VIDEO GAME

Ada Kemungkinan Video Game Jadi Cabang Olahraga Olimpiade

Bayangkan komentator TV nanti bilang, "kita saksikan kontingen tenis, senam, maraton, basket, dan...Overwatch?"
10 Agustus 2017, 11:41am
Screenshot via YouTube

Tony Estanguet adalah wakil ketua panitia pengajuan Paris sebagai tuan rumah Olimpiade. Dia bikin pernyataan mengejutkan. Tony bilang, umat manusia berpeluang menyaksikan video game menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan—seperti Bola Voli, Bulutangkis dan Sepakbola—dalam gelaran Olimpiade musim panas 2024.

Ketikadiwawancarai kantor berita Associated Press pekan ini, Estanguet mengaku sedang menggelar pembicaraan bersama perwakilan esport dan Komite Internasional Olimpiade. Tujuan diskusi ini adalah menimbang peluang memasukkan video game sebagai salah satu cabang olahraga dalam Olimpiade 2024 mendatang.

Kendati belum secara resmi ditunjuk sebagai tuan rumah, Paris dipastikan menjadi tempat penyelenggaraan Olimpiade 2024, karena saingan terberat mereka, Los Angeles, menangguhkan proses pengajuan untuk ajang empat tahun berikutnya.

"Kita harus menimbangnya benar-benar," ujar Estanguet. "Sekarang kita tak bisa lagi bilang 'esport bukan bagian dari aktivitas olahraga manusia dan tak ada urusannya dengan Olimpiade'. Generasi muda saat ini sangat tertarik dengan esport dan semacamnya. Maka dari itu, ayo kita timbang lebih seksama. Ayo kita temui para pelaku esport. Mari kita coba barangkali kita bisa menjembatani mereka."

Pernyataan Estanguet tak bisa dibilang sok antimainstream. Anak muda di berbagai negara sekrang memang benar-benar keranjingan menonton pertandingan video game lewat layanan streaming. Twitch, situs streaming esport terbesar di dunia, setidaknya ditonton 100 juta orang tiap bulan. Turnamen video game juga tak kalah sepi. Pada 2015, pertandingan final turnamen dunia League of Legend di Jerman ditonton 36 juta orang lewat siaran livestream. Itu belum termasuk maniak game yang datang langsung ke sebuah stadion di Berlin untuk menonton pertandingan bergengsi itu.

Meski esport tak "mirip" olahraga betulan yang butuh kebugaran fisik tingkat tinggi, dalam banyak aspek lainnya, esport dan cabang olahraga biasa ternyata enggak beda-beda amat—kampiun kompetisi esport membawa pulang uang dalam jumlah yang besar, bintang esport diperlakukan bak pesohor, rivalitas antar tim esport sangat sengit, dan porsi latihan para gamer sangat ketat; intinya tak jauh berbeda dari yang diterima atlet pelatnas. Malah, perkembangan terbaru menunjukkan asosiasi olahraga tradisional ketakutan akan perkembangan esport yang luar biasa massif dari segi popularitas.

Di Australia misalnya, Australian Football League telah mengutarakan ketertarikan mereka untuk menyiarkan pertandingan sepakbola Australia lewat Twitch. Harapannya, mereka bisa mencapai penonton dalam rentang usia yang lebih muda.

Meski turnamen esport mampu mendatangkan jutaan penonton, menyelenggarakan kompetisi esport bersamaan laga sport beneran masih terhitung langka. Namun bukan berarti tak mungkin. Buktinya, Asian Games—gelaran kompetisi olahraga antara negara Asia—sudah lebih dulu menjanjikan bakal menampilkan video game sebagai salah satu cabang olah raga di tahun 2022. Jika Olimpiade Paris bisa mengikuti langkah ini, tim esport tuan rumah kemungkinan besar akan untung besar. Tahun lalu, pemerintah Perancis mengumumkan rencana meregulasi kontrak olahragawan esport layaknya atlet profesional.

Walaupun rasanya pasti aneh menonton siaran langsung pertandingan esport di Olimpiade, kebijakan menyertakan video game dalam ajang olahraga terbesar sedunia adalah langkah alami merespons pergeseran cara anak muda menonton pertandingan olahraga; rating tayangan TV Olimpiade Rio lalu turun drastis, sementara jumlah penonton online meningkat pesat.

Sampai saat ini belum ada kepastian game apa yang bakal dipertandingankan dalam Olimpiade. Sama seperti belum ada kepastian apakah pemain yang mati dalam game mengalami nasib yang sama di dunia nyata.

Follow Kat di Twitter