampaknya malah semakin parah akibat perubahan iklim.

“Warga kehilangan rumah dan pertaniannya. Ada juga yang tewas,” James Findlay, warga Teluk Batemans yang rumahnya habis dilahap si jago merah, memberi tahu New York Times. “Ini seharusnya sudah cukup menyadarkan untuk bertindak lebih.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Iklan